14
Dec
09

Everyday sebagai Basis Perancangan

Arsitektur adalah ilmu yang terbentuk karena adanya keinginan manusia untuk memasukan keindahan dalam setiap detail hidupnya, bukan hanya dilihat melainkan dialami dan dirasakan secara lengsung menjadi pengalaman ruang. Seiring dengan perkembangan kehidupan masyarakat, ilmu arsitektur pun terus berkembang tidak hanya terbatas ruang melainkan sudah berkembang menjadi ilmu yang juga mempelajari tentang manusia dan iteraksinya di dalam komunitas. Arsitektur dulu dianggap sebagai ilmu yang sangat dekat hubunganya dengan keidupan masyarakat karena dalam perkembanganya, arsitektur sangat dipengaruhi oleh perkembangan yang terjadi di dalam masyarakat. Hasil dari proses berarsitektur juga akan secara langsung digunakan oleh masyarakat. Akan tetapi, pandangan masyarakat mengenai arsitektur saat ini sudah bergeser sangat jauh. Arsitektur saat ini dianggap sebagai ilmu yang identik dengan modernitas, bisnis, kemewahan, dan teknologi yang sangat jauh dengan everyday masyarakat. Hal ini disebabkan karena banyak sekali arsitek yang merancang sesuatu dengan menggunakan fakta dan data sebagai basis perancangan, bukan eveyday masyarakat. Padahal, apa yang terlihat sabagai everyday masyarakat saat ini sebenarnya bukanlah everyday dari masyarakat itu sendiri melinkan modernity yang dilakukan berulang-ulang dalam waktu yang cukup lama sehingga banyak orang yang menganggap itu sebagai everyday masyarakat. “The everyday is covered by a surface: that of modernity.” (Lefebvre, 1997: 37)

Masyarakat Indonesia adalah tipe masyarakat yang terbuka terhadap hal-hal baru. Apalagi jika hal baru itu berasal dari negara maju yang selama ini sering dijadikan sebagai ‘kiblat’ masyarakat dalam memaknai sebuah kehidupan yang moderen yang menyenangkan dengan berbagai kemudahan dan kemewahan yang ditawarkanya. Semakinnbanyaknya modernity yang menutiupi everyday, mengakibatkan everyday yang sebenarnya dari masyarakat menjadi lebih sulit untuk ditemukan. Padahal ini berpengaruh sangat buruk terhadap masyarakat itu sendiri karena jika hal ini terus berlanjut masyarakat akan kehilangan jadi dirinya dan akan muncul masyarakat yang homogen dan tidak terdapat perbedaan masyarakat satu dengan masyarakat lainya. Contohnya ketika mall sedang marak di kota jkota besar di Indonesia, kota-kota kecil juga berlomba-lomba untuk mendirikan bangunan dengan fungsi serupa sehingga perbedaan antara kota besa dan kota kecil semakin tipis dan dapat dilihat adanya sebuah proses peng-homogen-an dari kotakota itu sebagai akibat modernity agar tidak dianggap sebagai kota yang kuno dan tidak mengikuti trend.

Karena semakin sulitnya mencari everyday yang sebenarnya darri masyarakat, arsitek lebih memilih mendesain berdasarkan apa yang dilihatnya dalam masyarakat dan memperkirakan apa yang akan berkembang dalam masyarakat dalam beberapa tahun kedepan. Hal ini semakin mempersulit pencarian everyday yang sebenarnya dalam masyarakat. Jika hal ini terus berlanjut, lama kelamaan arsitektur akan kehilangan verydaynya sebagai ilmu yang erat dengan kehidupan masyarakat yang sebenarnya menjad ilmu yang hanya dapat dinikmati oleh masyarakat yang berasal dari golongan atas yang dapat mengikuti perkembangan mnodernitas. Oleh karena itu, basis dalam proses perancangan arsitektur perlu dirubah mulai sekarang dari perancangan berbasis fakta dan data menjadi perancangan berbasis problem dan everyday agar arsitektur tetap dapat dinikmati oleh masyarakat yang berasal dari semua kalangan dan menjadi ilmu yang inklusif, bukan eksklusif.


2 Responses to “Everyday sebagai Basis Perancangan”


  1. 1 meurin
    December 21, 2009 at 11:59 pm

    Arsitek kesulitan mencari everyday yang sesungguhnya karena waktu yang diberikan klien tidak mencukupi atau klien yang kurang berkompromi (ngotot mempertahankan keinginannya. Apalagi everyday itu bersifat berubah-ubah. Misalkan dulu, tidak banyak orang memakai komputer. Kini, orang sangat lekat dengan komputer. Buktinya merebaknya warnet atau hotspot di sekitar kita.

    Jadi maksud saya, bisa jadi kegiatan berpergian ke mal telah menjadi everyday kit, sebagai masyarakt kalangan menengah dan atas. Kegiatan berkumpul di ruang bersama seperti lapangan sudah bukan lagi everyday bagi masyarakat kelas menengah dan atas

  2. December 24, 2009 at 2:22 pm

    Tulisan anda menurut saya cukup menarik,namun ada beberapa hal yang sedikit membingungkan.
    “Oleh karena itu, basis dalam proses perancangan arsitektur perlu dirubah mulai sekarang dari perancangan berbasis fakta dan data menjadi perancangan berbasis problem dan everyday ….”
    Menurut saya, untuk mendapatkan apa itu problem dan everyday dibutuhkan fakta dan data. Mencari apa itu everyday , tentunya mencari fakta yang sebenarnya terjadi, fakta yang ada dibalik surface. Seperti yang kita lakukan pada studio-studio perancangan. Kita diminta untuk mengunjungi site lebih dari sekali. Hal ini dimaksudkan agar kita benar-benar dapat mengetahui fakta yang benar-benar terjadi di sana. Tidak hanya mengambil data-data berupa geometri atau geografisnya saja. Perancangan berbasis everyday, menurut saya adalah perancangan yang menggunakan fakta dan data dengan lebih berpandangan terbuka. Kita diminta untuk melihat hal-hal dari sudut pandang yang berbeda. Melihat hal-hal kecil yang tadinya tidak kita sadari.
    Sedangkan, pendapat anda mengenai kota-kota kecil yang saling berlomba untuk mendirikan bangunan dengan fungsi serupa di kota besar, menurut saya sangat menarik. Saya pernah mengunjungi suatu bangunan yang digambarkan seperti hal di atas. Menurut saya bangunan tersebut tidak everyday sama sekali. Bangunan ini merupakan bangunan komersial yang dibuat serupa dengan fungsi di kota-kota besar terdiri dari 4 lantai dan menggunakan AC,. Namun, ketika memasuki bangunan ini seluruh bangunan seperti gumpalan asap rokok. Tidak adanya kesinambungan antara pengguna dan wadahnya (bangunan) padahal ,tentu saja yang kita tahu bahwa di ruangan berAC tidak diperkenankan untuk merokok. Mungkin hal ini perlu ditelaah lagi, apakah bangunan ini hadir karena ‘kebutuhan’ atau hanya karean ‘keinginan’ akan identitas modern semata.


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: