25
Dec
10

dunia maya vs dunia nyata

Bagaimana perilaku orang dengan ruang sekarang ini? bagaimana ruang-ruang maya dapat tercipta? Apa yang berubah dengan adanya internet bahkan blackberry sekarang ini?

Fenomena twitter belakangan ini menurut saya cukup mengubah perilaku beberapa orang. Yang menarik adalah twitter seperti menjadi ruang sosial baru untuk orang-orang bertemu dan berkumpul membicarakan bagaimana hari-hari mereka, merencanakan sesuatu. kehidupan masa lalu,masa sekarang (apa yang terjadi saat itu), masa depan tampaknya dapat dibicarakan melalui twitter ini. Kalau dulu mungkin orang-orang akan berkumpul di suatu tempat untuk sekedar bertemu dan berbincang mungkin dengan keberadaaan internet sekarang ini.hal itu sudah tidak perlu dilakukan lagi. Bahkan setelah adanya teknologi blackberry, blackberry seperti internet dalam genggaman tangan, banyak akses dalam genggaman tangan. Banyak pengguna blackberry sekarang ini ketika berada di ruang sosial dunia nyatanya justru sibuk dengan dunia mayanya, tidak memperdulikan keberadaan orang lain sekitarnya bahkan elemen arsitektur ataupun bangunan arsitektur sekitar mereka menjadi tidak penting lagi.

Kalau dulu misalnya taman menjadi area publik untuk bertemu dan saling menyapa maka saat ini timeline twitter lah yang menjadi ajang untuk melihat orang lain,menyapa,bahkan berbincang dengan orang lain itu. Tidak perlu banyak space yang dibutuhkan bahkan, hanya space sebesar badan manusia atau sebesar tempat duduk saja sudah bisa membuat orang ini berinteraksi dengan banyak orang. Timeline di sini seperti menjadi sebuah ruang yang mampu menampung keberadaan banyak orang. Menampung mereka yang saling menyapa (orang-orang yang saling berinteraksi di twitter) , menampung mereka yang hanya menyaksikan saja (orang-orang yang hanya membaca timeline, tapi orang ini sebenarnya tahu apa yang sedang dibicarakan orang-orang sekitarnya), dan menampung orang-orang yang ingin mengekspresikan dirinya tanpa motivasi apapun untuk berinteraksi dengan orang lain (orang-orang yang mengupdate statusnya).
Bahkan anda bisa membuat semacam kelompok sendiri di ruang-ruang maya tersebut. Fenomena hashtag (#……..) menurut saya menjadi semacam suatu kumpulan orang-orang akan suatu topik,isi,kesukaan yang sama. Apabila di dunia nyata anda berbincang dengan berkelompok untuk saling membagi suatu kesukaan yang sama maka di duni maya hal ini dapat dibantu dengan penggunaan hash tag.

Hal ini membuat saya berpikir jangan-jangan nantinya peran arsitek akan sangat minim karena orang-orang tidak memerlukan ruang banyak untuk aktifitasnya. Yang mereka butuhkan barangkali hanya seukuran ruangan yang dapat diisi manusia berserta perangkat elektroniknya (seperti komputer) :p
Barangkali penciptaan ruang nanti lebih menjadi tugas programmer bukan arsitek lagi?
coba dipikirkan kembali berapa banyak waktu yang anda habiskan bersama hp anda, blackberry anda, dan komputer anda beserta dengan koneksi internetnya dibanding dengan waktu anda berjalan-jalan di suatu ruang di dunia nyata dan berinteraksi secara langsung, secara nyata?
Saya pribadi lebih banyak menghabiskan waktu saya bersama dengan perangkat-perangkat elektronik tersebut.hehe.


1 Response to “dunia maya vs dunia nyata”


  1. December 27, 2010 at 7:36 pm

    Dunia maya memang sudah menjadi dunia yang lebih “nyata” dibandingkan dunia maya. Masalahnya adalah apakah hal tersebut harus diteruskan. Saya pernah melihat suatu acara dimana dunia maya telah mengoccupy space sehari-hari pada suatu keluarga. Bahkan untuk berkomunikasi sehari-hari antar keluarga pun mereka melakukannya dengan menggunakan sms! Hal ini membuat waktu mereka bertemu menjadi sedikit karena mereka menjadi terisolir di dunianya sendiri. Hal ini juga berdampak pada sifat ‘malas gerak’ pada mereka. Alhasil selama seminggu, dalam acara ini, mereka dipaksa untuk menyerahkan segala perangkat teknologi yang mereka punya termasuk handphone, laptop, televisi bahkan alat masak yang menggunakan listrik. Mereka diberi tv pada masa lampau (yang hitam putih) sehingga mereka dibuat seperti berada pada tahun 40an. Memang sulit karena mereka harus merubah kebiasaan mereka dan dalam menjalani kehidupan sehari-hari menjadi lebih sulit. Namun kesulitan inilah yang menambah interaksi di antara keluarga. Setelah satu minggu, segala alat teknologi mereka dikembalikan. Tapi hal yang mengejutkan terjadi. Mereka malah meminta satu minggu lagi sebelum alat teknologi tersebut dikembalikan! Eksperimen ini membuat mereka membuat mereka merubah kebiasaan mereka yang berdampak pada pola keseharian mereka yang kini lebih dekat dengan anggota keluarganya:)


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: