25
Dec
10

Ruang servis, dimanakah kau berada? Rindu aku ingin jumpa…

Kali ini tulisan saya terinspirasi dari cerita ibu saya mengenai kakak saya yang sewaktu kelas 1 SD mengerjakan ujian pelajaran bahasa indonesia. Yang menarik dari cerita itu adalah ketika kakak saya menjawab satu soal yang pertanyaannya adalah “dimanakah ibu memasak?”, maka kakak saya menulis jawabannya “di belakang”. Waktu itu saya hanya tertawa mendengar cerita itu, namun sebenarnya ada yang menarik dari jawaban “di belakang”. Mengapa anak SD umur 5 tahun bisa sangat teringat dengan letak ruang servis atau dapur yang berada di belakang? Apakah ruang servis harus diletakkan di belakang atau tersembunyi? Padahal dapat dikatakan ruang servis adalah jantung dari suatu hunian tempat tinggal. Bayangkan saja bila rumah tanpa ruang servis, dimana ruang menghasilkan sesuatu yang bisa menyatukan anggota keluarga, yaitu makanan, atau sebagai ruang dimana tersedianya segala kebutuhan keluarga seperti baju yang bersih dan rapi, atau yang lainnya seperti area dimana peralatan kebersihan rumah berasal dari ruang ini. Oh, ruang servis mengapa kau begitu tersembunyi?  Sejujurnya, saya pun sangat jarang ke ruang servis, bisa dikatakan hanya seminggu dua kali, yaitu saat akhir pekan dan di saat saya membantu mengerjakan satu atau dua pekerjaan rumah, sedangkan pada hari biasa saya sangat jarang ke ruang servis, terutama dapur, karena letaknya tak terakses dengan kegiatan saya di rumah pada hari kerja. Hal ini pula terjadi pada ayah saya dan 2 kakak saya, kecuali ibu saya yang kesehariannya adalah ibu rumah tangga. Ruang servis yang pemilik utamanya adalah ibu saya menjadi begitu hidup di waktu pagi dan sore hari, karena saat itulah ia menyiapkan sarapan dan makan malam. Begitu hidup karena terdengar dari suara sendok yang menyentuh piring atau irama panci dan spatula yang saling beradu , atau pada pagi jari setelah ibu saya menyiapkan sarapan terdengar bunyi mesin cuci yang sedang sibuk membersihkan baju-baju anggota keluarga saya, tapi semua itu hanya bisa dirasakan lewat pendengaran tidak melalui pengelihatan. Beberapa kali saya melihat denah rumah milik ayah saya dengan peletakan ruang servis yang serupa. Kalau kita melihat rumah-rumah pada umumnya pun memperlakukan peletakan ruang servis yang  tersembunyi, di belakang, di pojok, tidak terlihat. Sebenarnya ada apa dengan ruang servis hingga diletakan tersembunyi?  Apakah ruang servis di rumah kalian juga seperti itu?


3 Responses to “Ruang servis, dimanakah kau berada? Rindu aku ingin jumpa…”


  1. December 25, 2010 at 11:05 pm

    Apakah bermasalah apabila ruang servis berada dibelakang? Ruang servis seperti dapur sering kali berada dalam keadaan kotor, tentu kita akan merasa kurang nyaman apabila berkegiatan, menonton tv misalnya dengan pemandangan dapur yang tidak bersih..
    Mungkinkah yang dimaksud adalah ruang servis terabaikan, luput dari perhatian padahal ruang ini penting peranannya dalam kehidupan sehari-hari

  2. December 25, 2010 at 11:16 pm

    tak selamanya ruang servis misalnya dapur ditaruh di belakang rumah.
    Keadaan ini tergantung pada sang pemilik rumah. Bagi sang pemilik rumah yang senang mengunadang sanak saudara atau pun teman2 ke rumahnya untuk mengicip hasil eksperimen memasaknya, maka dia pasti ingin membuat dapur yang luas dan ditaruh agak ke depan dan tidak diletakkan di belakang rumah.
    Begitu pula yang terjadi di rumah saya, ibu saya senang memasak. Dapur dibuat terbuka dan terkoneksi dengan ruang-ruang sepertu ruang makan dan ruang keluarga, sehingga ketika tamu datang tak jarang tamu yang sudah akrab dapat melihat-lihat daerah dapur. Dia pun senang mengundang teman-temannya untuk masak bersama atau sekedar sharing resep andalan baru.

  3. December 26, 2010 at 11:43 am

    ruang servis di letakkan dibelakang? itu kembali lagi pada kebudaayan dan keseharian dari kita sebagai warga Indonesia. Kalau kita meperhatikan rumah-rumah orang asing “bule” kebanyakan dari mereka meletakkan dapur setelah pintu masuk rumah alias di bagian depan. atau coba kita perhatikan apartemen yang terdapat di jakarta, sebagai contoh apartemen di rasuna said, pasti setelah pintu masuk ,kita bisa langsung bertemu dengan dapur dan ruang makan. soalnya apartemen diadaptasi dari budaya barat kan… mengapa? mungkin itu dikarenakan budaya mereka yang dalam kesehariannya melakukan sesuatu secara instan, cepat, cuek, dan tidak “ribet”. Seperti dalam hal masak memasak, karena kesibukan mereka jadi mereka jarang melakukan kegiata masak yang “heboh” seperti orang di Indonesia. Di Indonesia, tidak perlu jauh jauh, ibu saya orang yang jarang masak, tetapi sekalinya masak, pasti akan sangat heboh! segala jadi berantakan, kotor, dan pastinya selalu menganggap tidak enak dipandang mata apalagi orang lain, maka dari itu dia lebih memilih untuk meletakkan dapurnya dibagian belakang. Bahkan dapur dirumah saya terpisah dari rumah induk, namunmasih terhubung dengan taman, jadi tetap mudah diakses.
    jadi ,peletakan ruang servis itu mungkin akan berbeda-beda tergantng dari budaya dan keseharian itu sendiri


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: