26
Oct
10

Sampai sejauh mana perilaku dan arsitektur saling mempengaruhi?

Manusia sebagai makhluk sosial tidak pernah terlepas dari lingkungan yang membentuk diri mereka.  Di antara sosial dan arsitektur dimana bangunan yang didesain oleh manusia, secara sadar atau tidak sadar, mempengaruhi pola perilaku manusia yang hidup di dalam arsitektur dan lingkungannya tersebut.

Sebuah arsitektur dibangun untuk memenuhi kebutuhan manusia. Dan sebaliknya,  dari arsitektur itu lah muncul kebutuhan manusia yang baru kembali.  Hal ini pernah dikemukakan oleh Winston Churchill:

We shape our buildings; then they shape us” – Winston Churchill (1943)

Manusia membangun bangunan demi pemenuhan kebutuhan kita, yang kemudian bangunan itu membentuk perilaku kita yang hidup dalam bangunan tersebut. Bangunan yang didesain oleh manusia yang pada awalnya dibangun untuk pemenuhan kebutuh manusia tersebut mempengaruhi cara kita dalam menjalani kehidupan sosial dan nilai-nilai yang ada dalam hidup. Hal ini menyangkut kestabilan antara arsitektur dan sosial dimana keduanya hidup berdampingan dalam keselarasan lingkungan.

Seperti pada contoh selasar Departemen Arsitektur Universitas Indonesia yang dulunya diletakkan kursi panjang untuk duduk. Orang-orang dapat duduk santai di kursi tersebut. Namun dengan diletakkannya kursi tersebut, membuat orang banyak berkumpul di sekitar kursi dan menghalangi sirkulasi orang pada koridor itu. Hal ini yang dikatakan sebuah arsitektur membentuk perilaku kita. Kutipan Churchill begitu dirasa ketika kursi panjang tersebut dipindahkan ke samping koridor dimana tidak ada sirkulasi orang disana. Terlihat di selasar tidak ada lagi kumpulan orang yang menghambat jalur sirkulasi koridor. Namun apakah benar hanya sampai disitu saja?

Pernyataan Churchill ini 51 tahun kemudian diinterpretasikan kembali oleh Steward Brand:

“First we shape our buildings, then they shape us, then we shape them again-ad infinitum” – Stewart Brand (1994)

Manusia membangun bangunan, yang kemudian membentuk perilaku manusia itu sendiri. Lalu menurut Brand, setelah perilaku manusia terbentuk akibat arsitektur yang telah dibuat, manusia kembali membentuk arsitektur yang telah dibangun sebelumnya atas dasar perilaku yang telah terbentuk, dan seterusnya.

Seperti pada urban housing Pruitt-Igoe (St. Louis, USA) oleh Minoru Yamasaki. Pruitt-Igoe yang dibuat berdasarkan asas Le Corbusier mendapat penghargaan arsitektural. Gedung-gedung dibuat anti rusak dengan pemakaian bahan tertentu sebagai lapisan luar gedung. Namun karena perilaku ini yang kemudian membawa efek yang berbeda terhadap arsitektur itu sendiri. Karena dibuat anti rusak, orang-orang sekitar malah tertantang untuk merusak gedung yang sulit dirusak tersebut. Tidak hanya eksterior saja, secara interior, lampu gedung ini ditutupi oleh kerangka agar lampu tidak bisa dirusak atau dipecahkan secara sengaja, cat tembok terbuat dari bahan karet agar tidak bisa dicoreti, ataupun lift terbuat dari bahan antigores. Melihat perlakuan seperti ini, perilaku masyarakat menjadi tertantang kembali untuk merusak arsitektur yang katanya tidak bisa dirusak tersebut. Muncullah permasalahan baru yakni Vandalism. Rasis antara kulit hitam dengan putih, kesenjangan sosial, hingga kriminalitas banyak terjadi disini.

Ternyata, setiap arsitektur yang dibuat atas dasar kebutuhan manusia menghasilkan efek perilaku yang berbeda terhadap arsitektur itu sendiri. Hal ini yang dimaksud dengan Brand terhadap interpretasi kutipan Churchill itu., mengenai pembangunan kembali arsitektur yang diadaptasi dari kebutuhan dan perilaku manusia yang berdampak terhadap psikologi seseorang.

Dari contoh kasus diatas, terlahir sebuah pertanyaan:

Sebenarnya, sampai sejauh mana perilaku dan arsitektur saling mempengaruhi?

Saya kemudian hanya bisa menyimpulkan : selama arsitektur merupakan produk sosial, sampai sejauh itu pula psikologi dan perilaku manusia terlibat dalam arsitektur.


1 Response to “Sampai sejauh mana perilaku dan arsitektur saling mempengaruhi?”


  1. October 26, 2010 at 10:20 pm

    Hal yang kita ketahui adalah bahwa arsitektur seharusnya lahir dari suatu kebutuhan. Baik itu kebutuhan suatu golongan atau yang sifatnya massal.
    Saya ingin mengambil contoh modernisasi yang terjadi di New York yang waktu itu dipimpin oleh seseorang bernama Robert Moses yang memiliki suatu power pada saat itu. Ia mencoba merancang suatu rancangan yang tujuannya membuat New York menjadi kota maju,modern,dan dipandang oleh mata dunia. Banyak hal yang diperbaharui maupun ditambah olehnya,seperti infrastruktur jembatan ataupun jalan.
    Salah satu proyeknya yang cukup menarik adalah ketika ia ingin membangun suatu express way yang menghubungkan beberapa daerah. Pada proyek ini, ia melakukan suatu tindakan besar dengan menggusur dan menghancurkan perumahan di daerah Bronx. Banyak orang di daerah tersebut menjadi terbengkalai karena tidak mampu melawan kekuatan yang lebih besar dari mereka.
    Memang benar proyek-proyek ini lahir dari suatu kebutuhan akan kota yang lebih maju ataupun modern,tetapi yang perlu dilihat adalah bagaimana arsitektur yang terbangun tersebut tidak malah menghilangkan kebutuhan yang dimiliki orang lain.
    Dari contoh di atas yang perlu dilihat bahwa arsitektur memang lahir dari suatu kebutuhan,tetapi yang perlu dilihat juga adalah apa dampak arsitektur tersebut kepada ruang,orang,ataupun kehidupan yang ada di sekitarnya.


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: