20
Nov
10

perlukah?

Ini adalah pengalaman yang saya peroleh dari kegiatan survey dan workshop di area Semper Barat, Jakarta Utara, dalam rangka melaksanakan tugas community project mata kuliah Keseharian dan Arsitektur.

Survei yang dilakukan terhadap site cukup mendalam. Survei terhadap keseharian warga, meskipun jumlah warganya hanya di satu gang saja, membutuhkan data yang benar-benar terbukti ada di site, tidak bisa memakai asumsi. Bahkan setiap jenis storage (ember) didata jumlah dan fungsinya. Akan tetapi sepertinya warga gang tersebut terlihat kurang antusias dengan adanya perhatian terhadap ruang servis mereka. Saat kami melakukan survei pertama kali, mereka terlihat berharap jika kami merupakan tim, sebut saja, Bedah Rumah atau berharap kami membagi-bagikan uang kepada mereka. Hal ini membuat saya berpikir kembali, apakah intervensi terhadap ruang servis di gang ini benar-benar dibutuhkan warga atau tidak. Atau warga di gang ini yang tidak mengetahui apa yang sebenarnya mereka butuhkan. Lalu, saya bertanya lagi pada diri saya sendiri, apakah mungkin orang lain (dalam hal ini kami sebagai pihak yang melakukan survey) dapat lebih mengetahui kebutuhan mereka (warga di gang tersebut) daripada diri mereka sendiri? Mungkin kita dapat menganalisa bahwa pada gang yang menjadi area servis mereka ini memberikan dampak yang buruk bagi kesehatan dan kita berusaha menyadarkan mereka. Namun, jika warga merasa fine dengan hal tersebut, haruskah hal ini tetap diangkat sebagai isu?

Sedangkan pada saat kegiatan workshop, yang terjadi adalah kami merasa sulit berinteraksi dengan warga penghuni kontrakan, terutama saat kegiatan “menuliskan urutan kegiatan yang dilakukan warga saat melakukan kegiatan servis”. Warga terlihat bingung dengan urutan kegiatan yang mereka biasa lakukan. Mungkin mereka sudah sangat terbiasa dengan apa yang harus mereka lakukan setelah melakukan suatu kegiatan tertentu, sehingga mereka tidak perlu mengingatnya lagi. Pada bagian ini kami terpaksa memberikan kata-kata yang dapat memicu warga, namun saya melihat hal ini menjadikan informasi yang didapat kurang murni hasil pemikiran warga. Warga juga menjadi tidak betah dengan keadaan ini. Mereka terlihat bingung dengan apa yang sedang mereka lakukan dan ingin cepat-cepat menyudahi kegiatan ini.

Namun tidak demikian halnya dengan kegiatan berikutnya pada workshop, yaitu peserta (warga) menancapkan bendera yang bergambar beberapa kegiatan servis yang mereka lakukan pada maket gang tersebut skala 1:20. Mereka terlihat antusias dan saling berdiskusi serta mengingatkan satu sama lain. Dari kegiatan ini kami memperoleh informasi berupa zoning tempat mereka berkegiatan. Kegiatan ini terlihat menyenangkan karena tidak menggunakan proses yang sulit namun dapat membantu warga melihat ruang tempat mereka tinggal dan berkegiatan servis dari sisi lain. Dari pengalaman ini saya melihat pentingnya pemahaman yang baik akan kondisi para peserta workshop. Kita harus tahu kemampuan lisan dan tulisan mereka, sehingga kegiatan yang dilakukan menyenangkan dan tidak membutuhkan proses yang sulit dicerna oleh warga. Pemahaman akan pola pikir mereka juga dapat membantu untuk memahami apa yang menjadi kebutuhan warga di salah satu gang di Semper Barat ini.

 


2 Responses to “perlukah?”


  1. 1 fivedoublenine
    December 24, 2010 at 12:12 am

    wah ternyata sangat rumit ya..
    memang terkadang kta sbg mhasiswa masih kurang peka dengan masyarakat. padahal dalam merancang yang sesuai dengan konteks pemahaman kita sebagai manusia yg telah di jejali ilmu2 perlu dihilangkan terlebih dahulu jadi kita bsa merasakan dan memahami pola pikir masyarakat..mmm..emic approach klo kt pakgun..hhehhe:D

  2. December 25, 2010 at 12:31 pm

    Saya sebagai anggota kelompok intervensi Semper juga sempat merasa begitu. Berdasarkan presentasi, daerah Semper diintervensi karena salah satunya masalah kebersihan yang sebenarnya didasarkan pada sudut pandang kita, orang luar, bukan dari sudut pandang mereka. Tugas yang diberikan oleh dosen ini memakai teori-teori. Contohnya saja narrow ceiling, bad ventilation, dll yang menyebabkan masalah kebersihan pada ruang servis mereka. Selama ini mereka memang tidak mengeluh dan sudah menjadi keseharian mereka. Bisa saja menurut kita intervensi macam ini diperlukan karena masalah kesehatan. Seperti halnya intervensi di India masalah sanitasi, warga lama-lama akan merasa perlu jika mereka sudah merasakan betapa enaknya jika mereka hidup bersih dan tidak lagi nyaman dengan cara hidup mereka yang dulu.


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: