27
Oct
10

estetiskah?

“Through aesthetic reflection we endeavour to create a world in which we are at home with others and with ourselves”.- Roger Scruton


Menurut Roger Scruton, melalui estetika, kita berusaha untuk menciptakan dunia dimana kita merasa “at home with others and with ourselves”. Namun apakah terdapat suatu objektivitas dalam estetika atau hal tersebut merupakan suatu hal yang subjektif? Apakah estetika tesebut estetis untuk si arsitek, untuk actors dalam bangunan tersebut, atau untuk orang lain? Menurut 22 poin tentang ‘architectural principles in an age of nihilism’, estetika dapat dipertahankan kalau bisa mempertahankan image dari budaya masyarakatnya. Estetika dalam kehidupan sehari-hari hadir dari proses penyesuaian. Estetika yang ada harus menggambarkan dan disesuaikan dengan konteks masyarakat urban yang ada. Yang estetis menurut kelompok masyarakat yang satu bisa tidak estetis menurut yang lain. Untuk mengetahui pendapat masyarakat mengenai estetika, salah satu metode untuk mencari tahu adalah dengan menggunakan metode partisipasi. Contoh yang saya ambil adalah dua perpustakaan anak- Safe Haven Library di Ban Tha Song Yang, Thailand dan Norfolk& Norwich Library di Inggris. Actors dalam perpustakaan ini sama yaitu anak-anak, namun kita bisa melihat bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara keduanya. Yang satu menggunakan warna yang cenderung monoton sedangkan yang lain cenderung warna-warni. Apabila dilihat dari sudut pandang anak-anak pada umumnya, pasti mereka memilih untuk membaca di perpustakaan yang warna-warni. Apabila kedua perpustakaan di tukar, apakah mereka masih tetap mau baca di perpustakaan tersebut? Mereka mungkin tidak merasa nyaman untuk membaca ditempat tersebut sehingga mereka tidak lagi menganggap perpustakaan mereka estetis. Perpustakaan tersebut menjadi tidak estetis bagi mereka karena mereka tidak nyaman berada di perpustakaan tersebut. Saya mengambil kedua contoh ini karena Safe Haven Library merupakan perpustakaan anak yang berbeda dari perpustakaan anak lain yang cenderung bermain bentuk, ruang dan komposisi warna. Di sini kita bisa melihat sisi lain dari estetika- yaitu estetika yang didasarkan pada keinginan dari actors yang ingin menggunakan ruang publik tersebut. Dalam hal ini, anak-anak panti asuhan mungkin memiliki harapan yang berbeda dari anak-anak yang mampu. Karena mereka belum mempunyai tempat untuk membaca, maka keinginan mereka hanya terbatas pada sekedar hanya ingin memiliki perpustakaan. Ia tidak begitu peduli mengenai warna, komposisi, permainan ruang. Namun beda dengan anak-anak yang mampu yang keinginannya melebihi sekedar mengingini suatu perpustakaan namun juga perpustakaan yang warna-warni, dll. Di sini kita bisa melihat bahwa estetika merupakan suatu hal yang subjektif. Yang merupakan masalah adalah ketika perpustakaan tersebut tidak estetis menurut masing-masing konteks masyarakat.


0 Responses to “estetiskah?”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: