24
Dec
09

Perlukah mengaplikasikan metode “everyday architecture” dalam mendesain . . . ? ?

Selama pembelajaran mengenai everyday architecture ini, saya mendapatkan sebuah pemikiran baru dalam menentukan rancangan dalam proses mendesain. Akhirnya saya mengetahui mengapa kita sebagai arsitek nantinya harus benar – benar mengetahui bahkan  memahami bagaimana everyday life yang terjadi pada suatu tempat yang dimana nantinya kita akan menghadirkan sebuah intervensi arsitektur di dalamnya.

Saya sadari bahwa dalam menciptakan sebuah desain arsitektur yang nantinya akan berinteraksi langsung dengan manusia sebagai penggunanya, kita perlu benar – benar mengetahui bagaimana perilaku manusia di dalamnya. Yang kemudian dari perilaku manusia itu akan kita ketahui kebutuhan – kebutuhan apa saja yang mereka butuhkan. Namun, disinilah timbul petanyaan untuk saya ketika sampai dalam tahap mengetahui kebutuhan dasar manusia. Saya membaca sebuah pendapat dari seorang psikolog, yakni Abraham Maslow. Pendapatnya menyatakan bahwa manusia memiliki tingkat kebutuhan dasar yang berbeda dan dapat berubah, yakni dapat meningkat.

Dari diagram Maslow ini dapat dikatakan apakah yang dinamakan everyday life yang notabenenya berdasar dari perilaku dan kebutuhan dasar manusia akan selamanya tetap sama dalam diri manusia? Lalu apakah sebuah karya everyday architecture itu dapat terus eksis dalam site-nya? Dengan simulasi seperti ini; suatu saat kita ingin melakukan intervensi arsitektur ke dalam sebuah site. Lalu saat itu kita awali metode merancang kita dengan menganalisis bagaimana everyday life terjadi dalam site tersebut. Hingga akhirnya sebuah karya everyday architecture dapat kita ciptakan dan hadir dalam komunitas tersebut. Namun, bagaimanakah dengan ke-esksistensiannya setelah beberapa tahun atau bahkan dekade mendatang? Manusia sebagai mahluk hidup akan terus berkembang, dan seperti yang dikatakan seorang Maslow tingkat kebutuhan dasar manusia akan berubah seiring perjalanan hidupnya. Lalu apakah everyday life di waktu lalu itu akan tetap berlaku untuk everyday life di waktu mendatang?

Tetapi jika kita melihat proses restorasi dari bangunan – bangunan cagar budaya, seluruh bentuk bahkan hingga elemen demi elemenya di restorasi kembali sesuai bentuk aslinya terdahulu sekalipun dengan materialnya diusahakan untuk disesuiakan dengan yang terdahulu. Dari sini kita melihat fenomena masa lalu yang masih eksis hingga kini. Lalu apakah sebenarnya dalam proses restorasi ini masih memperdulikan bagaimana everyday life yang terjadi . . . ? ? ?


0 Responses to “Perlukah mengaplikasikan metode “everyday architecture” dalam mendesain . . . ? ?”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: