23
Dec
10

Antara ‘want’ dan ‘need’

Masalah memang sudah menjadi salah satu hal yang selalu hadir dalam kehidupan kita, termasuk kehidupan bersama dengan individu lainnya di dalam sebuah society. Masalah hadir sebagai sesuatu yang mengganggu atau sesuatu yang dapat mengancam atau merusak tatanan hidup yang baik. Namun, apa sebenarnya ‘tatanan kehidupan yang baik’ tersebut?

Dalam proses pengerjaan project Perancangan Arsitektur, hal tersebut dipertanyakan oleh sang fasilitator, memangnya seperti apa kehidupan, yang dalam hal ini kehidupan urban, yang baik itu? Dalam project ini kami mengangkat suatu isu yang ada di dalam society, melihat apa saja masalah yang ada yang diperoleh dari survey, dan selanjutnya menyelesaikan masalah tersebut sebagai seorang perancang dalam suatu wujud rancangan arsitektur. Ketika saya membicarakan mengenai isu dan program yang saya ajukan, beliau bertanya, “Apakah mereka benar-benar membutuhkannya?” “Apakah kalau bangunan tersebut tidak ada akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan?” Kemudian beliau menjelaskan, ada perbedaan antara ‘want’ dengan ‘need’.

‘Want’ di sini merupakan keinginan seorang perancang untuk membuat suatu kehidupan menjadi lebih baik (seperti dalam pengertian life cultivation). Seorang perancang melihat adanya suatu ketidakterarutan dalam society ketika mereka menjalankan kehidupa, maka ia merasa hal tersebut perlu dibenahi. Namun bagaimana kalau masyarakat sudah merasa nyaman dengan keadaan tersebut? Apakah kalau seandainya kita melakukan suatu intervensi di sana akan membuat keadaan menjadi lebih baik? Oleh karena itu, arsitek harus memahami betul apa ‘need’ dari masyarakat. Kita harus benar-benar mengenali masyarakat dan kehidupannya agar tahu apa yang benar-benar dibutuhkan mereka, jadi tidak hanya sekedar mewujudkan keinginan kita, karena apa yang kita inginkan belum tentu bermanfaat bagi mereka. Inilah pentingnya partisipasi masyarakat dalam membuat sebuah project arsitektur.


3 Responses to “Antara ‘want’ dan ‘need’”


  1. December 25, 2010 at 2:31 am

    memang yang harus kita perhatikan adalah kebutuhan dari suatu society tersebut.bagaimana kalo tenyata memang mereka sudah nyaman dengan keadaan yang kita anggap negatif itu?haruskah kita memaksakan keinginan kita untuk mengubah keseharian yang sudah sering mereka jalani tersebut?mungkin kalau kita melihat hanya terpaku kepada society tersebut tanpa mengaitkannya dengan pihak lain, kita tidak harus merubah itu. tapi bagaimana ketika kita menghubungkannya ke skala yang lebih besar,kota misalnya.apakah society yang mereka anggap sudah nyaman tersebut memberikan suatu dampak negatif ke kota?jika iya kita tidak bisa hanya tinggal diam dan melihat “kekacauan” yang ada tersebut terus berlangsung. perlu adanya pendekatan ataupun penjelasan kita sebagai perancang kepada masyrakat yang tinggal pada society tersebut akan permasalahan yang terjadi tersebut.mungkin kalau mereka menyadari bahwa ternyata hal tersebut memberikan dampak negatif mereka akan mempertimbangkannya.

  2. December 25, 2010 at 11:19 am

    saya setuju soal pertisipasi masyarakat, namun masalahnya siapa yang diharapkan untuk berpartisipasi dalam proyek kita itulah yang terkadang tidak tepat pada sasaran, dimasyarakat sebuah kawasan pun pasti terdapat “minoritas”dan “mayoritas”, “yang terkenal” dan “yang tidak terkenal” siapa yang tau jika si minoritas ini dan yang tidak terkenal ini tidak membutuhkan ataupun mengingini sesuatu dan masalah yang kedua ada ketika kita bertanya pada para minoritas dan tak terkenal ini mereka seringkali sulit mengungkapkan keinginan ataupun hanya sekedar harapan, entah karena mereka tidak terbiasa atau memang sudah putus asa terhadap harapan. Yang pasti saat mereka mengatakan tidak perlu janganlah kita anggap mereka tidak benar-benar perlu.mungkin mereka juga tidak menginginkannya namun secara tidak sadar mereka membutuhkannya. mungkin itulah gunanya survey berkali-berkali untuk memastikan apakah yang saya dapat diawal masih terjadi di lain hari, saat apa yang kita dapat diawal diperkuat oleh yang kita dapat dilain hari dapatlah kita kebutuhan mereka, baik yang mereka sadari maupun tidak mereka sadari. ingin kita adalah intervensi bagaimana mengajak mereka menyadari apa yang mereka tidak sadari selama ini. tinggal pilih survey sekali dan menjadi perancang yang egois atau survey berkali-kali namun menjadi perancang yang dekat dengan masyarakat. lelah kita pasti akan terbayar oleh senyuman dan kepuasan mereka dan “yang lebih baik” tadi mungkin akan tercapai

  3. 3 niasuryani
    December 25, 2010 at 2:34 pm

    mungkin tanggapan saya tidak jauh berbeda dengan belonia tapi hanya ingin menambahkan, kadang dari proses survey yang singkat atau kurang mendalam, mungkin intervensi yang kita rancang atau kita hadirkan secara sekilas dapat menyelesaikan masalah dan benar-benar dibutuhkan oleh society tapi mungkin sebenarnya intervensi ini malah menimbulkan masalah baru atau jika intervensi ini tidak terlalu dibutuhkan oleh societynya, intervensi ini berpotensi untuk jadi dead space dengan kata lain rancangan kita tidak berguna sama sekali. dari proses survey yang mendalam serta dengan program-program yang disiapkan paling tidak untuk menginvite society agar memberikan respon terhadap intervensi yang dibuat setelah itu barulah program untuk menyelesaikan masalah yang terjadi di society ini.


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: