25
Nov
09

Urban, Menjadi Bagian dari Kota Besar

Mengapa urban?

Masyarakat yang tinggal di tengah kota, mau tak mau harus menghadapi tuntutan akan standar hidup yang tinggi. Akibatnya, pemenuhan akan berbagai kebutuhan harus dicapai dengan bekerja dan bekerja, bahkan sering tanpa mengenal waktu. karena itu, mereka pun menjadi penganut gaya hidup yang serba praktis, serta wajib memiliki akses informasi dan komunikasi yang mudah, jika tidak mau ketinggalan menghadapi perubahan di sekitarnya yang berlangsung sangat cepat. Kondisi ini pula yang menyebabkan stress tinggi menjadi hal biasa di kalangan warga kota besar.

Keadaan perkotaan yang padat penduduk dan dikepung bangunan buatan manusia, menyebabkan masyarakat perkotaan sulit memperoleh tempat memanjakan diri (fasilitas publik) dengan kualitas lingkungan yang baik.

Arsitektur yang baik

Untuk mengatasi persoalan urban di kota-kota besar, jalan keluarnya adalah melalui arsitektur yang baik. Arsitektur yang baik harus memiliki nilai-nilai tertentu, seperti :

  • Merespon hijau
    Merespon isu-isu penyelamatan lingkungan, bahaya global warming, serta hilangnya tanaman hijau di perkotaan.
  • Merespon kenyamanan
    Supaya tidak terganggu stress karena rutinitas.
  • Merespon tetangga
    Lingkungan sosial merupakan faktor yang harus dipertimbangkan oleh arsitek ketika akan merancang sebuah bangunan.
  • Merespon keterjangkauan
    Di tengah naiknya harga bahan-bahan bangunan, pembangunan yang baik adalah pembangunan yang hemat dan proporsional agar pemilik bangunan tidak dipusingkan oleh harga dan sesuai dengan anggaran yang dimiliki.

Nilai-nilai tersebut merupakan nilai yang bisa membuat kehidupan urban menjadi lebih baik.

Urban, menjadi bagian dari kota besar

Urban adalah bagian pusat dari kota, tempat segala aktivitas berlangsung. Karenanya, tinggal di kota besar berarti harus siap menjalani kehidupan yang berkaitan dengan urban. Urban mulai diadopsi ke beberapa bidang, seperti gaya hidup dan arsitektur.

Terdapat beberapa hal yang dapat dijadikan tolak ukur untuk menentukan sudah seberapa urbankah dengan tinggal di kota. Pertama, menjadi urban berarti merasakan kota. Di kota manapun kita tinggal , merasakan kota adalah hal yang penting dalam menjadi urban. Merasakan kota dapat dilakukan jika kita benar-benar menjalani kehidupan dan keseharian kita di kota, sebagai penghuni dari kota tersebut.

Kemacetan di jalan raya, interaksi dengan kaki lima, serta menikmati trotoar adalah hal-hal yang sering kita temui ketika sudah memutuskan untuk tinggal di kota. Dan, meskipun sepele dan lazim ditemui, namun tetap memerlukan respek. Sebab, dengan menghargai dan menyadari bahwa hal-hal tersebut ada, kita bisa merasakan tinggal di kota. Hal kedua adalah melakukan interaksi dengan rural urban, atau daerah yang berada di sekeliling daerah urban. Rural urban merupakan penyokong daerah urban.

Menjadi urban berarti siap menjadi masyarakat yang anonim

Artinya, tinggal di kota berarti kita tinggal dalam sebuah struktur masyarakat yang individualistis, dimana tidak semua orang mengenal kita. Identitas anonim yang paling mudah dilihat adalah pejalan kaki. Ketika sedang berjalan kaki di bagian manapun dari kota, orang-orang lalu-lalang begitu saja menuju kepentingan masing-masing, tanpa sempat memerhatikan sekelilingnya.

Menjadi anggota masyarakat yang anonim berarti masyarakat yang memiliki dua sisi kehidupan. Pertama, memiliki kebebasan yang lebih dari cukup untuk mengekspresikan diri. Masyarakat kelompok ini biasanya tidak terlalu menghiraukan pendapat orang lain, terutama mengenai penampilan. Namun, di sisi lain orang lain menjadi apatis. Tak peduli terhadap apa yang terjadi dan perubahan sekelilingnya. Meski begitu, anonim merupakan salah satu faktor dalam masyarakat dinamis.

Selain menjadi anonim, masyarakat kota yang telah menjadi urban akan berubah menjadi heterogen. Perbedaan yang terjadi di kota, harus siap dihadapi dengan segala keunikannya. Jakarta adalah salah satu contoh keragaman yang terjadi di kota besar. Semua unsur mulai dari etnis, suku, dan golongan sosial bercampur di tengah kota Jakarta, yang menjadi contoh miniatur indonesia. Kehadiran keragaman tersebut merupakan salah satu contoh urban society.

Urban society

Tak jarang keragaman society menjadi berwarna sehingga kota menjadi lebih semarak. Keragaman yang ada dimunculkan sebagai kebiasaan (custom) yang menjadi ciri dari masyarakat tertentu. Namun, hal itu adalah bagian dari tatanan urban society yang beragam.

Ketika kita memutuskan untuk tinggal di kawasan perkotaan atau kawasan urban, berarti kita juga harus siap menerima kepadatan yang terjadi. Entah itu karena banyaknya individu yang berinteraksi di lingkungan yang sama dengan kita, atau kepadatan yang terjadi karena tempat tinggal kita saling berdekatan satu sama lainnya.

Kepadatan tersebut terlihat dengan jelas pada tata ruang di kota. Tak jarang ditemui, di sebuah kawasan terdapat gedung-gedung perkantoran tinggi atau apartemen puluhan lantai bersebelahan dengan sebuah kampung warga asli atau rumah kecil yang luasnya tak lebih dari 100 meter persegi. Atau bahkan, kepadatan terlihat pada aktivitas yang semakin membludak, meluber dari trotoar hingga jalan raya.

Selanjutnya menjadi urban adalah siap menghadapi intensitas sosial antarsesama. Perilaku ini dapat terlihat dari beberapa kebiasaan yang terjadi di kota, seperti mudik pada saat hari raya, dan juga kemacetan yang terjadi setiap harinya di kota. Intensitas sosial tersebut, tak hanya terjadi pada saat-saat tertentu saja, namun bisa juga terjadi setiap saat. Karena pada dasarnya, manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan orang lain untuk berinteraksi dan merasakan hidup. Sebagai kaum urban, hal-hal demikian tentunya dialami setiap harinya, saat memutuskan untuk menjadi urban.

Urban Jakarta

Sebagai sebuah kota urban yang terus bergejolak dan mengalami perubahan secara cepat, Jakarta seharusnya mampu mengatasi segala macam persoalan yang terjadi pada kehidupan urban yang terdapat di dalamnya. Persoalan tersebut muncul karena tak lain orang-orang yang menjalani hidup urban mudah sekali dilanda stress. Karenanya, sudah seharusnya bagian-bagian dari kota Jakarta dirancang dengan baik, agar dapat mengurangi stress yang terjadi pada penduduknya.


0 Responses to “Urban, Menjadi Bagian dari Kota Besar”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: