29
Nov
09

Domesticity in Public Place

Domesticity, sebuah topik yang diangkat dalam kuliah Everyday and Architecture ini membahas bagaimana peran manusia sebagai pengguna ruang turut ‘dilibatkan’ dan turut diperhitungkan keberadaannya dalam proses desain. Selain itu, bagaimana arsitek turut berperan dalam mewujudkan proses desain yang demikian – yang tidak hanya mewujudkan desain yang magz photo oriented, tetapi juga human, user oriented. Kurang lebih demikianlah yang saya dapatkan selama mengikuti kuliah mengenai domesticity ini.

Pada akhir kuliah, saya mengambil kesimpulan bahwa domestisitas dalam desain sangat penting dan berpengaruh terkait dengan arsitektur keseharian. Kesimpulan saya inipun turut memperkuat argumen “Architecture of the everyday acknowledge domestic life: Repetition of familiar things” (Berke, 1997). Walaupun demikian, saya banyak bertanya-tanya mengenai penerapannya dalam desain.

Seperti yang dijelaskan saat kuliah, arsitek seringkali terpaku pada bagaimana menyajikan sesuatu yang saya sebut sebagai ‘estetis semu’. Hal ini terkadang membuat para perancang membuang segala hal yang mengganggu nilai estetis tersebut tanpa menghiraukan cerita-cerita yang memiliki makna penting bagi pengguna desain. Lalu, apa yang sebaiknya arsitek lakukan? Pada akhirnya, kita pun menemukan jawaban di mana arsitek dalam proses desainnya, seharusnya memikirkan dan turut mempertimbangkan peran pengguna desain. Kemudian, muncul lagi sebuah pertanyaan. Apabila arsitek dituntut berada dalam situasi di mana ia harus menghasilkan desain yang diperuntukkan bagi banyak orang, bagaimana seharusnya ia bersikap? Merancang sesuai dengan kebutuhan setiap orang-kah? Atau mengambil kesamaan, nilai-nilai umum, dan generik? Yang tentunya dalam hal ini sangat amat berbeda dengan prinsip domesticity. Apakah dengan demikian, everyday architecture tidak dapat diterapkan pada ruang publik?

Pada akhir perenungan, saya pun berhenti di mana terbentuk sebuah kesimpulan bahwa desain yang mementingkan domesticity belum tentu sebuah desain yang unik terhadap individu tertentu saja. Namun, yang ingin ditekankan adalah lebih pada bagaimana sebuah desain diterapkan dengan memperhitungkan dan mempertimbangkan keberadaan manusia, si pengguna, dengan KULTUR yang spesifik. Kultur di sini dapat menjadi bentuk generalisasi dalam mendesain ruang-ruang publik, tanpa mengesampingkan pengguna ruang tersebut. Jadi, domesticity yang erat kaitannya dengan everyday architecture tidak eksklusif pada ruang-ruang non publik, tetapi juga dapat diterapkan pada ruang publik. Hal ini pun secara tidak langsung menegaskan bahwa everyday architecture dapat menjamah seluruh praktek desain. Lalu, bagaimana menurut pendapat anda?


2 Responses to “Domesticity in Public Place”


  1. December 10, 2009 at 12:11 am

    tentang bagaimana menyelesaikan desain ruang publik sekaligus domestik didalamnya dengan pendekatan everyday architecture saya rasa memang sukar, karena perancang akan langsung dihadapkan pada desain bagi dua kubu yakni publik dan domestik sekaligus. kedua ruang ini memang memiliki sifat yang berbeda, ruang publik terkesan heterogen dan complex sedangkan ruang domestik terkesan privat. yang dilakukan oleh perancang dengan pendekatan everyday architecture menurut saya adalah memperhatikan keterkaitan antara keduanya kemudian memperjelas hubungan antara ruang publik dan domestik itu sendiri, dan memperbaiki ‘kerusakan’ didalam hubungan kedua ruang.

  2. December 21, 2010 at 7:48 pm

    Menurut saya domesticity pada ruang publik terkait dengan “sense of belonging” pengguna ruang di dalam ruang tersebut. Jadi bagaimana agar menarik orang untuk tidak sekedar menjadikan tempat tersebut semata-mata sebagai objek tetapi menjadikan tempat tersebut sebagai miliknya. Salah satu penciptaan nilai domesticity adalah melalui partisipasi warga. Apabila warga terlibat dalam proses pembangunan, maka mereka akan merasa adanya “attachment” pada ruang tersebut sehingga bangunan tersebut menjadi bernilai bagi mereka. Mereka kemudian akan berusaha menjadikan tempat tersebut bersih dan kemungkinan vandalisme dan kriminalitas akan menjadi minim. Suatu saat apabila mereka melihat bangunan tersebut, bangunan tersebut akan lebih bernilai karena ada “kenangan- kenangan personal” yang tidak terlupakan akan pengalaman orang tersebut dengan bangunan yang dilihat.


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: