22
Dec
09

supir taksi di singapura

Saat saya berada di Singapura, saya menaiki sebuah taksi. Di dalam perjalanan, saya mencoba berbincang-bincang dengan sang supir taksi. Di dalam perbincangan tersebut, ia menceritakan bahwa bertahun-tahun yang lalu ia adalah seorang petani. Dahulu Singapura sangat jauh berbeda dengan kondisi yang sekarang. Masih banyak sawah, ladang maupun hutan di kota ini. Namun perkembangan yang pesat menuju modernisasi menyebabkan sawah dan hutan tersebut diubah menjadi bangunan-bangunan komersial. Ia mengatakan bahwa kehidupannya bersama dengan keluarganya berubah dengan adanya modernisasi tersebut.

Dahulu ia dapat tinggal dengan harmonis dengan tetangga-tetangganya, saling bertegur sapa dan membantu jika ada kesulitan. Namun sekarang antar tetangga saja tidak saling mengenal atau sangat individualis. Ia bahkan menasehati saya untuk belajar rajin agar bisa menghasilkan uang yang banyak karena ”money is friend”.

Wah, ternyata perubahan suatu kota diakibatkan modernisasi dapat mengubah warganya yang bersifat kekeluargaan dan tenggang rasa menjadi lebih bersifat individualis. Nampaknya beberapa kota di Indonesia seperti di Jakarta juga sudah mengalami hal yang serupa. Bangunan-bangunan komersil untuk bisnis menjamuri kota sehingga warganya menjadi berorientasi kepada pemenuhan kebutuhan pribadi atau mengejar laba sebesar-besarnya. Mungkinkah jika hal ini terus berlanjut maka akan sulit ditemukan seseorang yang peduli pada sesamanya?


0 Responses to “supir taksi di singapura”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: