29
Nov
09

Invaders in the Everyday, Bad or Good?

Saya melihat arsitektur dan keseharian sebagai suatu cara  mengoptimalkan dan menggunakan segala potensi yang ada pada suatu tempat sehingga tempat tersebut dapat berfungsi secara tepat guna. Namun yang menjadi pertanyaan saya adalah apa yang terjadi apabila potensi lokal tersebut digabungkan dengan potensi yang datang dari luar, dalam hal ini saya sebut sebagai invaders.

Untuk itu saya mencoba membandingkan kedua kasus yang terjadi pada dua suku pada tempat yang berbeda dan kebudayaan yang berbeda pula.

Seringkali bagi sebuah kota pariwisata adanya pendatang atau turis ke kota mereka merupakan sebuah hal yang baik. Ada tidaknya ‘pendatang’ pada sebuah kota daerah pariwisata berpengaruh terhadap banyak hal , salah satunya adalah perekonomian. Para turis memberikan devisa bagi negara dan secara tidak langsung mendorong pemerintah serta masyarakat untuk lebih memelihara objek wisata yang mereka kunjungi (Tourist in Historic Towns, Aylin Orbasli).

Namun di sisi lain keberadaan para pendatang bisa saja menghilangkan keseharian yang telah ada sebelumnya dalam masyarakat tersebut baik cara berkegiatan maupun perilaku sehari – hari. Hal ini mungkin tidak begitu dirasakan pada sebuah daerah yang telah menjadi tujuan wisata selama bertahun – tahun.

Salah satu contohnya adalah pada suku Sherpa yang hidup disekitar Pegunungan Himalaya, bertani dan berdagang adalah profesi orang Sherpa selama lima abad mereka tinggal di Solu Khumbu. Kurun waktu setengah milenium yang tidak membawa orang Sherpa dalam kemajuan materi. Mereka matang dalam religi dengan tumbuhnya biara-biara dan kuil. Orang – orang Sherpa ini tinggal di lembah – lembah sungai. Mereka membangun desa-desa dan ladang-ladang. Rumah-rumah yang dibangun dari tumpukan batu-batu gunung. Lereng dicangkul hingga membentuk teras-teras untuk ladang.

Banyak pendatang yang datang ke tempat ini berharap dapat melihat hal – hal yang masih asli dari suku – suku sekitar pegunungan Himalaya, bagaimana cara mereka hidup sehari – hari, seperti apa tempat tinggal mereka, dan sebagainya. Namun disisi lain orang – orang asli ini sendiri merasa tidak ingin menjadi semacam museum antropologi bagi para turis. Mereka – mereka yang bekerja di bidang pariwisata berusaha menyamakan diri dan pola hidup seperti apa yang dilakukan oleh para pendatang.

Mereka memang mempertahankan originalitas mereka misalnya dalam hal agama yang dianut atau pemberian nama bagi keturunan mereka. Namun ada bagian – bagian tertentu yang (dengan sengaja) disesuaikan dengan keadaan sekitar mereka yang memang telah berubah misalnya cara berpakaian, cara mereka mengakses hiburan , dan bagaimana mereka hidup dalam sebuah wilayah.

Contoh kedua adalah masyarakat asli suku Dhani Wamena Papua. Pada tahun 1960an mayoritas masyarakat suku masih ini hidup dalam kebudayaan asli mereka, bagaimana kebiasaan mereka, cara berpakaian, berkumpul bersama, dan bagaimana hunian mereka. Hunian masyarakat Wamena sendiri yang berbentuk lingkaran dan beratap ilalang tebal cukup hangat di pagi dan sore hari, dimalam hari penghuni rumah dihangatkan dengan api yang sengaja dibuat di dalam rumah. Babi, hewan ternak warga seolah sudah menyatu dengan kehidupan masyarakat sehari – hari.
Masyarakat pada saat itu belum banyak mengetahui tentang sanitasi yang baik. Rumah honai dirasa nyaman karena memberi kehangatan di daerah dingin tersebut. Namun jika diperhatikan lebih lanjut rumah ini ternyata kurang sehat karena hanya memiliki satu bukaan untuk sirkulasi udara dan untuk mengeluarkan asap dari dalam rumah.

Keadaan telah membaik dalam kurun waktu terakhir saat ini akibat adanya invasi pendatang. Banyak penduduk yang telah memerhatikan pentingnya sirkulasi udara bagi hunian mereka juga membuat sanitasi yang baik. Beberapa hal yang asli dan menjadi ‘keseharian’ selama bertahun – tahun dan turun – temurun mungkin akan hilang.

Menurut saya keadaan ini menunjukkan bahwa kehadiran invaders bisa merupakan hal yang baik. Invaders tersebut mungkin mampu menghilangkan beberapa hal yang tidak diperlukan atau mungkin tidak baik bagi masyarakat, mengoptimalkan potensi yang berguna, atau bahkan memunculkan ide – ide baru yang timbul dari penggalian keseharian masyarakat itu sendiri.

Arsitektur yang memperhatikan keseharian masyarakat merupakan suatu cara untuk menyelesaikan suatu problem pada sebuah tempat dalam kurun waktu tertentu. Sebuah penyelesaian arsitektural sebaiknya dapat mampu mengatasi ‘kebosanan’ masyarakat atas keseharian mereka yang sifatnya negatif dan telah berlangsung selama bertahun – tahun (dalam waktu yang lama), dengan tetap mempertahankan segala bentuk keseharian apa saja yang positif dan bermanfaat.

Referensi :

Krakauer,Jon.Into Thin Air

Orbasli, Aylin.(2000)Tourist in Historic Towns,London: E & FN Spon

http://irjayanti.multiply.com/reviews/item/19

 


0 Responses to “Invaders in the Everyday, Bad or Good?”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: