17
Nov
09

Ugliness

Perfect object = finished ; completed
Any addition or substraction from the object would ruin its form (Aristotle)

Berdasarkan kutipan di atas, hal ini dapat diartikan bahwa suatu objek yang sempurna adalah objek yang sudah selesai. Dan jika ditambahkan oleh sesuatu ataupun dikurangi maka akan merusak bentuk itu sendiri.

Ketika membaca kutipan ini saya sedikit bingung jika dipandang dari segi arsitekturalnya. Namun, ketika diberikan suatu contoh oleh dosen saya, saya mulai memahaminya. Contohnya adalah ketika kita menyusun suatu denah yang terlihat sudah sempurna tetapi tiba-tiba kita teringat bahwa masih ada ruang yang terlupakan. Seperti ruang servis ataupun utilitas. Secara tak sengaja dan ingin cepat-cepat selesai mungkin saja kita ingin memaksakan kehadiran ruang tersebut dengan menambahkannya saja diluar dari denah tersebut. Penambahan ruang yang sangat dipaksakan ini tentunya akan merusak bentuk denah itu secara keseluruhan.

Berikutnya saya ingin memberikan suatu contoh nyata yang pernah saya temui beberapa waktu yang lalu.

Pada masa sekarang ini banyak dijumpai rumah-rumah yang dibangun oleh developer dengan desain yang tipikal. Dimana biasanya 1 rumah mempunyai pencerminannya sehingga terdapat 2 rumah yang tipikal. Pencerminannya tersebut membuat 2 rumah itu menempel. Namun, bagaimana jika pencerminannya tidak bisa menghasilkan rumah yang saling menempel karena keterbatasan lahan? Tentunya ada gap di antara kedua rumah tersebut. Bisa saja gap itu berupa jalan sehingga kita tidak terlalu mempedulikan di mana hasil dari pencerminan rumah tersebut. Di bawah ini saya mencoba memberikan suatu contoh jika gap tersebut bukan berupa jalan.

Gap yang terlihat di gambar ini merupakan ruang kosong yang mempunyai lebar kurang lebih 1 m dan menyempit dibagian belakangnya. hal ini terjadi karena lahan tersebut tidak mempunyai ukuran dan bentuk yang pas untuk kedua rumah yang sudah ditentukan besarannya ini. Ruang kosong ini sangat membuat visual kita terganggu. Ruang ini seperti penambahan dari sebuah pencerminan 1 rumah yang sangat dipaksakan. Menurut saya, ruang ini merupakan ugly object.

Seperti kutipan di bawah ini,
The ugly object is an object which is experienced both as being there and as something that should not be there. The ugly object is an abject which is in the wrong place (Mark Cousins)


2 Responses to “Ugliness”


  1. 1 agungsetyawan89
    December 9, 2009 at 9:00 am

    Apakah ugly itu cuma bisa dirasakan oleh indera penglihatan?
    Sedangkan: The ugly object is an object which is experienced both as being there and as something that should not be there. The ugly object is an abject which is in the wrong place (Mark Cousins)
    Lalu mengapa hanya visual yang diperhatikan jika disana tertera experience? experience melibatkan tidak hanya indera penglihatan. penjustifikasian terhadap keberadaan ruang tersebut nampaknya kurang adil tanpa melibatkan indera lainnya. apakah disana nyaman? mungkin adalah hal yang lebih penting dibandingkan dengan komposisi. dari segi fungsional misalnya, bisa jadi hal ini sangat dibutuhkan ketika terjadi kebakaran agar tidak menyambar kebangunan sebelah.
    Visual memang bisa sangat dominan mempengaruhi apa yang kita rasakan. Namun bukan berarti indera lainnya tidak boleh turut serta dalam menentukan ugly atau tidak. Lalu bagaimana cara seorang tuna netra menentukan sesuatu itu ugly atau tidak?
    Hal yang membuat saya tersadar tentang hal ini adalah ketika diadakan workshop RSVP. Ada sesi dimana mata harus ditutup, kemudian saya dibiarkan untuk merasakan lingkungan sekitar saya dengan cara mengelilingi dan kemudian saya diharuskan mencari tempat yang menurut saya nyaman.
    Indera selain penglihatan yang harus lebih peka. Bagaimana cara saya menghindari daerah yang terkena panas matahari [panas terik pada waktu itu membuat saya tidak nyaman]. Lalu dengan indera penciuman, angin, dan banyak pertimbagan lain yang kadang diabaikan bila saya selalu membiarkan indera penglihatan saya mendominasi .

  2. December 24, 2009 at 1:58 pm

    Menurut saya pengertian “experienced” di sini adalah; sebelumnya kita memang sudah mengetahui atau berpengalaman akan apa yang sebenarnya harus ada di sana dan apa yang seharusnya tidak ada di sana. Dalam contoh yang saya berikan mungkin memang diawali dari penilaian visualisasi. Namun, jika dari pengalaman ruang, tentunya gap tersebut tidak nyaman untuk beraktifitas. Jika fungsinya untuk pencegahan kebakaran, menurut saya tidak usah tanggung-tanggung, kenapa tidak semua sederetan rumah ini dibuat gap??
    Mengenai penilaian ugly object apakah hanya dari visual saja, berdasarkan Mary Douglas, “dirt is essentially disorder ..it exists in the eye of beholder..
    Dari pengertian tersebut, penilaian ugly object akan timbul dari indera visual. Namun jika kita merancang pasti tidak hanya mengandalkan indera visual saja. Karena pengalaman ruanglah yang lebih penting. Saya akan memberikan salah satu contoh menurut saya, ketika penilaian ugly object tidak hanya mengandalkan indera visual saja. Contohnya yaitu, ketika kita melewati suatu area yang bukan merupakan tempat pembuangan sampah namun sampah terlihat menumpuk dan berserakan. Dari pandangan visual , kita pasti langsung beranggapan hal tersebut adalah ugly object. Jika kita mendekat ke area tersebut dengan mata tertutup kita tetap akan merasa area tersebut adalah ugly object. Karena kita menggunakan indera penciuman dan “experienced” bahwa sampah ini tidak seharusnya berada di sini.


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: