03
Jan
10

Karakter dari sebuah rancang bangun

Ketika arsitek merancang, seringkali muncul ego dalam diri arsitek tersebut sehingga rancangannya menjadi “diakui”,”dikagumi”,dan sebagainya. Menampilkan karakter dan pemikiran sang arsitek dalam rancang bangunannya. Tapi, hal ini bisa saja menjadi ”bencana” bagi para pengguna rancang bangun si arsitek tersebut, jika ego sang arsitek membuatnya mengabaikan kebutuhan dan karakter si calon pengguna tersebut. Bisa saja sebuah karya arsitektur begitu menarik perhatian, indah, namun ia seperti ”alienisasi” di suatu komunitas, karena ia tak mampu mewadahi keseharian komunitas tersebut. Karakter yang dimunculkan dari rancang bangun tersebut adalah ego sang arsitek, bukanlah karakter dan kebutuhan komunitas tersebut.

Maka saya mengutip, mengenai apa yang arsitek harus lakukan menurut Berke:

What should architect do instead? A simple and direct responses acknowledge the needs of the many rather than few address diversity of class, race, culture, and gender; without allegiance to a priori architectural styles or formulas, and with concern for program and construction…” (Berke, 1997).

Dalam kutipan tersebut ada beberapa yang bisa digarisbawahi mengenai apa yang kemudian arsitek lakukan:menyoroti pada kebutuhan,berfokus pada program dan konstruksi, bukannya setia pada gaya atau formula arsitektur sebelumnya, sehingga karya arsitektur yang muncul dapat ikut “hidup” bersama penggunanya, bukan sekedar karya seni atau sebagai objek semata.


0 Responses to “Karakter dari sebuah rancang bangun”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: