08
Dec
09

Yang TUA yang bekerja, yang MUDA yang menonton…

Dalam community project ini, partisipasi warga dalam proses pembangunan ruang berkumpul sekaligus pusat informasi  turut mengambil andil besar. Warga yang kesehariannya bekerja sebagai pengrajin furniture mengerti tentang bagaimana sebuah struktur kayu bisa berdiri dengan kokoh tanpa menghabiskan banyak elemen stuktur  lainnya.  Proses  pengerjaan keberdiriannya bermula sejak tanggal 21 november 2009.

Dalam proses yang saya amati, para warga turut berpartisipasi dalam pengerjaannya. Mereka sangat antusias dari seluruh proses yang ada seperti pengangkatan kayu ketika kayu baru datang, diskusi tentang keberdiriannya, pemotongan kayu, penghalusan kayu, dan sebagainya.

Dalam proses diskusi tentang keberdirian, mereka tidak langsung saja menerima penjelasan dari kami. Namun yang mereka lakukan adalah memodifikasinya. Mereka memodifikasi sistem struktur yang sudah kami rancang menjadi sistem struktur yang sudah mereka tekuni  dan mengerti sebagai pengrajin kayu dalam kesehariannya. Sehingga hasil dari ruang berkumpul yang kami rancang berbeda dengan hasil pada kenyataannya di masyarakat.

Everyday is living experience. sebuah proses pembangunan ruang berkumpul bagi mereka  merupakan bagian dari keseharian mereka sebagai pengrajin kayu. Hal ini membuat saya berfikir bahwa kita sebagai pihak asing tidak bisa dengan mudah mengubah suatu kebiasaan atau keseharian suatu masyarakat. Masyarakat sendiri yang mengerti bagaimana kebiasaan dan keahlian mereka sehingga menimbulkan sebuah pengalaman hidup yang diterapkan dalam keseharian.

Setelah itu saya mengamati, ada sebuah “ketimpangan”  dalam proses  keberdirian ruang berkumpul yaitu proses pengerjaannya dilakukan oleh bapak-bapak dengan range usia yang sudah bisa dibilang tua. Sedangkan bapak-bapak yang tergolong masih muda hanya melihat-lihat pekerjaan bapak-bapak yang tergolong usia tua.

Hal ini membuat saya berfikir. Kenapa hal tersebut bisa terjadi? Apa yang terjadi dengan keseharian mereka?

Kemungkinan pertama adalah bapak-bapak muda bukanlah seorang pengrajin furniture. Mereka bekerja di bidang lain seperti pegawai, buruh, dan sebagainya. Kemungkinan yang kedua adalah tidak ada bapak-bapak muda yang bekerja sebagai pengrajin furniture. Hanya tinggal pengrajin furniture yang sudah tua.

Kemungkinan yang kedua ini menimbulkan pertanyaan; Apakah tidak adanya suatu “pelestarian” akan profesi pengrajin furniture di daerah tersebut??Apakah tidak adanya suatu “regenerasi” baru yang dilakukan bapak pengrajin furniture tua kepada generasi berikutnya??atau Apakah “everyday” masyarakat mulai hilang tertelan dengan arus zaman yang semakin maju?

Hal ini menjadi suatu isu bahwa adanya pergeseran suatu “everyday” dalam masyarakat di daerah tersebut. Para bapak muda didaerah tersebut bekerja di banyak bidang selain sebagai pengrajin furniture karena beberapa alasan. Tidak adanya suatu pelestarian “profesi” mengakibatkan profesi sebagai pengrajin furniture bisa terancam hilang tertelan zaman.  Padahal didalam masyarakat  daerah tersebut sendiri menjadi pengrajin furniture merupakan sebuah identitas dan potensi  dari daerah tersebut. Mungkin pilihan atas pekerjaan lain selain pengrajin furniture merupakan tuntutan ekonomi mereka yang semakin sulit dan mencekik kehidupan mereka.

“Everyday” mulai bergeser sedikit demi sedikit. Akankah “everyday” sebagai identitas  masyarakat daerah  tersebut hilang??


1 Response to “Yang TUA yang bekerja, yang MUDA yang menonton…”


  1. 1 agungsetyawan89
    December 9, 2009 at 1:43 am

    atau ada kemungkinan ketiga dan seterusnya
    yakni para pemuda masih belum memiliki keterampilan yang sama baiknya seperti orang-orang tua. sedangkan ada rasa takut mencoba, mungkin takut melakukan kesalahan. meski sanksi-nya bisa dibilang sepele [paling hanya ditertawakan] bisa saja membuat para pemuda ini patah arang.

    dan saya melihat sendiri ada anak muda yang ikut mencoba. sambil di tertawakan karena banyak melakukan kesalahan, tapi itu semua berjalan dengan santai. jadi si pemuda tidak kabur.

    selain itu dengan adanya mereka disana [ikut menonton] sudah merupakan transfer ilmu.
    dan menurut saya akan lain ceritanya kalau proyek membangun ini ada lebih dari 1

    jadi pada tahap awal, para orang tua akan memberikan contoh.
    sambil terkadang memberi kesempatan yang muda untuk melihat, mengamati, bertanya bila perlu dan mencoba praktek.
    tahap selanjutnya orang yang tua akan membiarkan yang muda untuk menjalankan proyek lainnya. sedangkan para orang tua berperan besar dalam hal mengawasi.

    dan ini yang nanti bisa disebut sebagai tradisi, kalu dilakukan terus menerus sampai anak cucu.


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: