04
Nov
09

Everyday in “Kampung” Pulo kambing Rw 2 Jatinegara Cakung Jakarta Timur

Kampung Pulo kambing adalah sebuah kampung ditepian Perindustrian Pulo Gadung Jaktim yang kebanyakkan penduduk lokal dan pendatangnya bekerja sebagai pengrajin furniture rumah tangga. Sebagian sisanya berkerja pada PT-PT di kawasan perindustrian Pulo gadung tersebut, buruh, pedagang dan sebagainya.  Nama  Kampung “Pulo kambing” itu sendiri kemungkinan dikenal akibat waktu dahulu banyak kambing di wilayah ini. Ada beberapa warga yang memelihara kambing bahkan sapi di sekitar rumahnya. Namun hal tersebut semakin hilang ketika saya masuk SMP yaitu sekitar tahun 2001

Kehidupan setiap harinya dijalankan oleh bapak-bapak yang  bekerja sebagai pengrajin furniture seperti tukang kayu dan tukang plitur. Selain itu ada juga yang bekerja sebagai buruh angkut lemari yang bertugas untuk menyusun lemeri-lemari ke mobil angkut dengan posisi yang ideal sehingga bisa muat banyak. Pekerjaan ini disana disebut tukang Kretek.  Selain itu ada yang bekerja mencabuti paku dari kayu-kayu bekas, memotong kayu, dan triplek. Selain itu, juga ada yang bekerja sebagai karyawan pabrik, pedagang makanan (mayoritas siomay), tukang odong-odong, tukang ojek dan sebagainya. Mereka bekerja hari senin- jumat, akan tetapi ketika akhir pekan  adapula  beberapa orang yang bekerja mengharapkan uang lembur tambahan.Pada saat jam istirahat, para pekerja makan siang di warung-warung sehingga warung menjadi sangat ramai. Bapak-bapak bertemu dan saling mengobrol sambil merokok dengan bapak-bapak lainnya hingga kira-kira jam 2 siang. Terkadang ada warung yang sengaja mengantarkan makanan ke tempat kerja bapak-bapak tersebut, sehingga mereka makan lesehan di tempat kerjanya. Warung dan tempat kerjanya menjadi ruang komunal yang settle bagi bapak, pengrajin furniture saat istirahat.

Ibu-ibu yang rata-ratabekerja sebagai  ibu rumah tangga, mengurusi anak dan suami. Keunikkan dari ibu-ibu disana adalah mereka memasak 1 kali untuk 1 hari penuh. Mereka mulai memasak pagi-pagi, bahkan ada yang pagi-pagi sekali. Jadi ketika ada ibu yang berbelanja ditukang sayur pukul 8 pagi, maka sudah dipastikan hampir semua sayur-sayuran, ikan, tempe tahu, cabai dan sebagainya sudah hampir habis. Setelah memasak ibu-ibu biasanya berkumpul dengan ibu-ibu lainnya di pos atau di teras rumah yang cukup luas, di bawah pohon  dengan mengambil tempat duduk-duduk yang portable seperti dingklik dan menghabiskan waktu untukk mengobrol, menyuapi anak, menonton televisi dan sebagainya. Ibu-ibu kan bergantian pulang ketika waktu shalat telah tiba atau ada pekerjaan lainnya misalnya menyetrika. Untuk ibu-ibu yang tinggal dikontrakkan, biasanya setelah mereka selesai memasak, mereka akan duduk-duduk didepan pintu mengobrol dengan tetangga kontrakkan lainnya yang juga duduk didepan pintu. Sehingga pada gang kecil kontrakkan, muncul ruang komunal dari kegiatan ibu-ibu tersebut. Selain itu, pos, teras , dan dibawah pohon juga merupakan ruang komunal bagi ibu-ibu. Selain itu pada hari senin  dan kamis, ibu-ibu  pergi kepengajian yang berada di Mushalla As Sholihin untuk mengikuti pengajian dan arisan pengajian.

Dapur ibu-ibu yang mempunyai rumah seperti dapur biasa yaitu di belakang rumah. Terkadang ibu-ibu yang lain ketika datang langsung ke dapur dan mengobrol disana. Namun untuk ibu –ibu yang tinggal di kontrakkan , dapur mereka berada didepan pintu rumah mereka. Mereka memasak di gang kontrakkan mereka. Dapur bertemu dengan dapur lainnya membuat suasana semakin panas namun akrab. Namun hanya sedikit kesenjangan social antara ibu-ibu kontrakan dan ibu-ibu rumah. Jenis kontrakkan disana kebanyakkan kontrakkan 1 kamar, jarang sekali 2 kamar.

Anak –anak pada saat setiap harinya pergi kesekolah yang biasanya tidak jauh dari rumah mereka seperti SD 10, 03 dan 05 pagi. Setelah pulang sekolah mereka bermain disekitar rumah. Namun pada saat weekend, anak-anak sering keliatan di sekitar pos. Mungkin dikarenakan di sekitar pos ramai sehingga mengundang perhatian mereka.ibu. Anak-anak bermain di banyak titik seperti  dekat pos, di jalan, di gang, dilapangan , didepan mushalla, bawah pohon, dan sebagainya . Mereka bisa bermain apa saja; petak umpet, bentengan, minta jongkok, galaksin, gambaran , bahkan terkadang main karet bagi anak perempuan.

Pada weekend, suasana ruang komunal saat weekdaysnya semakin ramai kala siang hari. Pada saat pagi hari, para warga kebanyakkan berjalan-jalan ke ara pasar kaget disebut Gudang untuk mencari hiburan dan berbelanja. Gudang menjadi ruang public untuk semua usia. Gudang sendiri terletak di pinggir perindustrian Pulo Gadung.   Selain ke Gudang, biasanya bagi bapak-bapak dan remaja disana menggunakan sekeliling Area Gudang sebagai jogging track.  Siang hari menjelang, bapak-bapak suka menghabiskan waktunya untuk berkumpul dengan bapak-bapak lain di Pos, menonton tinju, formula one, GP, dsb. Ibu-ibu juga di ruang komunalnya dan anak-anak bermain di banyak titik seperti weekdays.

Keberadaan Pos di kampung Pulo kambing ini mengalami perubahan  arti. Pos disini adalah sebuah tempat berkumpul  yang kebanyakkan bangkunya berupa bale-bale.  Dahulu Pos digunakan sebagai tempat bapak-bapak ronda pada malam hari dan pada siang harinya terlihat sepi dan terdapat pentungan. Namun seiring dengan waktu dan banyaknya warga pendatang di Pulo Kambing, pos tidakklah sekadar pos biasa, ruang komunal biasa. Perkembangan makna pos itu sendiri bagi warga telah berkembang sedemikian luasnya sehingga pos dijadikan inti kegiatan komunal para warga .Bahkan ada pos yaitu di Rt 2 yang lebih berkembang ruang arti komunalnya . Disamping pos tersebut , terdapat tukang bakso yang berdagang sehingga ketika ada bapak-bapak berkumpul maka saat makan siang saat weekend biasanya akan makan bakso bersama. Pos sebagai salah satu ruang komunal yang terwujud dalam gagasan arsitektural . Di pos terdapat kegiatan berkumpul yang dilakukan oleh seluruh lapisan masyarakat, baik tua muda, pendatang-warga asli.  Di pos pula, dilakukan acara –acara tertentu pada  saat –saat tertentu. Misalnya  pada pemilu salah satu pos di Rt 15 berubah menjadi TPU dan saat 17 agustusan menjadi arena untuk berkumpul dan ikut perlombaan. Pos seakan tidak pernah sepi oleh warga , berkembang luas, memiliki arti tersendiri bagi masyarakat kampung Pulo kambing. Dan seiring berjalannya waktu, akan seperti apakah pos bagi warga kampung Pulo Kambing mendatang??


0 Responses to “Everyday in “Kampung” Pulo kambing Rw 2 Jatinegara Cakung Jakarta Timur”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: