26
Oct
10

Ketidakyakinan Kebutuhan

Saat bicara mengenai everyday, maka yang harus diperhatikan adalah siapa yang berperan di dalamnya. Rasanya bukan sesuatu yang mudah untuk mengenal siapa komunitas yang berada di dalamnya dan untuk benar-benar dapat menyimpulkan apa sebenarnya yang dibutuhkan komunitas tersebut. Maka, hal ini tidak jauh berbeda dengan perancangan arsitektur 3, saat kita harus mengenal komunitas yang ada di dalam site. Misalnya saja bila secara kasat mata, site yang kita analisa ternyata merupakan suatu perumahan, dimana warganya bersifat individualis karena mereka sibuk dengan kegiatannya masing-masing sehingga kurang terjadinya interaksi antar warga, kemudian kita merancang suatu sport centre yang dimaksudkan agar menjadi tempat berkumpul warga dengan kegiatan berolahraga.

Rasanya sangat aneh dengan konteks warga yang individualis, sibuk dengan kegiatan di luar rumah, dan jarang di rumah, kemudian tiba-tiba diadakan ruang berkumpul warga melalui kegiatan olahraga, padahal jelas-jelas warganya jarang di rumah atau berada di rumah hanya pada malam hari untuk beristirahat.  Apakah yakin kebutuhan itu yang perlu di penuhi? Apakah yakin ruang yang dibuat akan benar-benar digunakan oleh para warganya?. Spekulasi bukan bagian dari perancangan, apalagi ketidakyakinan pemenuhan kebutuhan, ketika kita memutuskan untuk merancang sesuatu namun atas latar belakang ketidak yakinan sasaran perancangan, maka yang ada nantinya bukan menyelesaikan masalah, tapi hanya akan menambah masalah karena kita membuat suatu ruang yang belum tentu digunakan sesuai dengan fungsinya.


3 Responses to “Ketidakyakinan Kebutuhan”


  1. 1 fivedoublenine
    October 27, 2010 at 12:25 am

    memang dalam merancang seorang arsitek memecahkan masalah bukan hanya dari pikirannya sendri tanpa melihat apa yang terjadi di tempat yang ia rancang. sering kita terjebak akan menyelesaikan sebuah masalah. penyelesaian dapat menjadikan masyarakat yang ada di dalamnya menjadi harus beradaptasi lagi dengan sesuatu yang baru dan menjadi sesuatu yang tersia-sia.sehingga masalah yang ada harus kita tanggapi dengan bijaksana dan memikirkan segala yang ada.

  2. October 27, 2010 at 6:13 am

    malah terkadang solusi yang coba kita tawarkan dan menurut kita baik belum tentu itu yang terbaik bagi mereka. Ketidak yakinan akan kebutuhan ini timbul karena kita sebagai penanya tidak yakin apa yang kita tanyakan, dan kurang bersikap tegas atau dalam hal ini tidak mengetahui secara pasti bagaimana memposisikan diri kita sebagai pemberi petunjuk bagi aspirasi mereka dan mereka pun tidak dipicu oleh kata-kata yang mentrigger yang seharusnya datang dari kita para penawar dan saat kita menyentuh hal yang mungkin berterbangan dalam benak mereka mereka pasti langsung “oh iya!” dan mulai ikut serta membicarakan apa yang baik bagi mereka dan apa yang dapat kita lakukan lebih lanjut

  3. 3 andreatheodore
    November 24, 2010 at 2:46 pm

    Terkadang apa yang menurut kita baik belum tentu dibutuhkan di site. Jadi kita hanya menuruti pandangan dari warga di site saja. Apakah kita tidak boleh menyampaikan apa yang kita pikirkan? Kalau kita yakin itu baik untuk mereka, mungkin itu akan membukakan pikiran mereka? Bukan hanya arsitek yang perlu melihat dari sudut pandang lain (misalnya dari calon penggunanya), tapi mereka (warga) juga perlu mengetahui pemikiran dari orang lain. Di sini pengalaman dan analisa mendalam dari sang arsitek sangat diperlukan.
    Ini pendapat saya.


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: