29
Nov
09

Bila Graffiti Tak Lagi Hijacking

Graffiti berkembang pesat di dunia, termasuk di Indonesia. Dari yang tadinya merupakan wujud vandalisme dengan pesan provokatif atau bahkan berkata-kata kotor hingga sekarang menjadi salah satu kesenian yang mulai dan sedang diperhatikan dunia, bahkan menjadi .

Mengutip tulisan yang saya baca di Seputar Indonesia, Minggu, 27 September 2009, hal. 18 dengan judul “ Evolusi Nilai Seni Graffiti” oleh Bernadette Lilia Nova:

….Dulu, di zaman Orde Baru (Orba), bersama seniman jalanan lainnya, Suyanto mengaku menganut aliran vandalisme, yaitu menggambari dinding manapun tanpa izin pemiliknya. Namun, seiring kesadaran bermasyarakat yang kian melekat, akhirnya Suyanto menjadi pelukis mural yang biasa dikontrak oleh instansi pemerintah untuk melukis dinding-dinding di jalanan Ibu Kota. Tentu saja dengan pesan moral yang singkat namun bermakna. Misalnya pesan tentang berkendaraan dengan bijak atau taat membayar pajak….

Dari pernyataan di atas, timbul satu pertanyaan: Bila graffiti tak lagi merupakan tindak hijacking, bahkan justru pemerintah sendiri yang meminta diadakannya graffiti tersebut, apakah graffiti itu masih dibilang everyday? Jadi mana yang perlu dikritisi?

Graffiti is hijacking?

Everyday is hijacking?

Ataukah anggapan bahwa graffiti adalah bentuk hijacking, lalu hijacking=everyday? Jadi, bagaimanapun keadaannya, apapun alasan kemunculannya, bila bentuknya masih graffiti maka itu disebut everyday?

Everyday adalah sesuatu yang tidak direncanakan berada di situ, namun it does exists?

Pada kenyataannya, graffiti justru sekarang bergeser menjadi karya seni yang hidup, dan sedang dihidupkan oleh pemerintah. Sekarang, graffiti tidak lagi menjadi sarana provokasi terhadap pemerintahan yang sedang berlangsung, sebaliknya, graffiti menjadi alat bantu pemerintah untuk melakukan kewajibannya menghimbau warga untuk mendukung program-program yang ditetapkan pemerintah.

Mengutip lagi dalam artikel yang sama:

…Karya Graffiti sudah dikenal sejak masa Yunani dan Romawi Kuno. Orang Romawi bahkan melukis dinding monument-monumen kota mereka dengan graffiti yang membuat suasana semakin ceria. Seiring berjalannya waktu, graffiti juga dikenal pada massa Reinassans sekitar abad 14. Menggambar dinding atau mural saat itu dimulai dari gereja.

Sebelumnya di zaman gotik, gereja-gereja di Eropa tapak angker.Suasana kurang nyaman itu mengilhami para jemaat gereja untuk mengubah wajah angker rumah ibadah tersebut menjadi lebih cantik. Cara yang dipilih adalah menggambari dinding-dinding gereja dengan lukisan. Gambar-gambar dalam dinding gereja biasanya mengekspresikan kesyahduan dan kecintaan pada Tuhan….

Ternyata, perkembangan graffiti menunjukkan bahwa graffiti memang dibuat untuk memeriahkan suasana dan menyampaikan pesan baik. Lalu bergeser menjadi graffiti yang hijacking karena tidak mendapatkan ruang untuk menghadirkan eksistensinya.

Menurut saya, pergeseran peran graffiti ini dapat dikatakan perwujudan terjadinya keseimbangan atau kerja sama dari dua hal yang tadinya bertolak belakang. Bisa terjadi up-down dengan didukung down-up hingga lahirlah keseimbangan berupa middle, sesuatu yang menampung dua jalur aspirasi, meampung dua kepentingan: Pemerintah memerlukan publikasi aturannya, dan seniman jalanan memerlkukan wadah berkreasi. Ketika kepentingan dan kebutuhan mereka bertemu, jadilah evolusi baru dalam seni graffiti.

Atau.. jangan-jangan ini bentuk baru manipulasi dalam politik? Hmmm..


4 Responses to “Bila Graffiti Tak Lagi Hijacking”


  1. 1 iishrynt
    December 3, 2009 at 3:26 pm

    tulisan yang menarik. menurut saya, graffti merupakan sebuah ekspresi penolakkan suatu kelompok terhadap pemerintah atau hal-hal sosial yang terjadi dimasyarakat. Graffiti yang sekarang menjadi sebuah seni mural yang sudah mendapatkan suatu “izin” dari pemerintah. Namun merujuk dari berbagai sumber langsung yaitu para “bomber” graffiti disekitar Rawamangun dan cipinang, yang saya tangkap adalah mereka lebih senang membuat graffiti yang legal atau “dikejar-kejar oleh polisi atau sebagainya” sehingga disitulah adrenalin mereka berpacu. Disitulah mereka merasa kesenangan dan tantangan. apakah pemerintah sudah benar-benar memberikan izin?? apakah dengan izin kelegalan tersebut bisa menghilangkan everyday para “bomber grafiti” yang interest dengan “keilegallan dalam membuat graffiti”?? hmmmm….
    iish

  2. 2 agungsetyawan89
    December 9, 2009 at 3:47 am

    menurut pengetahuan saya,
    mural atau seni lukis di dinding itu bisa berbagai macam
    selain yang disebutkan di atas ada pula
    tagging
    yakni semacam penandaan wilayah, misalnya tulisan SMU x atau kelompok x geng x
    nah ini kadang yang mengkhawatirkan, sebagai semacam tanda bahwa wilayah tersebut telah ‘dikuasai’ oleh pihak tertentu. biasanya berada di daerah sepi ‘tidak dimiliki’ seakan tidak ada lagi kemampuan ‘pihak yang berwenang’ untuk menghentikan tindakan ‘seenaknya’ dari si pelaku, yang bukan tidak mungkin akan terjadi tindak kriminal disitu.

    yang mana yang mau di legalkan??
    sedangkan belum ada parameter yang jelas untuk menilai sesuatu itu adalah benda seni atau malah bentuk vandalisme. memeriahkan atau mengkhawatirkan. untuk menyebut asal coret atau ‘mengandung makna’ saja bukan hal mudah.

  3. December 24, 2009 at 7:50 pm

    yang menarik dari tulisan ini bagi saya adalah bukan dari sisi sang grafiti namun dari pengertian anda mengenai ” everyday “…
    sebenarnya berdasarkan apa anda menyatakan grafiti itu adalah everyday? dari segi dan sisi mana anda memandangnya…??

    anda menyatakan “Everyday adalah sesuatu yang tidak direncanakan berada di situ, namun it does exists?”
    bukankah everyday itu adalah manusia sebagai pelakunya, baik objek maupun subjek…??
    manusia adalah mahluk dengan strata tertinggi, dengan pola pikir sebagai keutamaannya.. manusia juga memiliki perilaku, dimana perolaku ini adalah program dalam diri manusia hasil dari hubungan timbal balik antara manusia dengan lingkungannya. lalu dengan segenap pola pikir dan perilaku manusia itu apakah everyday yang tidak lain adalah hasil observasi terhadap manusia dapat dikatakan tidak direncanakan..? bukannkan suatu program diri yang telah menjadi budayanya itu telah disadari betul oleh mereka, sehingga mereka dapat bertindak sesuai apa yang mereka inginkan..?!

    lalu kemudian, menrut saya ada yang janggal pada tulisan anda..
    “Dari pernyataan di atas, timbul satu pertanyaan: Bila graffiti tak lagi merupakan tindak hijacking, bahkan justru pemerintah sendiri yang meminta diadakannya graffiti tersebut, apakah graffiti itu masih dibilang everyday? Jadi mana yang perlu dikritisi?…..Pada kenyataannya, graffiti justru sekarang bergeser menjadi karya seni yang hidup, dan sedang dihidupkan oleh pemerintah. Sekarang, graffiti tidak lagi menjadi sarana provokasi terhadap pemerintahan yang sedang berlangsung, sebaliknya, graffiti menjadi alat bantu pemerintah untuk melakukan kewajibannya menghimbau warga untuk mendukung program-program yang ditetapkan pemerintah.”

    jadi menurut anda grafiti ini adalah hijacking atau bukan..??menrut saya ada yang kontradiksi pada pernytaan anda..??

    tetapi jika ditanya apakah grafiti atau mural ini adalah hijacking atau bukan, sedikit banyak saya setju dengan pendapat agung, yakni tergantung jenis mural yang seperti apa. jika memang merupakan slogan – slogan yang berbau ajakan saya rasa hal itu sudah bukan hijacking lagi. karena jika anda tau area di bawah fly over di daerah cawang – uki jakarta timur, disana terdapat mural – mural yang memang dengan sengaja dibuat oleh kumpulan anak sd dan smp yang semuanya adalah hasil kerjasama dari program pemda setempat. di sana mural – mural itu dibuat sedemikan rupa hingga menciptakan suatu slogan – slogan berupa ajakan yang positif bagi yang menikmatinya ( pengguna jalan ).

  4. 4 annisa.seffiliya
    February 4, 2011 at 11:47 pm

    @iis: wah saya baru tahu kalau adalah suatu pemicu semangat tersendiri bagi beberapa bomber untuk dikejar2 polisi.. agaknya ini bisa jadi kompleks yah bahasannya.. ;p

    @agung:
    hmm ya, terima kasih, saya baru tahu kalau itu namanya tagging, dan saya jadi mencari tahu pengertian vandalism. anda juga bisa lihat dari om wiki http://en.wikipedia.org/wiki/Vandalism (just share).
    memang belum ada parameter yang legal mengenai tindak vandalisme. tapi barangkali, (saya hanya berpendapat lho) sesuatu itu bisa secara gamblang dianggap orang sebagai hasil dari tindakan vandalisme kalau mengandung hinaan atau kata-kata kotor, merusak fasilitas umum (papan jalan/petunjuk, dinding, dll), yang ‘dianggap’ meng-‘hijack’ fasilitas publik. tapi sebenarnya kembali lagi pada: relatif. tapi ini relatifnya bukan semata dalam lingkup pribadi, namun lingkup yang lebih luas, masyarakat. nah lain halnya kalau graffitinya seperti yang saya maksudkan di atas, dia bukan lagi hijacking karena memang diminta oleh pemilik media, sesuatu yang disampaikan bukan lagi kata-kata kotor, pernyataan wilayah kekuasaan, atau sejenisnya, melainkan suatu iklan bagi masyarakat. di Solo bahkan graffitinya selain menyampaikan pesan pemerintah, juga mengandung unsur budaya dalam gambarnya (tidak lagi bergaya ala asalnya, ‘bronx’).

    @meygie: hmmm saudara meygie, sepertinya anda perlu membaca tulisan saya dengan seksama..


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: