25
Dec
10

Cultural Influence on Domestic Life

“Ada saatnya kita terpengaruh oleh kebiasaan dan budaya orang lain.” Melalui pembahasan ini saya akan mempertanyakan apakah suatu tempat selalu dapat mempengaruhi budaya dan kebiasaan orang lain atau tidak.
Setiap manusia pasti berusaha untuk membuat suatu tempat yang sedang ia diami menjadi ‘as homy as possible’- baik dalam suatu primary, secondary maupun public territory. Meskipun tempat tersebut tidak dirancang sesuai dengan kebiasaan kita, namun kita pasti berusaha untuk mencari suatu cara agar tempat tersebut bisa sesuai dengan kebiasaan kita. Ketika mengikuti suatu lecture mengenai toilet, saya jadi teringat akan suatu pengalaman saya ketika berada di hotel di salah satu negara barat ketika saya masih kecil.
Di toilet tersebut tidak disediakan toilet shower ataupun ember untuk membersihkan setelah buang air besar(BAB). Yang disediakan hanyalah satu gulungan toilet paper. Ketika itu, saya tidak tahu kalau toilet paper tersebut digunakan untuk membersihkan setelah BAB karena pengetahuan yang saya ketahui mengenai tisu adalah untuk membersihkan kotoran setelah basah, ngelap sesuatu yang basah namun tidak untuk membersihkan setelah BAB. Lalu saya bertanya-tanya kenapa tidak ada semprotan air yang biasa saya gunakan setelah BAB? Lalu saya mulai mencari-cari di sekeliling, apa yang dapat saya gunakan untuk membersihkannya. Di samping kanan saya terdapat handle shower mandi, namun tidak terjangkau karena letaknya yang berada di suatu ketinggian. Di samping kiri, saya melihat wastafel yang dapat terjangkau untuk dinyalakan maupun dimatikan airnya. Di wastafel tersebut terdapat gelas yang akhirnya saya gunakan untuk membersihkan setelah BAB. Padahal seharusnya gelas tersebut digunakan untuk keperluan menggosok gigi!
Kembali ke statement saya pada awal pembahasan- apakah suatu tempat selalu dapat mempengaruhi budaya dan kebiasaan orang atau tidak? Ternyata, meskipun toilet tersebut dirancang sesuai dengan kebiasaan dan budaya barat, namun kita tidak langsung terpengaruh dengan menggunakan toilet paper. Hal ini dikarenakan kurangnya pengetahuan tentang penggunaannya. Namun apabila saya tinggal di negara tersebut selama bertahun-tahun saya mungkin saja mulai terpengaruh oleh budaya tersebut. Lagipula toilet tersebut merupakan toilet privat dimana hanya ada saya seorang diri.
Saya ingin mengambil satu contoh dimana seseorang dapat terpengaruh oleh budaya seseorang karena melihat orang lain di sekitarnya melakukan hal yang sama. Ketika budaya antri diberlakukan oleh masyarakat di suatu negara, saya sebagai orang Indonesia yang berada di tempat tersebut akan “ikut-ikutan” mengantri karena tidak mau terlihat “ugly” apabila tidak ikut antri di antara orang lain yang sedang antri. Namun apabila saya berada di negara yang budaya antri sangat tidak diberlakukan oleh masyarakat di tempat tersebut, maka saya akan “ikut-ikutan” tidak mengantri karena takut di lihat sebagai sesuatu yang “ugly” di antara mereka.
Kesimpulan yang saya petik dari pembahasan ini adalah bawa budaya “ikut-ikutan” melekat pada banyak orang apabila berada di antara sejumlah orang. Namun tidak sama halnya ketika berada di ruang privat seperti toilet karena tidak ada orang lain yang melihat. Jadi siapa yang peduli apabila kita “ugly” atau tidak? Mau memanfaatkan gelas untuk membersihkan setelah BAB tidak lagi merupakan suatu pemandangan yang “ugly” apabila berada di ruang privat ini.


0 Responses to “Cultural Influence on Domestic Life”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: