25
Dec
10

antena oh antena

Ayo siapa yang rajin nonton tv? Pernah peduli bagaimana gambar yang mulus bisa kita nikmati?

Pertanyaan ini tiba-tiba ingin saya tanyakan saat saya melihat panorama atap-atap rumah yang sangat tidak rapi berantakan di bawah jalan layang Pasopati, Bandung . Hari itu macet melanda jalan menuju Dago, Bandung alhasil saya bosan dan terpaksa melihat kanan-kiri, dan waw “indahnya” panorama atap-atap rumah yang sudah termakan usia tersaji “cantik” di depan mata saya, saya pandangi dan tiba-tiba mata saya tertuju pada sebuah objek yang tertambat di tiang bambu  tinggi yang miring dan sedikit bergoyang tertiup angin (mengingatkan saya pada iklan antenna jaman dulu). Itulah antena televisi, pahlawan yang sangat berjasa dalam membuat suasana ruang keluarga makin nyaman dan hidup. Saya pun men-scanning tiap-tiap atap rumah dan saya melihat keadaan yang sangat mengharukan dan mengenaskan dari si antenna  ini. Ada yang dipasang ditiang yang berkarat, ada yang ditaruh di pinggir balkon rumah, ada yang sendiri menyepi jauh dari bagian rumah, ada yang ikut disemen di bagian sofi-sofi rumah dengan teknik semen yang sangat tidak rapi, ada yang ekstrem menempelkannya bersama penangkal petir , bahkan di gedung pemerintahan sebelah Gedung Sate, saya melihat perlakuan yang sama yaitu ditambatkan pada tiang (mungkin besi karena tidak terlalu jelas)  yang panjang dan di sematkan di ujung atap, dan jika diamati merusak penampilan gedung nan megah ini. Coba siapa yang ngomel-ngomel saat cinta fitri dinikmati dengan semut menghiasi layar televisi? kata pertama yang kita ucapkan pasti “ah! antenanya nih pasti!”. Kasihan sekali sang antenna sudah ditempatkan ditempat yang menyedihkan, harus disalahkan pula,  seharusnya yang harus disalahkan itu siapa yang memasang, dimana dan bagaimana. Antena hanya benda mati yang tidak bisa berkata ingin diletakkan dimana. Dan hal kedua yang kita lakukan pasti kita akan langsung mengadu pada ayah (bukan ibu) untuk membetulkannya atau tukang yang juga laki-laki. Disaat begini ayah (laki-laki) adalah pahlawannya, pahlawan antenna.

Sadar atau tidak, Antena sudah berkontribusi dalam kehidupan keseharian kita, ada yang duduk di depan layar seharian untuk menonton kartun lalu drama korea lanjut sinetron, ada yang menunggu tayangan sepak bola, balapan F1 atau GP, atau menonton berita yang penting untuk up-date apa yang terjadi dalam kehidupan, televisi sudah menjadi teman kita untuk melihat di luar jangkauan kita dan bagaimana bisa kita melihat apa yang kita saksikan di layar tanpa keberadaan antenna.

Kalau teori “semua yang dilakukan kita di bumi ini butuh ruang” bolehlah saya mengkategorikan kalau antenna ini juga melakukan sesuatu untuk kehidupan kita dan butuh ruang serta penempatan yang tentunya lebih layak. Ekstrimnya, paling tidak saat merancang, antenna ini ikut disertakan dalam perencanaan peletakan supaya dia bisa melakukan kegiatannya mencari sinyal dengan baik, tidak menganggu keindahan, diperlakukan secara layak dan yang terpenting tidak disalahkan lagi.

Terimakasih oh antenna berkatmu irfan bachdim terlihat sangat tampan. Ayo perlakukan antenna dengan penuh kasih sayang!!!


0 Responses to “antena oh antena”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: