25
Dec
10

Reproduksi

Semester ini mahasiswa arsitektur 2007 dan arsitektur interior 2009 menempati studio baru yang terletak di luar dari bangunan Departemen Arsitektur. Studio baru tersebut berada di lantai 6 gedung S Fakultas Teknik, disebelah gedung Pusat Administrasi Fakultas. Jarak yang jauh dari Departemen Arsitektur dan berbagai fasilitas lainnya membuat kami, mahasiswa yang menempati studio lantai 6 gedung S, mereproduksi ruang.

Gedung S sebenarnya sudah memiliki musholla. Musholla pria di lantai 5 dan musholla wanita di lantai 3. Pada awal semester, kami masih menggunakan musholla ini. Namun, lama kelamaan kami membuat sendiri musholla di tempat yang masih kosong di lantai 6. Musholla ini hanya berupa alas sholat sebesar kira-kira 1,5 x 1,5 m. Namun pada akhirnya kami lebih sering sholat di sini.

Keengganan kami untuk menggunakan musholla di gedung S memiliki berbagai alasan. Salah satunya adalah masalah kepraktisan. Untuk sholat di lantai 3 kami harus turun menggunakan tangga, mengantri wudhu dengan mahasiswa jurusan lain, mengantri tempat sholat dengan mahasiswa jurusan lain juga (karena luasnya yang terbatas) dan kemudian naik lagi ke lantai 6 menggunakan lift atau tangga. Bila ingin menggunakan lift, kami harus menunggu lagi. Sedangkan untuk sholat di lantai 6, di musholla yang kami reproduksi dari ruang kosong, kami hanya perlu mengambil air wudhu di toilet yang seringkali sepi, lalu kemudian sholat di seberang ruangan tanpa harus mengantri. Selain masalah waktu, kami juga lebih merasa memiliki musholla ini daripada musholla yang di lantai 3. Berada di studio sendiri, dimana sebagian besar waktu kami dihabiskan di sini, dengan orang-orang yang juga kami kenal.


4 Responses to “Reproduksi”


  1. December 25, 2010 at 9:17 pm

    you know what? menurut saya studio masih punya banyak potensi memenuhi kebutuhan mahasiswa. 1. musholla 2.’tempat makan’ karena banyak mahasiswa arsitektur prefer makan di dalam kelasnya 3.tidak lupa tempat pemisahan sampah (sampah maket, sampah basah) karena seringkali studio dipenuhi sampah. tapi kalau dipikir-pikir lagi, jika semua fasilitas sudah ada di studi, makin ‘ansos’ lagi manusia-manusia ars. don’t you think? hehe just saying

  2. December 25, 2010 at 10:53 pm

    kepraktisan adalah alasan utama kita sebagai mahasiswa arsitektur yang sering dikejar deadline untuk mengerjakan semua kegiatan di satu tempat saja. Oleh karena itu, kita menjadi kreatif untuk menambahkan fungsi ruang pada ruang tempat kita berkegiatan sehari-hari contohnya studio.

  3. December 25, 2010 at 11:07 pm

    ruang yang baik adalah ruang yang memiliki affordance yang tinggi, pemakai memiliki sense of belonging dan sense of awareness terhadap ruang tersebut. sebuah ruang luas dan kosong, belum terdefinisi, akan dengan mudah dimanfaatkan oleh orang-orang disekitarnya. bahkan kini secara tidak langsung, ruang di lantai 6 tersebut telah terdefinisi “memiliki ruang sholat”. paling tidak hingga ruang itu nantinya difungsikan sesuai rencana sebenarnya, ia akan tetap menjadi ruang sholat bagi penghuni lantai 6.

  4. December 26, 2010 at 1:39 am

    you know what? saya yg harusnya sholat d lntai 5 saja(cuma turun dikit dr lt 6) jg sering, bahkan selalu sholat di lantai 6 juga.. walaupun kadang juga harus mengantri, karena cuma ada 2 sajadah, dengan mahasiswa lain. jika dipikir-pikir, mungkin tidak jauh berbeda jika saya sholat di lantai 5 saja. Tapi, menurut anda, kenapa saya lebih memilih sholat di lanta tersebut (6) ??


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: