24
Dec
09

Arsitektur sebagai benda hidup

Arsitektur, tidak seperti bidang seni lain, hadir dalam  realitas sehari – hari. Arsitektur adalah ruang fisik untuk aktivitas manusia, yang memungkinkan pergerakan manusia dari satu ruang ke ruang lainnya, yang menciptakan tekanan antara ruang dalam bangunan dan ruang luar. Namun, bentuk arsitektur juga ada karena persepsi dan imajinasi manusia.

Karena eratnya hubungan antara manusia dan arsitektur inilah maka dalam menghadirkan arsitektur hendakanya kita sebagai arsitek harus benar – benar mengetahui  bagaimana  perilaku manusia yang akan berkenaan dengan karya arsitektur tersebut. Kata perilaku menunjukan manusia dalam aksinya, berkaitan denagan semua aktivitas manusia secara fisik; berupa interaksi manusia dengan sesamanya ataupun dengan lingkungan fisiknya. Di sisi lain, desain arsitektur akan menghasilkan suatu bentuk fisik yang bisa dilihat dan bisa dipegang. Karena itu, hasil desain arsitektur dapat menjadi salah satu fasilitator terjadinya perilaku, namun juga bisa menjadi penghalang terjadinya perilaku.

“ we shape our buildings and afterwards our buildings shape us. “ (Winston Churcill, 1943)

Dari keterkaitan yang menimbulkan interaksi bolak – balik inilah dapat dikatakan arsitektur itu bukan hanya sekedar objek ciptaan manusia berupa benda mati. Karena dalam ke-eksistensiannya, tidak dapat dipungkiri arsitektur akan hidup bersama – sama kita sebagai manusia yang akan selalu membutuhkan arsitektur.

Jika kita dapat hidup dengan rukun dan damai bersama arsitektur yang hidup dengan kita, tak jarang sebuah karya arsitektur pun akan hidup lama dalam ke-eksistensiaannya di muka bumi ini. Sebagai contoh adalah hasil – hasil peninggalan bersejarah yang hidup dalam beberapa perubahan zaman ( generasi ). Di Jakarta pun masih terdapat  peninggalan bersejarah yang  masih hidup sampai saat ini bersama – sama dengan warga Jakarta, yakni di kawasan kota tua. Disana dapat kita jumpai karya – karya arsitektur peninggalan orang – orang tedahulu yang masih bermanfaat bagi kehidupan kita saat ini. Kita ambil contoh Museum Fatahillah. Dahulu museum ini adalah pusat pemerintahan kota Batavia yang juga digunakan sebagai penjara bawah tanah untuk para tahanan pemerintah. Namun, hingga kini sebuah karya yang mengesankan ini juga masih dapat eksis bersama – sama kita di tengah – tengah kota Jakarta ini, walupun sudah berubah nilai fungsinya. Saat ini Museum Fatahillah dan juga bangunan – bangunan lain di Kawasan Kota Tua, selain sebagai objek peninggalan bersejarah tetapi juga sebagai pemenuh kebutuhan hidup manusia lainnya, seperti; rekreasi, pendidikan, bahkan hingga profesi pekerjaan ( entertainment, fotografi, dan lain lain ).

Tetapi dalam kehidupannya manusia pun tak jarang berbuat kerusakan yang pada akhirnya akan merusak karya – karya arsitektur yang ada. Kerana manusia dalam ekosistemnya relatif mempunyai peran yang sangat kecil. Banyak sekali perubahan yang terjadi di dalam ekosistem tersebut justru berada di luar campur tangan manusia. Akan tetapi, manusia dapat menjadi sumber masalah karena manusia elalu menginginkan yang terbaik bagi dirinya sendiri ( sikap antroposentris ) dan dalam jangka panjang dapat merugikan sesama manusia dan atau lingkungan fisiknya.


0 Responses to “Arsitektur sebagai benda hidup”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: