25
Dec
10

kita lahir, dididik, lalu pergi?

Saya teringat akan suatu hari, bersetting di ruang keluarga sambil menonton tv, tiba-tiba saya bertanya kepada ibu saya, “Bu, jangan-jangan berapa taun lagi komplek kita jadi komplek orang tua ya bu?”, ibu saya lalu tertawa dan menjawab, “iyah, bentar lagi isinya orang jompo semua, nenek-nenek, kakek-kakek, leyeh-leyeh”. Entah apa yang membuat saya tiba-tiba bertanya itu pada ibu saya.

Tapi, memang benar adanya, komplek rumah saya (RW 10) di Bandung terdiri dari 6 RT, tiap RTnya kira-kira ada 42 rumah (yang dulunya identik, tapi sekarang sudah berubah wajah satu demi satu) berjejer rapi berdampingan kini sudah sepi akan tawa anak kecil yang setiap sore bermain seperti waktu saya kecil dulu. Anak-anak yang dulunya bermain di jalan depan rumahnya kini satu persatu sudah beranjak dewasa dan bahkan seperti saya meninggalkan rumah untuk menuntut ilmu di kota orang. Ibu-ibu yang dulunya masih terlihat muda, kini sudah sigap mengikuti senam manula yang rutin diadakan RW saya ini.

Ada satu hal yang saya rindukan yaitu saat karnaval 17 agustus-an. Setiap anak dari setiap RT berkumpul disalah satu rumah untuk didandani dan dipakaikan baju daerah, ada juga yang menghias sepeda, berlomba dengan berarak-arakan keliling RW melewati setiap jalan RT01 – RT 06 menyanyikan lagu kemerdekaan dsb, ramai sekali, sampai-sampai setiap rumah sudah membuka pintunya siap-siap melihat kami datang. Tapi sudah 5 tahun ini suara lantang setiap tanggal 17 agustus lenyap sudah, kalaupun ada, karnaval ini bukan untuk dilombakan namun untuk mengisi acara saja. Bahkan 5 tahun terakhir karang taruna sudah tidak aktif karena satu persatu pengurusnya membina keluarga baru dan penerusnya ada yang terlalu sibuk memikirkan kehidupan individunya dan banyak yang seperti saya pergi meninggalkan rumah. Akibatnya penyelenggaraan agustus-an di rumah saya dipegang kendalinya oleh ibu-ibu dan bapak-bapak sekalian dan salah satu agenda acaranya adalah tembang kenangan.

Kenyataannya memang begitu, anak-anak kecil itu termasuk saya sudah beranjak dewasa, satu persatu akan meninggalkan orang tua kami masing-masing untuk memulai hidup baru di suatu tempat bukan untuk berpisah, namun untuk belajar menjadi manusia mandiri, membina hal baru atas cita-cita, dan pastinya membuat mereka bangga. Komplek yang dulu dibangun dengan penuh cita-cita,memupuk kami dengan asa dan harapan itu akan segera menuai hasilnya.


0 Responses to “kita lahir, dididik, lalu pergi?”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: