23
Dec
10

“Ah! Meleset lagi!”

Sadar maupun tidak, ada sebuah permainan dan tantangan yang dimainkan setiap hari oleh pengguna jalan tol Jakarta. Sebenarnya hal yang dipertaruhkan cukup besar, yaitu kebersihan jalan kota Jakarta, yang dapat  memicu masalah-masalah lain selanjutnya. Bagi pengguna jalan tol, ketika sampai ke pintu tol dan melakukan pembayaran, uang anda akan ditukar dengan suatu struk yang berupa sebuah kertas kecil putih berukuran kira-kira 4 cm x 5 cm. Berdampingan dengan pos pintu tol tersebut, disediakan sebuah tempat sampah yang berukuran kecil. Menurut pengalaman saya, tempat sampah ini sangat beragam. Ada yang terbuat dari bahan metal, plastik dan bahkan berupa ember hitam. Tempat sampah itu disediakan untuk mengakomodasi kertas tanda terima tersebut yang dibuang oleh pengguna jalan tol setelah membayar.  Namun terkadang, dapat dilihat bahwa lebih banyak gumpalan kertas yang berserakan di jalanan daripada di dalam tempat sampah itu sendiri. Bahkan, gumpalan-gumpalan sampah kertas tersebut biasanya masih terlihat sampai jarak 10 meter dari pos pembayaran.

Sebagai pengguna jalan tol setiap hari, saya melewati pos pembayaran tol ini dua kali dalam sehari yang artinya mendapatkan struk dua kali pula. Bagi saya, saya mengalami tantangan yang cukup mendebarkan setiap hari. Saya selalu mencoba untuk melempar sampah kertas tersebut tepat sasaran, tanpa waktu yang lama, karena banyak mobil dibelakang yang mengantri. Sebagai pelempar buruk yang tidak memiliki kemampuan olah raga apapun, sesi pelemparan ini menjadi sebuah tantangan yang cukup sulit dilakukan, apalagi yang dipertaruhkan adalah harga diri saya sendiri yang dapat dianggap sebagai pengotor kota Jakarta oleh pengemudi di mobil belakang saya dan oleh sang penjaga tol. Tahun-tahun sebelumnya, seringkali saya memilih untuk menyimpan sampah struk tersebut di mobil dan membuangnya di rumah saat sudah terkumpul banyak. Namun hal ini berubah saat saya tidak memiliki supir lagi. Dulu, supir keluarga lah yang bertugas membersihkan tumpukan sampah kertas tersebut itu setiap minggu. Saat semua harus dilakukan sendiri, saya seringkali lupa membersihkan bagian dalam mobil, dan hal itu mengakibatkan mobil penuh sampah dan terlihat tidak terawat. Sejak itu, saya memutuskan bahwa sampah kertas itu lebih baik dibuang langsung di tempat sampah yang disediakan di pos tersebut saja. Namun pada penerapannya, 8 dari 10 lemparan saya ke tempat sampah tersebut, meleset. Saya adalah warga pengguna jalan Jakarta yang mengotori ruang kota setiap hari.

Sampah-sampah struk itu sudah merupakan bagian dari ruang kota Jakarta dan tentunya sudah menjadi sebuah elemen dalam arsitektur pintu jalan tol. Dapat dilihat sebagai parameter beberapa hal, seperti banyaknya pengguna mobil di Jakarta, pengguna jalan tol dan banyaknya orang yang memiliki kepedulian rendah terhadap kebersihan kota (atau banyaknya orang yang terburu-buru di jalan sampai melemparnya meleset?). Lembaran-lembaran kecil struk ini telah menjadi jejak-jejak kegiatan harian warga Jakarta. Hal ini sebenarnya cukup memperihatinkan, karena beberapa pihak mengatakan bahwa orang-orang yang membuang sampah sembarangan itu kebanyakan adalah orang-orang yang tidak berpendidikan dan seringkali golongan menengah kebawah, dengan adanya sampah-sampah kertas tersebut, dapat dilihat bahwa orang-orang yang mengendarai mobil setiap harinya, yang dapat dianggap berpendidikan, juga memiliki perilaku yang tidak kalah buruknya.

Sebagai pelaku harian, ada beberapa hal yang dapat menjadi alasan mengapa sulit sekali memasukan sampah kertas ini ke dalam tempat sampah. Contohnya adalah ukuran tempat sampah terlalu kecil, luas penampangnya tidak dapat mengakomodasi faktor-faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi gerak lemparannya, cuaca yang seringkali berangin, mobil yang dikendarai sang pelempar seringkali tidak berhenti sepenuhnya; jadi pelemparan dilakukan dalam keadaan mobil melaju pelan, lembaran kertas yang terkadang lupa digumpalkan atau kurang digumpalkan dengan padat, dan keadaan pengendara yang terkadang terburu-buru.

Walaupun dengan pembelaan-pembelaan diatas, sebenarnya sampah-sampah struk ini telah menjadi “pemanis” ruang kota yang kelihatannya tidak diperhatikan di Jakarta. Apakah ini dianggap masalah yang tidak penting? Sebenarnya, apakah ada tanda bukti pembayaran yang lebih efektif, daripada memberikan sebuah kertas putih yang hanya akan disentuh penerima nya dalam beberapa detik dan kemudian langsung dibuang? Menurut saya ini tidak masuk akal, dan merupakan sebuah sistem pendukung infrastruktur kota yang harus dikaji kembali. Masalah sampah kota itu bukan hanya yang berbau busuk, bukan hanya yang tertimbun dan digerayangi lalat. Sampah-sampah struk jalan tol ini adalah benar-benar sampah urban yang merupakan jejak-jejak kehidupan keseharian masyakarakat kota Jakarta, yang mewah, bermobilisasi tinggi namun kepedulian bobrok.

 


6 Responses to ““Ah! Meleset lagi!””


  1. December 24, 2010 at 7:36 am

    Perilaku manusia dipengaruhi oleh budaya dan lingkungkannya. Menurut contoh yang diberikan dalam teori ‘broken windows’, jika ada berjejer jendela dan salah satu jendelanya pecah, hal tersebut akan memicu orang untuk memecahkan jendela-jendela lain. Demikian halnya dengan contoh ini. Apabila manusia melihat adanya suatu ‘dirt’, ia akan cenderung membuangnya ke tempat lain asalkan ia tidak dapat melihat benda itu lagi. Karena memang sudah banyak tumpukan sampah, kita juga terpicu untuk membuang sampah struk tol tersebut ke tempat tersebut. Lama kelamaan tidak jenis sampah ini saja, tapi bahkan sampah bungkus makanan maupun puntung rokok dapat dibuang ke tumpukan sampah tersebut. Saya setuju, seharusnya ada suatu intervensi arsitektur yang dapat menyelesaikan masalah ini seperti menyediakan tempat sampah yang lebih besar dan menarik ataupun dengan solusi lain yang telah disebutkan.

  2. 2 adealline
    December 24, 2010 at 9:20 pm

    percaya atau tidak, saya pun yang boleh dibilang pemain basket, tidak jauh berbeda dengan fauzia, 8 dari 10 lemparan kertas tidak masuk tempat sampah bahkan dengan tangan saya yang sudah sedekat itu dengan tempat sampah, masih saja terbang keluar.. tp percayalah bahwa saya selalu berusaha memasukkan sampah itu, bukan melemparnya begitu saja.. dan saya percaya bahwa masalah ini banyak disebabkan karena angin di tol sangat kencang, dan tempat sampah (ya, hal sepele memang) tidak dirancang untuk mengatasi angin di pintu tol.. seandainya setiap perancangan memikirkan konteks site bahkan untuk jenis perancangan sesepele apapun, seharusnya hal seperti ini tidak akan terjadi..

  3. 3 nisanichan
    December 25, 2010 at 1:03 am

    dulu-dulu saya sempat bingung apakah kertas kecil tanda pembayaran itu boleh saya buang ? toh tidak ada gunanya buat saya, hanya akan memenuhi tempat receh di mobil saja. Namun justru karena banyaknya kertas-kertas yang bertebaran itu saya jadi tahu bahwa ternyata itu kertas boleh dibuang dan boleh saja langsung dibuang di tempat.
    dalam hal ini, hal yang lebih mengusik saya bukanlah kekotoran tempat sampah di gerbang tol tersebut, namun mengapa pengguna tol, harus diberi tanda bukti terima kalau ternyata tanda bukti tersebut tidak dibutuhkan sehingga boleh langsung dibuang di tempat. pernah suatu ketika saya langsung membuang tanda bayar tol sepersekian detik setelah petugas tol memberikannya kepada saya, kakak saya kemudian berkomentar “kejam sekali, langsung dibuang tanpa basa-basi”. ya, kasihan sekali kertas-kertas itu. diberikan untuk dibuang..

  4. 4 dsaginatari
    December 25, 2010 at 3:03 am

    saya juga seperti alline, shooter di lapangan, dan juga seperti fuzia, pengguna jalan tol yang cukup sering.. saya pribadi sangat jarang juga dapat memasukan sampah kertas struk tol tersebut ke tempat sampah..menurut saya ini dikarenakan hal-hal yang telah disebutkan fauzia : angin, keterburu-buruan, posisi tempat samapah, dan luat bukaan tempat sampah itu sendiri..saya pribadi saya jadi lebih memilih untuk menyimpan struk tersebut di dalam mobil walau pun memang sangat membuat kotor karena saya juga jarang membersihkan bagian dalam mobil..tapi entah mengapa hal ini menjadi hal yang lebih manusiawi buat saya..selain itu, saya ada perasaan tidak enak sama mba atau mas penjaga tol yang dengan senyum memberikan si struk tapi di depan matanya pula kita membuangnya..jujur, walau pun mungkin si mba atau mas nya merasa sudah biasa, saya tetap memiliki perasaan tidak enak tersebut..satu hal yang saya pikirkan tentang si struk ini adalah apa sebenarnya fungsi dari struk ini? ya mungkin memang ada beberapa pihak yang perlu akan struk ini, tapi saya percaya kalau untuk tol dalam atau lingkar luar jakarta akan lebih banyak orang yang tidak membutuhkan..selain itu, berapa banyak kerta syang kita buang2? global warming ngga sih? apakah jika kita bertanya ‘butuh struk pak/bu?’ terlebih dahulu segitu menghambatnya? entah lah, menurut saya memberikan tempat sampah bukan lah solusi..solusinya terletak pada, somehow, sistem sehingga pintu tol tidak menghasilkan buangan yang banyak seperti sampah struk ini..

  5. December 25, 2010 at 11:50 am

    Tanggapan saya kira-kira sama dengan tanggapan-tanggapan di atas. Saya selalu berpikir, buat apa ya diberikan struk kalau hanya untuk dibuang? Sepertinya pengguna jalan juga tidak membutuhkannya. Apalagi di sana disediakan tempat sampah, seolah-olah berbicara begini “setelah tanda terima pembayaran diterima dapat langsung dibuang di sini”. Hahahaha, dari dulu saya berpikir begitu.😀 Lagipula, dari yang saya perhatikan, kebanyakan orang memang tidak membutuhkannya, setelah diterima, pasti langsung dibuang. Jadi tidak berguna kan kertas-kertas itu?

    Saya setuju dengan pendapat kalau adanya tempat sampah tidak menjadi solusi. Tempat sampah tersebut ukurannya kecil, sedangkan kita yang berada di mobil pasti melemparnya sambil menjalankan mobil, apalagi kalau sedang buru-buru, belum lagi kertas tersebut mudah tertiup angin. Jadi, sepertinya pemberian struk ini malah menimbulkan sampah. Jadi, apa ditiadakan saja sistem pemberian struk ini?

    Saya pribadi sih lebih memilih menyimpan dahulu struk tersebut dan membuangnya nanti.🙂

  6. December 25, 2010 at 4:54 pm

    sekarang, teknologi semakin berkembang ditambah isu global warming muncul.
    mungkin sistem bukti pembayaran tol bisa dilakukan secara digital tanpa harus memakai kertas lagi.
    entah dengan menggunakan kartu (produk salah satu bank kalau tidak salah) atau dengan cara lain yang praktis dan efisien.memang kelemahannya adalah tak semua orang menggunakan jalan tol.mungkin pihak pengurus tol tidak pernah mengkaji seberapa penting struk itu bagi pengguna jalan tol.andai saja bisa dijadikan isu dan dilakukan survey saya yakin pasti ada solusi yang tepat bagi persoalan ini. asal ada sosialisasi yang efektif ke masyarakat luas tentang sistem baru nantinya.


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: