20
Nov
10

Arsitektur – Kegiatan yang mengubah atau menyesuaikan??

Ketika saya mulai mengerjakan projek-projek kuliah, saya sering berpikir mengenai tindakan apa yang harus saya ambil jika saya menemukan adanya kebiasaan sehari-hari masyarakat yang bermukim di site yang saya pilih tidaklah wajar.
Apakah bangunan yang akan saya rancang harus saya sesuaikan dengan ketidakwajaran tersebut, ataukah saya justru ditantang untuk dapat mengubah perilaku mereka melalui program arsitektur yang saya buat?
Menurut saya, hal ini cukup membingungkan karena ketika saya berusaha untuk mengubah apa yang sudah menjadi kebiasaan sehari-hari masyarakat yang ada di daerah tersebut, saya harus menghadapi konsekuensi akan adanya kemungkinan kegagalan dalam perancangan tersebut, masyarakat tersebut belum tentu menyukai intervensi yang saya buat.
Di lain sisi, jika saya menuruti keinginan user tanpa adanya niat untuk mengubah perilaku mereka, maka peran saya sebagai ’agent of change’ yang notabene merupakan tugas seorang arsitek akan hilang.
Sebagai contoh sederhananya, pada saat mengerjakan projek rumah di PA2, saya mengalami kebingungan saat dihadapi pilihan untuk mengubah pola makan penggunanya dari di kamar masing-masing ke sebuah ruang makan, atau tetap mengakomodasi kegiatan makan mereka di dalam kamar masing-masing. Saya ingin sekali melakukan intervensi terhadap kelainan tersebut, namun penggunanya mengatakan bahwa mereka menyukai makan di dalam kamar. Pada akhirnya, saya tetap berusaha untuk mengubah perilaku makan mereka dengan tetap memberikan sebuah ruang makan (namun digabung dengan ruang menonton televisi). Meskipun di lain sisi, terdapat konsekuensi ruang makan tersebut akan menjadi ruangan yang tidak digunakan.
Contoh lainnya, salah satu arsitek ternama Minoru Yamasaki yang mengalami kegagalan saat berusaha menghadirkan bangunan Pruitt-Igoe sebagai bangunan yang mampu mengubah perilaku masyarakat di St. Louis, Missouri untuk tinggal dalam deretan apartemen.
Dari sini terlihat bahwa ternyata memang bangunan-bangunan ataupun produk-produk arsitektur yang hadir bukanlah sebuah produk akhir, melainkan sebuah wadah yang menentukan apakah manusia yang berkegiatan di sekelilingnya ‘akan mau’ menyesuaikan diri dengan adanya produk arsitektur tersebut. Itu sebabnya, cukup susah bagi saya untuk dapat menentukan seberapa besar peran saya dalam mengubah perilaku user, yakni karena adanya respons dari user tersebut di masa depan yang terkadang sulit untuk diinterpretasikan selama masa perancangan.
Hingga kini, pertanyaan tersebut masih sering muncul dalam benak saya. Saya sendiri menangkap jawaban dari pertanyaan tersebut sebagai sesuatu yang relatif, tergantung dengan situasi dan kondisi.


0 Responses to “Arsitektur – Kegiatan yang mengubah atau menyesuaikan??”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: