26
Oct
10

Lorong anak arsitektur..

Menjadi minoritas memang tidak selalu enak, pihak mayoritas bisa saja terlalu banyak melakukan intervensi yang pada akhirnya pihak minoritas terkesan ikut-ikutan.
Peristiwa ini telah terjadi selama kurang lebih 1 tahun di kosan saya. Kondisi lorong kamar saya buntu dengan 3 buah kamar di sisi kiri dan 2 buah kamar di sisi kanan lorong. Kebetulan 4 dari 5 kamar yang berada di lorong itu dihuni oleh mahasiswa arsitektur 2007, sedangkan satu kamar lagi di ujung kanan dihuni oleh mahasiswa Fakultas Ekonomi 2008.
Sebagaimana kita tahu, keseharian mahasiswa Arsitektur adalah mengerjakan mata kuliah perancangan yang outputnya berupa model. Karena tidak muat disimpan di kamar yang hanya berukuran 3x4m, maka sebagian besar stok bahan dan hasil modelnya kami simpan di lorong. Penyimpanan ini memakan space di sisi kanan maupun di sisi kiri lorong sehingga hampir memakan setengah area sirkulasi. Belum lagi jika kmai berempat mengerjakan model bersama, lorong tersebut akan kami interfensi hingga menutupi seluruh sirkulasi.
Lama kelamaan ternyata mahasiswa FE ini juga ikut menyimpan barangnya (terutama sepatu) di lorong depan kamarnya, bikan hanya 1 atau 2 sepatu, tapi 10-15 pasang sepatu berjejer melebihi rak yang telah disediakan seakan tidak mau kalah dengan intervensi mahasiswa Arsitektur. Sekarang lorong ini menjadi lorong terpadat di kosan saya, penuh dengan barang-barang mulai dari mulut lorong hingga keujung buntunya.
Yang saya lihat disini ternyata keseharian mahasiswa Arsitektur memang berdampak terhadap ruang tinggal mereka, namun orang lain yang juga hidup berdekatan dengan ruang tinggal seseorang/komunitas dapat menjadi terbiasa bahkan terpengaruh dan ikut mengubah ruang tinggal mereka juga..


3 Responses to “Lorong anak arsitektur..”


  1. 1 dsaginatari
    October 26, 2010 at 9:30 pm

    setiap orang memang memiliki kecenderungan untuk mengokupasi. pengokupasian biasanya memang dilakukan dengan meletakan barang-barang di tempat yang dirasa miliknya. mungkin, memang yang dilakukan oleh si anak FE juga merupakan aksi ikut-ikutan. pasti secara psikologis, dia merasa kalau orang lain boleh kenapa saya tidak boleh. tapi mungkin ada alasan lain kenapa dia melakukan itu. ketika anak ars merasa bahan model dan sebagainya tidak cukup diletakan di kamar, mungkin dia juga merasa sepatunya tidak cukup jika diletakan di kamar semuanya. alasan akan kebutuhan cukup masuk akal. ini juga yang bisa dikatakan keseharian. menurut saya keseharian dan arsitektur adalah bagaimana kita memenuhi kebutuhan akan ruang di dalam sebuah arsitektur.

  2. October 27, 2010 at 12:44 am

    “…namun orang lain yang juga hidup berdekatan dengan ruang tinggal seseorang/komunitas dapat menjadi terbiasa bahkan terpengaruh dan ikut mengubah ruang tinggal mereka juga…”.

    sebenarnya ada beberapa hal yang perlu dilihat dulu dari si mahasiswa FE ini. aktivitas. watak ataupun manner mungkin juga bisa mempengaruhi tindakan “ikut-ikutan” ini. bagi sebagian individu tertentu, sebuah komunitas, dengan kebiasaan tertentu, mungkin akan bisa mempengaruhi kebiasaan si individu ini pula. seperti ikut-ikutan memenuhi si lorong dengan sepatu tadi. tapi apakah memang itu tujuannya?mungkinkah ada alasan lain?

  3. October 27, 2010 at 12:46 am

    Dejavu nih. Gw juga melakukan hal yang sama (naroh barang di depan lorong) sampai akhirnya disuruh pindahin ke bawah tangga oleh bapak kos, mungkin gara2 secara visual udah mulai mengganggu. ha2.

    Awalnya gw naroh di dalam kamar, tapi seiring waktu berjalan mulai merasa kamar menjadi terlalu padat dan akhirnya melihat “celah” untuk meletakkan di lorong. (rasanya kalo lorong yang terlihat padat, lebih tidak apa-apa *egois =p )

    Kaitan dengan waktu menjadi sebuah hal yang menarik. Waktu kita nempatin sebuah ruang, seiring berjalannya waktu umumnya bakal terjadi pertambahan “benda”, yang sebenarnya juga adalah sebuah “tanda” yang punya beragam makna, bisa sebagai efek akibat aktivitas yang dilakukan di ruang tersebut atau bisa juga sebagai tanda okupasi seperti yang mbak dsaginatari bilang.

    Entah si anak FE itu memang melakukan hal tersebut akibat efek domino atau karena merasa ga cukup, keseharian memang ga bakal lepas dari waktu.”Benda” pun kemudian akan selalu punya cerita di balik keberadaannya, dan apa yang terjadi bisa saja lebih ga terduga.

    Bisa saja sepatu itu ternyata bau ketika diletakkan di dalam kamar.
    Bisa saja pemicunya ketika hujan sepatunya becek, akhirnya ia mulai meletakkannya sepatu di luar.
    Bisa saja ternyata sepatunya ketika di kamar jadi mengundang nyamuk.
    Bisa saja dia dapet wangsit mimpi buat naro sepatu di luar. *imajinasi semakin aneh


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: