21
Oct
10

“Social Sculpture” Sebagai Wadah Komunitas

Beberapa waktu lalu, pada kuliah Keseharian dan Arsitektur membahas tentang proyek-proyek komunitas yang berkaitan dengan keseharian dan komunitas di sekitarnya. Muncul kata “social sculpture” yang menjadi wadah untuk melakukan aktivitas berasama dan meningkatkan ikatan sosial dalam lingkugannya. Muncul dalam benak saya bagaimana dengan kultur kita sekarang? Adakah ruang yang dapat menjadi wadah interaksi sosial dalam model area hunian kita sekarang?, yang notabene semakin privat.

Yang sepintas terpikirkan adalah kegiatan para bapak-bapak yang sering berkumpul untuk sekedar bermain catur atau kartu sambil bercakap-cakap. Kegiatan sering terjadi pada area rumah saya pada saat saya masih tinggal di perumahan yang notabene interaksi antar tetangganya cukup akrab. Sehingga rumah ketua RT sering di pakai sebagai sarana untuk berkumpul bersama. Sekilas terlihat sepele tetapi ternyata kegiatan tersebut membuat kita dapat mengenal semua tetangga kita. Hal tersebut berubah ketika saya tinggal di daerah perumahan yang lebih tertutup ditandai dengan tipe rumah yang berpagar tinggi dan saling tidak mengenal. Tidak ada lagi aktifitas warga yang bercakap-cakap di jalan dan membuat suasana lebih dingin dari rumah yang lama.

Kuliah ini membuat saya berpikir apakah kultur kita yang semakin individual dapat dirubah dengan melihat keseharian kita sendiri. Dan menariknya kedalam konteks lebih luas sehingga dapat dilakukan berasama dan menjadi sebuah “social sculpture”.


3 Responses to ““Social Sculpture” Sebagai Wadah Komunitas”


  1. 1 inka
    October 26, 2010 at 12:08 pm

    saya krg ngerti apa itu social sculpture..
    setelah saya searching2..
    ternyata social sculpture adalah sebuah ‘genre’ seni oleh Yusuf Beuys.
    social sculpture ternyata bukan hanya sebagai wadah komunitas saja tetapi social sculpture ini menjadi identitas komunitas dan setiap individu berkontribusi mewujudkannya.

    ” konsep social sculpture, di mana masyarakat secara keseluruhan adalah dianggap sebagai satu karya seni besar (yang Gesamtkunstwerk Wagnerian) yang setiap orang dapat berkontribusi secara kreatif (mungkin yang paling terkenal frase Beuys, dipinjam dari Novalis , adalah ‘Setiap orang adalah seniman’)”-wikipwdia.com-

  2. October 26, 2010 at 1:46 pm

    Memang semakin susah untuk dapat menemukan ‘social sculpture’ dalam komunitas lingkungan hidup kita di Indonesia, tetapi bukan berarti sudah tidak dapat ditemukan lagi. Salah satu contohnya, ketika kemarin saya melakukan survei di PAL, saya menemukan bahwa warga di sana cukup banyak bersosialisasi dengan tetangganya, saling mengenal, dan berinteraksi di jalan. Menurut saya, dengan anda pindah rumah dari perumahan biasa ke perumahan yang lebih tertutup, bukan berarti disebabkan karena budaya kita yang semakin individual sehingga sangat sulit untuk menemukan social sculpture. Namun itulah yang mengimplikasikan adanya lingkungan-lingkungan yang terbuka maupun tertutup/lebih privat, tergantung anda pindah ke mana. Hanya saja, mungkin memang benar lingkungan hidup di Indonesia sudah lebih privat. Semuanya itu tidak dapat dipungkiri merupakan akibat dari perkembangan kehidupan urban yang serba sibuk dan kurangnya fasilitas-fasilitas publik yang ditujukan sebagai ruang tempat berkumpulnya masyarakat.

  3. October 26, 2010 at 3:34 pm

    Penataan perumahan di kota besar memang terlihat membuat kehidupan semakin privat. Namun tidak hanya di situ saja letak kesulitannya, rutinitas kita sehari-hari juga membatasi kita untuk saling berinteraksi. Misalnya pagi hari kita sudah berangkat sekolah, kuliah, atau kerja, dan pulang pada sore hingga malam hari, sehingga tidak ada waktu untuk berinteraksi dengan lingkungan. Tambahan pula, ketika akhir minggu biasanya penduduk kota besar lebih sering bepergian ke pusat perbelanjaan sehingga lagi-lagi tidak bisa mengenal lingkungan sekitarnya. Ya, saya setuju, keseharian kita sendiri harus diubah. Setidaknya akhir minggu dimanfaatkan untuk berkeliling sekitar rumah, misalnya jalan-jalan di pagi hari. Akan lebih baik lagi kalau pengelola perumahan atau bahkan pemerintah ikut memfasilitasi kegiatan tersebut dengan menyediakan taman atau public space lainnya.


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: