14
Dec
09

ideal city

Ideal memiliki makna yang berbeda-beda bagi setiap orang dan akan terus berkembang seiring berkembangnya kehidupan masyarakat yang dipengaruhi juga oleh perkembangan teknologi, ekonomi. Pada sekitar tahun 1960 misalnya, kota yang dianggap ideal adalah kota yang teratur dengan grid-grid sempurna dan bangunan-bangunan yang simetris lengkap dengan taman sebagai pusat kota. Seiring berkembangnya kebutuhan masyarakat akan ruang, bentuk ideal akan sebuah kota juga berubah menjadi kota yang ramai dengan banyak perkantoran, pabrik dan area komersil.

A city made for speed is made for success. Therefore , nothing could be come in the way of the traffic flow and the separation was seen as the part way to achieved on struction freemovement in the city” (Le Corbusier). Memisahkan kota menjadi bagian-bagian tertentu dan menggunakan kecepatan pergerakan dalam kota yang akhirnya ‘mengkotak-kotakan’ masyarakat sesuai dengan bidangnya sehingga mengakibatkan kurangnya interaksi dan adanya gape antara masyarakat golongan yang satu dengan yang lainya. Parameter kota ideal yang diajukan oleh Le Corbusier ini digunakan oleh banyak kota di negara maju tetapi sangat tidak cocok digunakan di Indonesia. Bahkan, jika digunakan sebagai parameter kota ideal di Indonesia dan diterapkan di Indonesia justru akan merusak everyday yang sudah terbentuk dan akan menghilangkan banyak ciri khas dari masyarakat Indonesia yang membedakanya dengan kota di negara lain. Contoh yang paling dekat dengan kehidupan kita adalah ketera ekonomi. Kita dapat memenuhi sebagian kebutuhan hidup kita ketika menaiki kereta ekonomi mulai dari minuman, makanan, buah-buahan, koran, majalah, buku bacaan, pulpen, mainan anak, asesoris, kaos kaki, DVD, bahkan alat dapur pun juga ada. Jika ini dihilangkan maka akan ada banyak orang yang kehilangan pekerjaanya dan kita akan kehilangan sebuah kualitas ruang yang ada di dalam kereta itu.

Pengertian ideal yang dikemukakan oleh Lynne Mitchell dan Elizabeth Burton dalam bukunya yang berjudul “Inclusive Urban Design Street for live” yang mengatakan bahwa parameter kota ideal meliputi familiarity, legibility, distinctiveness, accessibility, comfort, dan safety mungkin lebih cocok dijadikan sebagai parameter kota ideal di Indonesia. Hal ini disebabkan karena everyday masyarakat Indonesia sendiri yang memiliki rasa kekeluargaan yang erat antara satu orang dengan orang lainya dan sangat mengutamakan interaksi seperti ada pepatah yang mengatakan “mangan ora mangan sing penting kumpul (makan ga makan yang penting kumpul)”. Hal ini menunjukan bahwa rasa kekeluargaan sangat dijunjung tinggi oleh masyarakat Indonesia apapun yang terjadi. Ketidakteraturan yang terjadi dalam masyarakat Indonesia justru menjadi sebuah kualitas tersendiri bagi masyarakat.

Kita tidak dapat mengatakan ke disorderan sebagai sesuatu yang tidak ideal begitu saja karena ke-ideal-an ditentukan oleh everyday yang terjadi dalam masyarakat dan parameter ideal bersifat sangat subjektif.


0 Responses to “ideal city”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: