25
Dec
10

“WC” Terbesar di Kota Depok

Hampir setiap hari saya ke tempat ini, bertemu dengan para komuter, calo, calon penumpang, penumpang, pedagang, pengemudi angkutan umum, pengamen, pengemis, petugas DLLAJ. Ada sensasi  tersendiri kalau datang ke tempat ini. Saat angkutan umum 04 yang saya tumpangi berbelok ke arah kiri sebelah utara ITC Depok dalam hati saya dan mungkin penumpang lain berguman “ah sial, kenapa harus masuk “. Bau pesing dan oli angkutan umum cukup menyengat hingga kami para penumpang hampir selalu menutup hidung.  Sampah kertas biru kecil tanda retribusi yang hanya dua ratus rupiah bertebaran di dekat loket pembayaran. Saya berharap suatu hari saya tidak melihat kertas mubazir itu lagi karena toh para supir selalu membayar selama  masih ada petugas yang mengawasi, minimalnya, ukuran kertas diperkecil menjadi seukuran voucher pulsa 5000 yang sekarang beredar. Loket terminal horor sekali. Catnya sudah mengelupasi dan dindingnya seperti sudah digerogoti. Para petugas DLLAJ yang berpakaian rapi sangat tidak cocok berada didalamya. Image yang terbentuk jadilah lebih buruk lagi. Benar-benar tak terurus.. Belum lagi macet yang membuat kami makin lama berada didalamya. Aneh, saya  berpikir mengapa kami harus masuk ke tempat ini berlama-lama, membayar dua ratus rupiah hanya membuat waktu kami terbuang sia-sia. Saya juga prihatin dengan para supir yang seharusnya mereka bisa menghemat bensin dan mendapat penghasilan lebih tanpa bermacet ”ria” di tempat ini. Omelan, keluhan para supir angkot yang hampir menyerempet satu sama lain. Belum lagi ternyata mereka harus menghadapi para penagih pungutan yang jumlah pungutannya sekitar 50 kali lipat dari retribusi parkir ketika masuk terminal..

Itulah cuplikan keseharian saya tentang buruknya salah satu fasilitas publik di Kota Depok. Saya mencoba mengeluarkan sedikit unek-unek tentang hal ini.

Terminal Depok. Sebuah tempat transit berbagai angkutan umum dalam dan luar kota. Bisa dibilang fungsinya hampir sama dengan jantung di tubuh kita, membuang darah kotor mengangkut darah bersih ke seluruh tubuh (menurunkan penumpang dan dan membawa penumpang ke tempat tujuan). Selain terdapat transportasi, disini juga merupakan tempat berkembangnya perekonomian sebagian warga yang berjualan disini. Ada pasar yang berkembang akibat  jalur calon penumpang kereta api.  Ada rumah makan akibat adanya kebutuhan makan para supir dan penumpang. Berbagai kebutuhan ada di tempat ini. Sayang, pemenuhannya masih kurang maksimal.

Mungkin kebutuhan krusial sudah terpenuhi,

Mau makan- ada makanan
Mau pergi- ada angkot/bus/kereta
Mau belanja-ada barang dagangan yang bisa dipilih sesuka hati

Namun..

Tempat makan seperti apa? Dekat WC dan Bau atau Bersih, higienis dan nyaman
Tempat menunggu seperti apa? kotor , rawan tindak kriminal atau bersih dan nyaman
Tempat belanja seperti apa? Sempit, becek, atau luas dan aman

Menurut saya, kebutuhan yang dipikir sudah terpenuhi akhirnya melupakan hal lain yang dipikir juga tidak penting. Arti ruang dan tempat menjadi sangat rendah. Ujungnya ada image yang melekat. Terminal yang memang notabennya di padati oleh warga berekonomi rendah identik dengan tempat yang kotor dan jorok. Saya yakin mereka sebenarnya tidak menginginkan itu semua. Apakah itu semua keadaan berkota yang mereka inginkan? Kualitas hidup akibat keadaan yang seperti itu sangat tidak baik bagi kehidupan mereka. Kondisi ekonomi dan kerasnya kehidupan terminal akan membuat mereka semakin terhimpit dan yang paling dekat, dapat menimbulkan tindak kriminal. Bagaimana dengan komuter yang hampir setiap hari datang ke tempat ini. Penatnya urusan kantor ditambah dengan kondisi perjalanan menuju kantor  yang tidak menyenangkan akan dapat menimbulkan stres.

Pembangunan Kota Depok sebagai kota satelit yang sangat meningkat dengan banyaknya pusat-pusat perbelanjaan, jalan raya dan perumahan, saya harap bisa diiringi dengan meningkatnya fasilitas publik yang sangat krusial seperti terminal ini. Jika memang terlalu berat untuk merubah semua kondisi terminal, pihak yang bertanggung jawab setidaknya sedikit demi sedikit membenahi kondisi ini agar tidak menjadi lebih parah. Pengaturan sirkulasi angkutan umum, dimana tempat ngetem dan dimana tempat sirkulasi. Penataan pedagang kali lima, agar tidak memakan tempat sirkulasi angkutan umum. Kebersihan terminal mulai dari pengadaan tempat sampah di beberapa titik strategis dan mencolok agar mudah dikenali, kebersihan para pedagang yang berjualan dan yang tak kalah penting, penyediaan toilet yang layak bagi para pengemudi agar mereka tak lagi membuang air kecil sembarangan. Kalau perlu untuk menggunakan WC umum digratiskan saja agar tak memberatkan para penggunanya. Perbaikan jalan dan pengaturan pedagang yang berada di jalur menuju stasiun. Deretan toko-toko ini merupakan simbiosis mutualisme antara pedagang dan orang yang bersikulasi di tempat ini. Menurut saya, toko-toko ini adalah tempat cuci mata para pengguna terminal, setidaknya mereka tidak merasakan betapa jauh dan panjangnya jalan menuju stasiun. Di satu sisi kesempatan ini diambil oleh para pedagang yang ingin berjualan memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka. Ya, menyenangkan, jadi mengaburkan ukuran ruang yang sebenarnya.

Sebagai mahasiswa arsitektur, mungkin hanya itu solusi kecil yang bisa ditawarkan, tentunya, diharapkan perubahan kualitas ruang dari terminal bisa juga merubah pola kebiasaan para penggunanya.  Saya masih ingat betul obrolan saya dengan ibu saya ketika sedang berada di samping ITC yang berhadapan langsung dengan terminal “Lihat tuh vi, WC terbesar se Kota Depok”. Saya hanya bisa tertawa kecil dan berpikir, terminal sebenarnya  menyimpan potensi besar dan lika-liku kehidupan urban yang menarik untuk dipelajari . Harapan saya, suatu saat, Terminal Depok bisa sebagus rancangan proyek urban yang ada di studio-studio arsitektur. Semoga saja.


0 Responses to ““WC” Terbesar di Kota Depok”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: