24
Dec
09

perancang belajar+bekerja bersama komunitas

Dalam mewujudkan sebuah karya berarsitektur yang merupakan ungkapan nyata dari kebersamaan penduduk atau komunitas dibutuhkan pendekatan dari ‘dalam’. Pendekatan dari dalam atau yang dapat disebut pendekatan inklusif ini bertujuan untuk membentuk ikatan emosional antara penduduk secara personal dengan produk yang akan dihasilkan. Pengguna harus dapat memainkan peranannya secara aktif dalam proses yang kreatif. Metode yang digunakan adalah bersifat parsitipatif. Metode tersebut berdasarkan pada elemen-elemen yang bersifat kognitif ataupun fungsional akan apa yang dibutuhkan. Hal ini menarik warga langsung untuk menentukan sendiri di tempat mana mereka sering berkumpul pada hari biasa dengan cara kreatif yang diusung yaitu dengan memberi tusukan warna-warni sesuai dengan waktu dan tempatnya. Walaupun sederhana, tetapi ini adalah cara ketika penduduk sendiri diberi kesempatan untuk mengidentifikasikan sesuatu dari sudut pandang mereka sendiri. Moment ini akan menyoroti point-point yang dapat menjadi kritik atas apa yang mereka butuhkan sesuai dengan konteks nilai dan kebutuhan dasar penduduk tersebut. Ini adalah kesempatan yang baik bagi perancang untuk masuk ke ‘dalam’ dan melihat segala sesuatunya dengan mata yang segar, sampai kita menjadi bagian dari komunitas.

Keterbukaan pemikiran dan komunikasi merupakan dasar pendekatan yang penting. Membangun kepercayaan serta komunikasi yang efektif akan menjadi dasar pijakan keberhasilan kerja sama ini. Mungkin akan banyak tersingkap hal-hal yang justru tidak didapat pada saat hanya berwawancara dengan mereka.

Peran arsitek mungkin tidaklah terlalu besar, bahkan relatif kecil dibandingkan dengan ilmu yang dimilikinya selama bertahun-tahun ‘belajar’, tetapi justru peran tersebut dapat nyata dirasakan penggunanya ketika arsitek mampu membantu komunitas untuk menemukan kembali, mengingat dan mengembangkan apa yang sudah ada.

Berpartisipasi bahkan dapat dilakukan sampai pada tahap akhir, yaitu membangun bersama-sama apa yang sejak awal telah lahir melalui proses konsensus oleh kolaborasi penduduk dan arsitek. Dengan memanfaatkan sumber daya yang ada, terutama tenaga, pengalaman dan pengetahuan yang telah mereka miliki, dapat memberikan peluang yang besar bagi mereka untuk menyalurkan aspirasi yang muncul on the spot. Sehingga, tak jarang terdapat toleransi atas perbedaan pemahaman antara perancang dengan warga. Namun, dari hal ini justru kita dapat melihat partisipasi dan kebersamaan tersebut mampu memberi wadah untuk aspirasi, karena dari proses inilah terbukti keterikatan mereka secara emosional dengan produk yang nantinya akan mereka gunakan secara kolektif.

The architecture of the everyday is built (Architecture of the Everyday, Steven Harris and Deborah Berke (Eds), 224)
Pada akhirnya keseharian arsitektur itupun dibangun. Baik melalui karya yang berwujud bangunan ataupun instalasi, pada dasarnya memiliki spirit yang sama, yaitu memperkuat rasa kebersamaan dalam komunitas. Karena pada awalnya kebersamaan menjadi prasyarat munculnya partisipasi. Berarsitektur merupakan proses berkarya yang mampu mengartikulasi kebutuhan, nilai, dan keseharian komunitas sebagai point yang digaris bawahi.

Harris, Steven; Berke, Deborah, Architecture of the Everyday
Miles, Malcolm, The Uses of Decoration: Essays in the Architectural Everyday, 2000


0 Responses to “perancang belajar+bekerja bersama komunitas”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: