26
Oct
10

Ruang Publik dalam Lingkungan Kota

Jika melihat kota besar di Indonesia seperti Jakarta, tentunya pemandangan yang paling sering terlihat setiap hari adalah banyaknya kendaraan-kendaraan pribadi yang memenuhi jalan-jalan besar. Secara umum penduduk Jakarta harus menggunakan kendaraan pribadi untuk mencapai tempat tujuan mereka, walaupun sebagian ada yang menggunakan transportasi publik. Saya melihat bahwa hal tersebut merupakan akibat dari tatanan kota yang terdapat di Jakarta.

Pada awal mata kuliah Peracangan Arsitektur 3 telah dijelaskan mengenai apa itu kota. Kota merupakan sebuah daerah yang berisi sekumpulan orang-orang yang saling berinteraksi dalam menjalani kehidupan. Dengan kata lain, ada sebuah kehidupan komunitas yang terjadi di dalam sebuah kota. Kota yang baik harusnya merupakan kota yang dapat memenuhi kehidupan orang yang tinggal di dalamnya. Dijelaskan pula bahwa kota itu bisa menjadi tempat bertinggal, berkarya, dan berkota. Yang dimaksud dengan berkota adalah tempat orang untuk saling bertemu dan berinteraksi bersama di dalam sebuah ruang publik.Jika dikaitkan dengan ketiga fungsi kota tersebut, Jakarta memiliki kekurangan satu fungsi, yaitu sebagai tempat berkota. Saya melihat bahwa secara umum memang sangat sedikit ruang publik yang benar-benar difungsikan untuk tempat berinteraksi satu sama lain. Tempat yang dimaksud bisa berupa tempat yang terbuka seperti taman, trotoar untuk berjalan kaki sekaligus menikmati kota, tempat duduk di tepi-tepi jalan, dan sebagainya. Ya, di Jakarta memang terdapat trotoar, tetapi ketika saya mencoba melewatinya, saya sama sekali tidak bisa merasakan apa yang disebut ‘berkota’. Tidak ada interaksi yang tejadi di sana, bahkan ketika saya berjalan bersama dengan teman saya, hanya sekedar obrolan kecil. Bahkan saya harus hati-hati dengan kendaraan di sekitar yang lewat. Saya tidak merasa menikmati kota ketika berjalan di trotoar. Taman kota pun sepertinya tidak difungsikan secara maksimal dan jumlahnya masih sangat sedikit dibanding dengan jalan-jalan besar.

Mungkin memang sulit mengubah kota Jakarta yang memang sudah terlanjut tertata seperti ini. Seperti yang dijelaskan dalam kuliah mengenai kota tersebut, Jakarta memang ditujukan untuk ‘mencari uang’, bukan ‘menikmati hidup’, sehingga apa yang umumnya terlihat sekarang hanyalah kesibukan untuk bekerja tanpa terlalu memikirkan bagaimana berinteraksi dengan sesama penduduk kota dengan memfungsikan ruang publik secara optimal.


4 Responses to “Ruang Publik dalam Lingkungan Kota”


  1. October 26, 2010 at 6:50 pm

    miris memang jika melihat Jakarta sekarang seperti ini. coba kita tengok Jakarta beberapa tahun lalu, dimana seukuran jarak yang dapat ditempuh dalam waktu setengah jam sekarang memakan waktu minimal satu jam lebih. Hal ini memang terpaut sebagai Jakarta sebagai ibukota negara yang membuat orang-orang dari luar Jakarta berbondong-bondong kesini untuk mencari nafkah. Hal ini benar-benar terasa ketika Hari Raya Idul Fitri dimana terdapat kebiasaan “mudik” – pulang kampung ke daerah asal mereka. Ketika hari raya itu tiba, Jakarta benar-benar sepi! Jalanan yang biasanya pada jam pulang kantor macet, bahkan sepi dan lancar. Hal ini yang menguatkan bahwa Jakarta sebagian besar merupakan penduduk “hijrah”. Karena tidak ada rasa kepemilikan kota Jakarta itulah yang menurut saya banyak orang tidak memperhatikan lingkungan di Jakarta. Ruang publik yang tercipta disia-siakan, malah dijadikan ajang usaha. Tatanan kota yang semrawut membuat Jakarta tambah ruwet. Istilah kasarnya: asal Jakarta bisa menghasilkan uang, gue ga peduli yang lain.
    Miris memang. tapi mestinya kepemilikan Jakarta dan pelaksanaan ruang publik bisa kita laksanakan dari dalam diri kita sendiri dulu, baru menyebar ke lingkungan.

  2. October 26, 2010 at 9:33 pm

    Banyak sekali memang tempat publik yang dijadikan tempat usaha, contohnya di trotoar atau pinggir jalan yang sering dijadikan tempat mangkal pedagang kali lima. Di daerah dekat rumah saya, Cililitan, sebenarnya jalannya sangat lebar, namun sekarang terasa sangat sempit karena di trotoar dan pinggir jalan banyak terlihat pedagang yang berjualan. Beberapa bulan yang lalu sempat ditertibkan oleh petugas, namun kondisi tertib tidak bertahan lama, pedagang kembali berjualan di sana. Memang susah ya kalau nggak ada rasa memiliki Jakarta.

  3. 3 Adhifah rahayu
    October 27, 2010 at 2:13 am

    Memang saat ini banyak trotoar-trotoar yg bereproduksi jadi ruang usaha kayak PKL dan lahan parkir.hak-hak pejalan kaki kalah sama kendaraan bermotor. Yg naik kendaraan merasa lebih berhak akan jalan umum. Saya merasakannya ketika berjalan di lingkungan kost-an saya.jalannya tdk besar,namun kendaraan lewat cukup cepat,saya harus benar-benar menepi kalau tdk mau di klakson. Pernah juga saya berjalan kaki di sebuah trotoar di jakarta namun saya tetap di klakson oleh motor yg mau lewat di trotoar itu.

  4. October 27, 2010 at 5:02 am

    Saya setuju dengan pernyataan bahwa kota Jakarta kurang memiliki tempat untuk berkota. Menurut saya, hal ini disebabkan karena dalam hal ini policy maker yang seolah-olah mengetahui tentang everyday masyarakat kota Jakarta. Padahal sebenarnya yang lebih mengetahui apa yang dibutuhkan oleh masyarakat adalah masyarakat itu sendiri (awam). Policy maker tidak terkoneksi dengan masyarakat sehingga level partisipasi menurut Wilcox adaptation of Arnstein’s ladder hanya terbatas sampai level informing saja. Hanya ada pemeberitahuan satu arah mengenai apa yang akan dibuat. Contohnya saya alami pada perumahan saya sendiri. Perumahan saya memiliki tanah kosong yang sangat luas yang biasa kami gunakan untuk bermain (entah itu bermain bola dengan keluarga atau sekedar jalan-jalan). Beberapa minggu ke depan saya melihat ada papan proyek bukan rumah tinggal yang tertancap di atas tanah. Deretan ruko sedang dalam proses pembangunan. Saya merasa kaget karena tidak ada sosialisasi kepada warga sebelumnya mengenai hal ini sehingga apa yang dibuat di perumahan tidak terkoneksi dengan masyarakat di dalamnya.


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: