25
Dec
10

Segmentasi sebagai Self Esteem dalam Arsitektur

Segmentasi (pengelompokkan) ruang dalam arsitektur dianggap merupakan sebuah hasil dari modernisme dalam arsitektur, bahwa selalu ditemukan adanya ‘ruang’ yang mempunyai makna berkegiatan secara spesifik. Keadaan ini seringkali menjadi suatu perdebatan didunia arsitektur, apakah perlu menanamkan mental segmentasi dalam rancangan hingga pertanyaan apakah segmentasi ini sesuai dengan kebudayaan dan tingkah laku masyarakat pengguna?

Terlepas dari fenomena pro dan kontra tersebut, sesungguhnya terdapat satu sifat dasar manusia yang ingin ditunjukkan sebagai salah satu latar belakang terjadinya segmentasi dalam dunia arsitektur modern, yakni upaya pemenuhan kebutuhan self esteem seorang individu terhadap ruang. Dalam hal ini, self esteem dapat diartikan sebagai upaya penghargaan terhadap usaha yang dicapai seorang individu.

Hubungan antara self esteem dengan segmentasi arsitektur dapat kita lihat dalam kehidupan sehari-hari yakni saat mendeskripsikan tempat tinggal. Seringkali kita menyebutkan bahwa dalam hunian tersebut terdapat 3 kamar tidur, satu ruang keluarga, dan sebagainya. Dimana memiliki tiga kamar tidur lebih baik dari hanya memiliki dua kamar tidur, dan sebagainya. Tak ada yang salah dengan pernyataan ini. Namun, bila kita lihat secara seksama, ada suatu pesan dasar yang ingin disampaikan. Dengan jumlah kamar atau ruang yang lebih banyak, maka sudah dipastikan bahwa nilai self esteem (baik ekonomi maupun aspek lainnya) dapat terpenuhi.

Kondisi ini sangat terasa bila kita berbicara mengenai ruang tamu dan dapur kotor-bersih. Ruang-ruang ‘berkegiatan khusus’ ini sering menjadi acuan masyarakat dalam menilai baik/buruknya tempat tinggal yang dihuni. Mapan/ tidak penghuni tersebut. Padahal bila dilihat secara seksama, dalam  berkegiatan sehari-hari overlapping ruang merupakan hal yang secara sadar.tidak sadar terjadi.

Keinginan masyarakat untuk menonjol, dihargai, dan diakui juga tercermin dari ‘komoditi’ arsitektur yang dimilikinya. Ruang dengan kegiatan khusus melahirkan ruang-ruang yang diukur secara kuntitatif sebagai usaha menjawab keinginan self esteem manusia modern. Ini yang membawa kita pada makna ruang yang berbeda, bahwa segmentasi ruang, pengelompokkan ruang secara khusus, diperlukan bukan lagi sebagai upaya kita mengakomodir kegiatan namun sebagai sarana pengakuan diri.


0 Responses to “Segmentasi sebagai Self Esteem dalam Arsitektur”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: