17
Nov
09

Ruang tak bermakna menjadi lebih bermakna

Seringkali rumah-rumah yang terletak tepat di belakang bangunan komersial dan terdapat jalan di depannya, dibatasi pandangannya oleh sebuah tembok beton yang tinggi. Dimana tembok tersebut bisa saja sengaja dibangun untuk menjadi pembatas untuk masalah keamanan ataupun merupakan bagian dari bangunan komersial itu sendiri.

Jika saya analogikan, bangunan komersial ini seperti ‘raja’ yang kehadirannya harus selalu dikawal oleh ‘pengawal’nya (tembok pembatas). ‘Raja’ ini merupakan raja yang tidak mempedulikan rakyatnya. Dengan alasan keamanan ataupun keterbatasan lahan, bangunan komersial ini justru menghadirkan ruang yang tidak bermakna bagi masyarakat yang tinggal dibelakangnya. Dengan berjalannya waktu, kehadiran tembok pembatas ini justru membuat masyarakat yang ada di sekitarnya mencoba untuk memaknainya. Tembok-tembok pembatas tersebut menjadi ajang kreativitas. Adanya gambar-gambar yang dilukiskan di tembok (grafiti) seperti memperlihatkan adanya kebutuhan visual bagi masyarakat yang tinggal di belakang bangunan komersial ini. Tembok yang tadinya hanya berwarna usang sekarang berubah menjadi tembok yang berwarna-warni. Mungkin saja si pembuat grafiti ini hanya ingin memuaskan dirinya sendiri dalam hal berkarya. Namun secara tidak langsung, grafiti di tembok ini ternyata membuat suasana di belakang bangunan komersial ini menjadi lebih hidup dan menarik. Perhatian mata justru tidak lagi kepada tembok pembatas yang tinggi yang menghalangi pandangan tetapi lebih kepada gambar-gambar yang ada di tembok ini. Si pembuat grafiti ini bisa memaknai ruang yang tadinya tidak bermakna menjadi lebih bermakna. Sebagai perancang bangunannya tentunya hal ini berupa kritikan terhadap hasil rancangannya. Karena jika kita telaah kembali, sebagai perancang sebaiknya harus memperhatikan tampak belakang dari bangunan yang dirancang, bukan hanya memikirkan tampak mukannya atau sampingnya saja. Tentunya hal ini juga harus dilihat berdasarkan konteksnya.


1 Response to “Ruang tak bermakna menjadi lebih bermakna”


  1. 1 iishrynt
    December 6, 2009 at 5:55 pm

    tulisan yang menarik. Banyak sekali kejadian seperti ini di kota jakarta, dimana terdapat sebuah tembok yang berada di belakang menjadi sebuah ruang dimana para kalangan tertentu bisa melukisnya dan membuatnya lebih menarik. Saya mengambil studi kasus saat saya survei site PA3 project 1 yaitu pada bagian belakang pertokoan di depan Jl Waru Rawamangun. Disana juga ada hal seperti itu. Bagian tembok belakang pertokoan tersebut dikreasikan dengan tulisan dan gambar yang dibuat oleh para warga komplek dibelakang pertokoan tersebut. Ternyata, setelah ditelusuri lagi, hal tersebut sudah diberi izin oleh sang pemilik pertokoan tersebut dan RT setempat.
    sehingga bukan merupakan hal yang ilegal. bagian belakang pertokoan tersebut menjadi lebih menarik dan menjadi background saat perta 17 agustusan para warga komplek tersebut

    Dari kejadian ini, saya mengambil kesimpulan bahwa dalam keseharian, masyarakat kurang lebih sadar akan adanyasebuah ruang yang tidak bermakna dan mereka memaknai ruang tersebut sesuai dengan karakter kehidupan mereka.


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: