17
Nov
09

Seniman jalanan dalam keseharian

mural di tembok stasiun Cikini
mural di tembok stasiun Cikini
Salah satu fenomena tentang kegiatan seniman jalanan saya temukan di site yang sekarang saya pelajari di Perancangan Arsitektur 3 ini. Fenomena ini timbul di sebuah dinding kosong dan besar yang kemudian dimanfaatkan oleh para seniman jalanan pada malam hari untuk membuat gambar-gambar atau mural dengan isu-isu lingkungan entah yang bersifat provokatif maupun tidak. Mural ini sendiri kerap menjadi daya tarik bagi orang-orang yang melintas terutama bagi pejalan kaki yang menuju atau-pun yang keluar dari stasiun Cikini. Menariknya disini bahwa mural ini kerap berganti-ganti menjadi gambar-bambar yang lain dalam waktu yang relatif cepat, sehingga akan selalu menarik untuk dilihat jika melintas di tempat tersebut.
Memang tidak ada aturan yang menerangkan bahwa mural tersebut diperbolehkan untuk di buat di tembok itu, bahkan orang-orang disekitar stasiun pun tidak banyak yang mengetahui kapan mural-mural ini di buat, karena sang seniman selalu melakukannya pada waktu malam sampai dini hari. Namun hal ini menjadi sangat menyenangkan bila saat kita melintasi tembok besar stasiun tersebut ada mural-mural yang dapat diamati ketimbang kosong begitu saja.

 

Sedemikian bermanfaatnya tembok besar ini, selain digunakan oleh para seniman jalanan untuk mengaktualisasikan diri atau bahkan menyalurkan aspirasinya, tembok ini juga terkadang digunakan oleh sebuah komunitas fotografi dan lukisan yang berada di stasiun Cikini tersebut untuk menggelar pameran-pamerannya.

pameran komunitas bau tanah
pameran komunitas bau tanah

Walaupun pada akhirnya tembok ini digunakan oleh dua komunitas yang berbeda, namun mereka tidak pernah berselisih akan hal ini. Justru bila kedua-nya digabungkan malah seperti tercipta sebuah galeri jalanan yang sangat unik dan menarik.  Pada dasarnya kedua komunitas ini berada pada satu visi yang sama, dimana karya-karya yang mereka tampilkan merupakan sebuah tanggapan dari isu-isu yang sedang berkembang di negara kita.

Walaupun hal ini merupakan bukan sebuah hal yang dilegalkan pemerintah namun saya berfikir bahwa kegiatan ini merupakan salah satu kegiatan positif seniman jalanan yang sebenarnya jika dikembangkan dengan sungguh-sungguh bisa menjadi suatu yang bermanfaat untuk sekelilingnya. Mengambil sebuah contoh negara bagian AS yakni Philadelphia dimana mural menjadi salah satu faktor yang turut mensukseskan pembangunan kota meraka sehingga kota mereka kerap disebut sebagai CITY OF THOUSANDS MURAL. Mural disini menjadi sangat bermanfaat keberadaannya karena berguna untuk memotifasi semangat hidup penduduk setempat, juga saat ini digunakan sebagai atraksi wisata yang seperti telah menjadi sebuah bagian dari arsitektur dua dimensi yang sangat dibanggakan penduduk Philadelphia.

06 civil rights
mural di kota Philadelphia

Satu kesimpulan yang saya dapatkan bahwa memang begitulah cara seniman jalanan dalam berkarya, terkadang mereka memang menggambar disembarang tempat tanpa ijin dan sebagainya, namun cobalah liat dari  sudut pandang lainnya bahwa terkadang karya-karya mereka inilah justru yang juga dapat mewakili aspirasi dan bahkan mengingatkan kita tentang hal-hal sepele yang justru sangat membekas di hati.


1 Response to “Seniman jalanan dalam keseharian”


  1. 1 iishrynt
    December 6, 2009 at 7:27 pm

    mural memang menjadi sebuah topik yang menarik untuk dibicarakan. saya sependapat dengan penulis bahwa mural dapat mengispirasikan aspirasi dan ekspresi dari kalangan tertentu dan bisa memanfaatkan ruang kosong menjadi sesuatu yang menarik dan membekas dihati. Mural sendiri menjadi sebuah urban art yang hadir ditengah masyarakat jakarta.
    saya mengambil studi kasus di daerah Cikini juga yaitu IKJ, di belakang Taman Ismail Marzuki
    dalam kampus IKJ, mural banyak ditemui. tidak ada tembok tanpa mural. selain itu dikelas-kelas juga terdapat mural yang dibuat oleh mahasiswa ikj tersebut. Yang menarik saya adalah rektor-rektor IKJ pun digambar pada salah satu tembok bangunan di IKJ. memang, IKJ merupakan sebuah institut kesenian yang mempelajari seni, namun saya mendapatkan kesan bahwa mahasiswa IKJ membuat mural ditembok karena mereka senang sehingga membuat perasaan mereka di kampus juga menyenagkan..
    Bagaimana ya jika mural tersebut diaplikasikan ke tembok-embok kelas kita??hmmm..


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: