26
Oct
10

Belajar dari rumah sakit..

Komunitas terbentuk karena sebuh kesamaan yang mendasari mereka. Entah terdapat kesamaan pada tujuan, penderitaan, kegemaran, atau apapun itu. Namun kadang komunitas baru akan terbentuk apabila ada wadah yang mewadahi sekumpulan orang itu untuk berinteraksi.

Pada sebuah rumah sakit di jakarta timur, terdapat kawasan rawat inap yang menarik bagi saya. Bangsal rawat inap ini memiliki sebuah koridor yang panjang sebagai area sirkulasi umum bagi pengunjung untuk sebagai penghubung antar bangsal. Koridor ini panjang, sehingga cukup melelahkan untuk dilalui seluruhnya, tapi sekaligus menyegarkan bagi pasien-pasien yang biasanya menghabiskan waktu di tempat tidur sepanjang waktu. Koridor ini berupa sekaligus balkon sehingga saat pagi hari, cahaya yang masuk cukup banyak sehingga terasa hangat sedangkan saat siang hari cahaya matahari yang panas terhalang oleh sebuah pohon besar di depan koridor ini. Masih terasa panas, namun tidak terlalu menyengat. Pada malam hari terasa dinginnya angin malam, meyakinkan pasien-pasien untuk tetap beristirahat di dalam ruangan. Koridor ini dilengkapi dengan beberapa tempat duduk di setiap depan ruangannya. Hasilnya, hampir setiap pagi pasien-pasien ke luar ruangan kamarnya untuk sekedar duduk-duduk, berjalan-jalan melepas penat selama di dalam kamar, atau sekedar berjemur saja menikmati cahaya pagi. Pasien-pasien ini memenuhi kebutuhan mereka sebagai makhluk sosial; berinteraksi.

Terlihat seorang pemuda, ditemani istrinya, yang dengan tergopoh-gopoh berjalan bolak-balik sembari membawa botol yang berisi cairan berwarna merah yang terhubung ke selang yang tersebunyi di dalam kaosnya, menyapa setiap penghuni bangsal yang dilewatinya. Terlihat sesekali ia berhenti dan mengobrol dengan beberapa orang. Ada pula ibu-ibu paruh baya yang duduk di teras, walaupun dengan tangan masih tersambung kepada selang infus, mengajak berbicara atau sekadar tersenyum dan bertanya “mau kemana?” kepada setiap orang yang melewatinya. Ada juga bapak-bapak yang nampaknya sudah sehat dan sekedar duduk-duduk menikmati udara dan cahaya pagi layaknya suasana hangat seperti ini adalah hal yang sudah lama tak di rasakannya. Para perawat yang biasanya melalui koridor belakang pun rutin setiap pagi mengunjungi pasien-pasien di setiap kamar lewat koridor ini, melewati pasien-pasien yang sedang di koridor ini, dan mau tak mau, lagi-lagi menyapa orang-orang yang berkumpul di koridor ini. Akhirnya secara tidak sadar, terjadi semacam interaksi rutin yang terjadi dimana pasien-pasien, pasien- perawat, perawat-perawat , pasien-keluarga pasien, keluarga pasien-perawat, ataupun sesame keluarga pasien berinteraksi satu sama lain memperbincangkan –kebanyakan- tentang kesamaan mereka ; mengapa mereka berakhir di rumah sakit itu dan bagaimana kedepannya.

Selama saya menyusuri koridor itu pagi hari, yang saya lihat bukanlah pemandangan orang-orang sakit yang sedang berjuang keras untuk dapat bertahan hidup. Namun yang saya lihat adalah — terlepas dari segala ‘aksesoris’ medis yang mereka gunakan– orang-orang sehat yang sedang bersantai layaknya pemandangan tiap minggu pagi di taman. Banyak ekspresi di dalamnya. Bertemunya kesamaan ini (mungkin dalam kasus ini adalah kesamaan nasib) melahirkan sebuah semangat baru yang timbul dari masing-masing orang. Adanya komunitas menjadikan mereka memiliki merasakan perasaan “Oh, ternyata saya tidak sendiri” dan dari perasaan itu akhirnya timbul semangat dan perasaan senang.

Suasana riang dan hangat seperti ini jarang saya lihat di rumah sakit lain yang biasanya hanya berupa lorong panjang tertutup dan mengandalkan cahaya buatan serta penyejuk ruangan untuk mengakomodasi kebutuhan ruangnya. Lorong rumah sakit yang seperti itu terlihat hanya diperuntukkan untuk berjalan dari satu ruangan ke ruangan lain. Tidak ada tempat berkumpul, atau pergantian suasana sejuk, panas, dingin, hangat.

Dari sini saya merasakan bahwa dengan sebuah wadah yang benar, interaksi akan terjadi dan kesamaan itu akan lebih terlihat. Apabila sudah menemukannya, secara tidak sadar manusia akan membentuk sebuah komunitas. Dari sinilah dibutuhkan peran space yang tepat untuk mengakomodir kebutuhan orang-orang yang akan menempatinya. Tentang siapakah yang akan menempatinya ? apa yang baik untuk mereka ? apa kegiatan yang diharapkan akan muncul ? Dengan peran yang tepat, akhirnya di dalam space tersebut menghasilkan suasana kegiatan di dalam ruangan menjadi positif yang kemudian berdampak positif pula bagi pelaku kegiatan tersebut.


2 Responses to “Belajar dari rumah sakit..”


  1. October 27, 2010 at 12:15 am

    menurut saya dengan adanya koridor terbuka seperti di rumah sakit tersebut dapat setidaknya mengurangi kesan “suram” dari rumah sakit.
    saya rasa pasien-pasien di rumah sakit juga akan bosan apabila mereka terus-menerus “terkurung” di dalam kamarnya, mereka juga butuh bersosialisasi dengan dunia luar, setidaknya keluar dari ruang tempat ia banyak menghabiskan waktunya yaitu kamarnya. walaupun hanya berjalan-jalan sebentar, bertemu orang pasti dapat menghilangkan kebosanan.

  2. October 27, 2010 at 2:50 am

    mungkin seharusnya namanya bukan rumah sakit namun tempat penyembuhan / makna lain yang lebih positif.penyembuhan harusnya menjadi tujuan utama dari rumah sakit. saya juga teringat bangunan rumahsakit “vertikal” yang menghilangkan lorong-lorong interaksi seperti yang diceritakan.
    perbedaan kelas I,II,III, dan jumlah orangnya. kenyamanan yang maksimal hanya dimiliki oleh pasien VIP/VVIP. itu pun dengan fasilitas-fasilitas mewah. keamanan ketat yang dilakukan oleh rumah sakit berdampak pada ketidaklonggaran pasien untuk berinteraksi, alhasil yang berinteraksi adalah para penunggu pasien si ruang tunggu, bercerita tentang proses sakitnya sang pasien.
    mungkin hal-hal seperti itu sesuai dengan “pangsa pasar” rumah sakit yaitu orang golongan menenngah ke atas, membutuhkan privasi dan ketenangan yang lebih.
    rumah sakit memang memiliki aturan yang cukup baku dalam penyusunan program ruangnya.
    tetapi bukan tidak mungkin bahwa ada arsitek/perancang yang lebih peka terhadap kebutuhan sang pasien sehingga melahirkan rumah sakit yang tidak konvensional, terkenal angker, menyeramkan, dan bau obat. hal ini sama seperti sugamo shinkin bank di jepang. sang arsitek mampu mendobrak “image” dari sebuah bank yang konvensional dan kaku menjadi sebuah bank yang lebih “friendly” dengan permainan warna dan ornamen pohon yang dekoratif.


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: