24
Nov
09

Would Virtual Spaces Become a Solution?

Melihat berbagai masalah yang terjadi di bumi yang tercinta ,misalkan, kemacetan total yang sering terjadi di Jakarta, jumlah penduduk yang membeludak, daratan tak lagi mampu menampung semua manusia di bumi, air bersih berkurang, polusi udara bertambah, terjadi wabah penyakit, sumpeknya perkotaan akibat permukiman kumuh dan lainnya. Ini tentu saja membuat kita gerah. Masalah ini seolah-olah takkan pernah terselesaikan. Membangun rumah-rumah susun hingga bertingkat puluhan lantai mungkin dapat menjadi solusi saat ini. Namun, sampai kapan? Kalau jumlah penduduk terus bertambah, bukan tidak mungkin , ruang kosong yang tersedia akan habis. Tidak ada lagi tempat untuk dibangun rumah. Kalau begitu, permukiman di atas laut mungkin akan menjadi solusi berikutnya. Akan tetapi, bayangkan apabila seluruh laut dipenuhi oleh rumah-rumah? Wah, laut bakal menjadi tempat penampungan sampah terbesar di dunia. Tidak ada lagi air yang bisa diminum. Barangkali kita harus pergi ke luar angkasa dan tinggal di sana. Tetapi ukuran bulan begitu kecil dan tidak cukup menampung seluruh penghuni buni. Apalagi tidak ada oksigen dan air di sana. Mars mungkin bisa jadi alternatif mengingat ada es di sana. Es ini mungkin menjadi sumber air. Tetapi perlu berapa waktu agar kita benar-benar bisa tinggal di Mars atau bulan tanpa masalah?

Menghadapi permasalahan ini, saya mencoba melihat virtual spaces sebagai alternatif baru. Seperti yang dikutip berikutnya:

“ …that the possibility of transferring or ‘downloading’ human consciousness to a computer is eagerly anticipated in the computer world. In such a’ post-biological world’ one could thus avoid death and the time and energy required for maintaining and reproducing human bodies.” (Newton and Helen Mayer Harrison, 1989).

Andaikan itu terjadi, bayangkan yang akan terjadi jika kesadaran manusia dipindahkan ke komputer dan meninggalkan tubuh manusia di luar. Kita akan hidup di virtual spaces. Di sana, kita bisa bebas membangun rumah di atas lahan (bits) yang tidak terbatas, tanpa harus mempertimbangkan strukturnya. Kita bisa membentuk rumah sehendak hati. Membangun rumah yang terbalik di langit pun bisa. Mau buat apartemen yang ratusan tingkatnya pun bisa.  Bahkan kita mengganti interior dapur dengan cepat. Tidak hanya itu, kita juga bisa membentuk tubuh sendiri.  Mau menjadi laki-laki atau perempuan, terserah kita. Mau memiliki tubuh binatang, pun biasa. Intinya, di dalam virtual spaces, kita bebas berkreasi sesuka kita termasuk lingkungannya,seperti kutipan berikutnya:

“Virtual worlds will offer myriad opportunities to encounter and engage objects and spaces in new and different ways and to occupy other bodies, other entities, others species.” (Karen A Franck, 1995)

Akan tetapi, hidup di virtual spaces sama dengan meninggalkan indera perasa, peraba,dan  penciuman. Oleh karena itu, di dunia virtual, kita dapat memakan apel dan meminum air. Tetapi kita takkan merasakan manisnya apel atau segarnya air. Di sana, kita dapat menjalin pertemanan, tetapi tidak dapat merasakan sentuhan orang lain. Bahkan kita dapat memiliki anak tanpa mengalami masa kehamilan. Ringkasnya, kita hidup di dunia yang dipenuhi oleh pengalaman visual (mungkin juga audio) seperti yang kita alami di dalam mimpi.

Secara pribadi, saya mengakui virtual spaces bukanlah alternatif yang baik. Bayangkan andai komputer mati karena suatu alasan, kita hidup di kegelapan. Jiwa kita sadar tetapi tidak dapat melihat atau merasakan apa-apa. Namun, jika teknologi memungkinkan itu terjadi, maka ini patut dipertimbangkan.

Reference

Franck, Karena A. 1995. Architects in Cyberspace: When I Enter Virtual Reality, What Body Will I leave Behind?.Cambridge: VCH Pubisher LTD.


2 Responses to “Would Virtual Spaces Become a Solution?”


  1. November 25, 2009 at 12:19 am

    Kalau kita perhatian luas hutan, padang pasir, pegunungan, dan lahan-lahan lain, seprtinya luas lahan yang terbangun di dunia ini belum mencapai 20%, masalah pada tata kota misalnya kedekatan lokasi hunian dengan sistem infrastruktur yang ada, hingga yang perlu dibenahi sebenarnya manajemen pertumbuhan. Di sisi lain terdapat natalitas seiring mortalitas penduduk. Walaupun tetap lebih tinggi angka kelahiran. Jakarta saja, siang hari jumlah manusianya kalau tidak salah 6 juta, malam hari menjadi sekitar 4-5 juta, selisih itu pulang ke luar jakarta, hanya ke jakarta jika bekerja. Saat lebaran? lebih dari setengah penduduknya mudik. Jadi, kerapatan dan kepadatan, jika dilihat dari sisi urban, menjadi berbeda masalahnya jika dilihat secara nasional atau interkontinental. Tentang virtual spaces, ini menarik. Terlebih seiring perkembangan teknologi yang akan terus mengakomodasi kehidupan manusia, khususnya pada apa yang terjadi di industri informasi dan komunikasi. Namun, manusia secara makhluk fisik, memerlukan adaptasi yang cukup lama, melewati berbagai persoalan, seperti ketika harus membedakan antara public space dengan virtual space. Ketika orang sudah mulai kurang tertarik dengan public space yang “fisik”, karena telah pindah menggunakan virtual public space, akibatnya pembangunan ruang terbuka publik seperti RTH juga menjadi kurang, karena dinilai telah kehilangan fungsinya.

  2. December 10, 2009 at 2:43 am

    Dikatakan oleh Donna Haraway: “The cyborg is resolutely commited to partiality… It is oppositional, utopian, and completely without innocence”-A Manifesto for Cyborgs.

    menurut saya living in the virtual space sendiri merupakan utopia yang muncul karena keadaan sebenarnya yang sedang berlangsung saat ini. virtual space menawarkan alternatif tentang bagaimana menjalani kehidupan dalam sebuah ruang yang modern dan tanpa batas.namun saya setuju seperti yang dikatakan oleh meurin bahwa menjalani hidup sepenuhnya sebagai cyborg dalam virtual space bukanlah pilihan yang baik.

    Film Matrix Reloaded (Warner Bros,2003) memberi gambaran tentang bagaimana manusia anorganik hidup dalam virtual space yang diyakini merupakan ruang nyata bagi diri manusia tersebut, sedangkan di sisi lain tubuhnya berada dalam kondisi ‘mati’ karena dirinya terperangkap dalam ruang virtual yang maya.


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: