29
Nov
09

Bluetooth Messenger Sebagai Ajang Baru untuk Berkenalan: Penghadiran Diri? Alat? Atau Alat Menghadirkan Diri?

Di Indonesia, mungkin Bluetooth messenger tidak booming di kalangan remaja. Tapi di Saudi, bluetooth merupakan sarana perkenalan cara baru.

Di Saudi, kondisinya memang tidak memungkinkan bagi muda-mudi untuk berkenalan secara langsung. Tidak seperti di Indonesia yang tempat-tempat hiburannya justru dipenuhi kaula muda dengan bebasnya; bahkan tak jarang yang berpacaran dan menunjukkan kemesraannya, tempat-tempat hiburan yang ada di sana memiliki semacam ‘filter’ untuk menyaring siapa saja yang boleh masuk. Kebanyakan tempat hiburan  ini hanya boleh dimasuki oleh keluarga. Hanya sedikit tempat yang boleh dimasuki sekumpulan remaja. Maka, seorang remaja hanya boleh memasuki tempat-tempat ini jika bersama dengan anggota keluarganya. Pergaulan antara muda-mudi juga terbatas disebabkan Saudi yang merupakan negara Islam. Perkenalan antara kaum laki-laki dan perempuan tidak bisa sembarangan dapat dilakukan.

Berkat kecanggihan teknologi berupa Bluetooth yang terfasilitasi dalam telepon seluler, remaja Saudi tidak kehabisan akal untuk tetap saling berkenalan dan memperluas jaringan pertemanan (bahkan mencari jodoh). Dalam satu ruangan dalam suatu bangunan publik, mereka dapat saling bertukar pesan, notes, ataupun foto dengan Bluetooth yang dapat mengirim data dalam radius 10 hingga 100 meter (tergantung pada spesifikasi ponsel dan aplikasi bluetooth yang digunakan). Bahkan ada aplikasi Bluetooth Messenger yang serupa software messenger lain seperti Yahoo!Messenger, MSN, eBuddy, dan lain-lain yang bisa memungkinkan untuk chatting dengan username nama bluetooth masing-masing perantinya, memilah account bluetooth siapa saja yang diperbolehkan untuk melihat post yang kita lakukan, dan sebagainya. Cara ini lebih disenangi karena kita cukup mengaktifkan bluetooth saja, tidak perlu mobile-online yang dapat memakan pulsa.

Sebagai pemicu, biasanya ada yang memulai dengan mengirim foto tertentu dengan quote pencair suasana seperti,” Ada yang bisa kirim foto yang lebih lucu dari ini, nggak?” Lalu mulailah marak mereka saling berbalas-balasan.

Dalam satu ruangan itu, secara kasat mata para pengguna Bluetooth dan Bluetooth Messenger yang saling berkenalan mungkin saja asik dengan keluarganya masing-masing. Namun sebenarnya di antara mereka ada boundary maya (atau boundary digital?) yang menciptakan ruang berkumpul mereka. Uniknya lagi, memang bisa saja pertukaran pesan, foto, dan notes itu berlanjut dengan perkenalan real. Namun bila tidak tertarik, kita bisa memilih unttuk hanya mengenal seseorang dengan nama device bluetoothnya saja. Lalu, bila keluar dari jarak jangkauan Bluetooth ponsel kita, kita pun akan kehilangan teman-teman yang jangkauannya sudah di luar.

Kalau dipikir-pikir, menarik juga bukan, berada dalam satu radius jangkauan yang relatif dekat, namun kita tidak bertemu secara fisik. Di dalam space Bluetooth connection ini setiap orang diwakilkan dengan sebuah nama bluetooth device yang mereka miliki. Di sini, space does matter, mungkin masih berlaku. Tapi manusianya? Apakah masih berlaku, masih berpengaruh?

Ibaratnya, sekarang tak cuma program komputer yang mempunyai icon dalam mewakilkan diri dalam menjalankan programnya yang sesungguhnya. Dalam hal ini, icon ditempatkan di muka alat digital elektronik, dibuat untuk mempermudah akses yang dijalankan oleh program yang terdiri dari banyak kode yang berada pada Local Disk. Sekarang, manusia juga dapat mempunyai icon yang mewakilkan dirinya di dunia digital.

Kalau diambil analoginya, memang benar di sini icon berupa username bluetooth device memang dibuat sebagai pewakilan/penghadiran orang sebenarnya di dunia nyata untuk kegiatan perkenalan sesama muda-mudi dalam dunia digital, disebabkan keterbatasan si orang ini untuk muncul secara fisik dalam kehidupan nyata untuk melakukan kegiatan perkenalan tersebut.

Namun, apakah fenomena Bluetooth Messenger ini hanya tools; alat. seperti halnya manusia zaman purba yang membuat tools untuk membantu kehidupan mereka? Misalnya, untuk menebang pohon, mereka membuat kapak sebagai perpanjangan tangan mereka, untuk mewadahi air mereka membuat cangkir dari batok kelapa sebagai ganti caukan tangan mereka, dan sebagainya.

Penghadiran diri, atau hanya alat? Ataukah alat mewakilkan diri? Mungkin memang ini akan tetap menjadi pertanyaan, sebab dalam banyak hal kita memang memerlukan alat yang dapat mewakilkan diri kita, baik sebagian maupun secara keseluruhan, untuk membantu melakukan berbagai kegiatan, termasuk kegiatan bersosialisasi. Meskipun demikian, fenomena ini menarik bukan? Bahkan mungkin akan menginspirasi Sky-Ear Project yang lain. Sekalipun tidak jadi sampai sky-Ear , mungkin ini menarik untuk sekedar dicoba: apa sih enaknya Bluetooth Messenger (dapat didownload di ponsel kalian loh..^ ^)?


2 Responses to “Bluetooth Messenger Sebagai Ajang Baru untuk Berkenalan: Penghadiran Diri? Alat? Atau Alat Menghadirkan Diri?”


  1. December 9, 2009 at 10:44 pm

    “icon berupa username bluetooth device memang dibuat sebagai pengejawantahan orang sebenarnya di dunia nyata untuk kegiatan perkenalan sesama muda-mudi dalam dunia digital, disebabkan keterbatasan si orang ini untuk muncul secara fisik dalam kehidupan nyata untuk melakukan kegiatan perkenalan tersebut.”
    – annisa seffiliya

    William J. Mitchell menulis hal yang mirip dengan kasus diatas mengenai pengejawantahan diri didalam cyber community dalam bukunya City of Bits, “But no matter how extensive a virtual environment or how it is presented, it has an underlying structure of places where you meet people and find things and links connecting those places. This is the organizing framework from which all else grows, In cyberspace, the hyperplan is the generator”.

    William J.Mitchell sedikit menyinggung soal penggunaan avatar sebagai representasi dari pribadi masing – masing orang yang membentuk suatu komunitas di cyberspace. Bagaimana mengejawantahkan diri di cyberspace dengan terlebih dahulu membuat karakter cyborg kemudian berinteraksi dengan cyborg lain. William J. Mitchell mengambil contoh aplikasi MUD (Multi-User Dungeons) yang memampukan orang – orang berinteraksi satu sama lain tanpa ada ‘batasan’.

    Untuk kasus muda-mudi Saudi diatas menurut saya mereka memang menggunakan bluetooth messenger sebagai alat untuk pengejawantahan diri mereka. Icon yang bersatus online pada aplikasi bluetooth messanger merupakan representasi dari tiap – tiap individu atau grup. MUD seperti halnya bluetooth messanger didalamnya terdapat semacam mata rantai (link) yang berfungsi sebagai ‘street networks’ yang telah didesain sedemikian rupa sehingga koneksi dan interaksi antar individu atau grup dapat terjadi dengan lancar, dan pada akhirnya bisa saja membentuk semacam urban neighborhoods di cyberspace.

  2. 2 annisa.seffiliya
    February 4, 2011 at 11:20 pm

    wah siska, terima kasih untuk referensinya.. ^^


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: