25
Dec
10

We need space!

Siapa sangka dibalik maket-maket fantastis, rapi, dan penuh cerita yang dibawa oleh para mahasiswa di kampus juga meninggalkan banyak cerita bagi kamar yang ditinggalinya.  Tengoklah kamar saya, contohnya.  Kamar berukuran 3x3meter ini seringkali ‘habis’ dihajar oleh bahan-bahan maket yang menggunung dikala sedang ‘merodi’ mengerjakan maket.  Mulai dari lem yang menempel di lantai, meja,hingga mukena! (ya, saya sempat sangat bingung mencari lem tersebut sebelum menemukannya menempel dan bleber di bawah mukena)

Dahulu (well, tidak lama sebelum saya masuk ars) saya merupakan orang yang terorganisir dalam menyimpan barang-barang, termasuk membersihkannya.  Bagai orang pengidap obsesive-compulsive disorder, saya tidak tahan meninggalkan kamar dengan selembar flyer tergeletak dilantai atau melihat urutan ukuran buku di rak buku yang tidak tersusun baik. Semua berada di tempatnya, tidak tergeletak sembarangan.  Namun kini, semakin saya sering ‘menodai’ kamar dengan potongan-potongan bahan maket dan noda lem membandel, saya semakin putus asa untuk membersihkannya.  (terlebih ibu saya yang sering tidak habis pikir saya bisa bertahan di kamar yang hampir seperti kapal pecah)

Akibatnya, karena biasanya maket-maket selesai pada deadline, saya harus langsung meninggalkan kamar dan cabut ke kampus untuk mengumpulkan tugas/display. (ya, kondisi kamar masih berantakan).  Kontribusi orang-orang dalam rumah pada waktu seperti itu sangat terlihat karena tidak tahan melihat kamar saya berantakan, mereka (ibu dan asisten rumah tangga,red) langsung merapikan kamar saya. (well, berat mengakui dan menulis hal tersebut di blog ini).

Hal tersebut terjadi repetitif sepanjang semester, tidak jarang pula barang-barang pendukung perkuliahan (penggaris, cutter, alat gambar, dll) hilang dan ikut tersapu pada saat dibersihkan.  Efeknya, ibu sering membelikan wadah-wadah besar agar saya bisa langsung ‘menyemplungkan’ barang maket habis-pakai.

Tidak hanya itu, serpihan maket yang tertinggal bisa menyebabkan gangguan kesehatan.  Dibantu oleh sapuan pendingin ruangan (AC) serpihan-serpihan kecil itu dapat membuat gangguan pernapasan (batuk-batuk) serta alergi.  (well, setidaknya begitu asumsi saya, mengingat bahan maket kebanyakan dari kapa/birmet yang dibeli di pabrik kertas daur yang berdebu).

Last but not least, kerugian yang paling nyata disebabkan oleh proses pembuatan maket adalah pemakaian ruang yang sangat besar alias makan tempat.  Pertama kali saya membuat maket saya berpikir “oh yeah, ini maket pertama, akan saya simpan di kamar, tidak boleh rusak!”. kedua kali pun begitu hingga kini kamar sudah dipenuhi oleh bahan maket, kertas-kertas dan maket-maket yang pernah dibuat dulu.  (Bahkan ada teman yang menambah rak dalam dua tahun terakhir dan tetap terisi penuh).  hingga kini saya (dan beberapa teman) berpikir untuk meninggalkan maket-maket yang sudah jadi tersebut di studio sampai pada waktunya nanti kelas akan dibersihkan oleh Pak Endang, kami akan mengangkutnya kembali ke rumah, ke kamar, yang makin sempit.

Well, itulah fenomena keseharian yang saya temui.  Para Architect-wannabe ini dipenuhi kesibukan untuk mencari penyelesaian keruangan di kampus hingga lupa untuk memerhatikan ruangnya sendiri.  Pretty sad, but that’s the truth.

 


7 Responses to “We need space!”


  1. December 25, 2010 at 9:07 pm

    Kamar tidak salah lagi menjadi ‘studio’ kedua anak ars. Bahan-bahan maket tercecer berantakan di kasur atau lantai kamar sudah jadi pemandangan rutin😦
    karena saya adalah anak kost, sangat menyusahkan (memalukan) ketika pintu kamar terbuka dan pemandangan kapal-pecah-jungkir-balik itu terlihat anak-anak kost lain. Tapi saya tidak suka bekerja di kamar tertutup yang pengap dan gelap, jadi terpaksa.. pintu selalu terbuka..
    Untungnya, teman-teman di kosan tak pernah berkomentar buruk soal kamar saya yang berantakan(?), setidaknya di depan saya…

  2. December 25, 2010 at 9:32 pm

    Haha, saya termasuk yang meninggalkan maket di studio.😀

    Di rumah, saya juga seperti itu kok. Lem uhu saya bahkan pernah menempel di HP. Tidak cuma itu, saya juga pernah tidak sengaja menginjak lem uhu hingga isinya hampir semua bleber di lantai.😀 Kalau habis bikin maket, kemudian ke kampus, pasti saya hampir tidak pernah membereskannya terlebih dahulu, langsung berangkat begitu saja, padahal sampah-sampah sisa bahan maket masih berserakan. Nggak cuma di kamar, tetapi juga di ruang tengah lantai 2, karena saya sering membuat maket di sana karena kamar saya cukup sempit. Ya, biasanya ibu saya yang membereskannya karena gerah melihat sampah yang saya tinggalkan.😀 Sampai sekarang pun saya masih bekerja seperti itu, menjadi kurang terorganisir sehingga kadang saya jadi pusing sendiri, di samping memang workspace sangat terbatas.

    Oh iya, kalau maket yang sudah jadi saya simpan di gudang, berhubung gudang masih ada ruang yang kosong. Saya bingung harus menaruhnya di mana selain di gudang, hahaha.😀

  3. December 25, 2010 at 10:00 pm

    hal serupa juga terjadi di rumah saya. tapi hal yang demikian tidak akan berlangsung lama, biasanya hanya bertahan 3-4hari walaupun maket belum selesai. kamar harus bersih, itu kuncinya, karena saya sudah merasakan sendiri akibat dari kamar yang terlalu lama tidak dibersihkan, bersiaplah begadang ditemani nyamuk yang sangat aktif menghisap darah saya. kalau maket-maket selalu saya bawa pulang dan alhasil sudut kamar saya dipenuhi maket-maket bersejarah dari PA 1. satu hal yang menjadi pelajaran dari kamar yang sangat berantakan hasil pertempuran dengan maket adalah, bila ada satu barang yang hilang atau terselip,misalnya lem, waktu pencarian lem tersebut akan lama dan akan menghabiskan waktu, artinya waktu untuk mengerjakan maket pun menjadi berkurang karena pencarian si lem hilang, padahal tanpa lem, si arsitek wannabe bagaikan kuli bangunan yang tidak punya semen untuk menempelkan batu bata.

  4. December 25, 2010 at 10:43 pm

    kita memerlukan ruang khusus untuk mengerjakan tugas kita yang terpisah dari ruang tidur kita.
    Alasan pertama seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, kenyamanan ruang tidur sebagai tempat istirahat akan terganggu dengan barang-barang yang berserakan dimana-mana. Kemudian ketika kita ingin istirahat juga pasti akan teringat oleh tugas2 yang ada.
    Dengan pemisahan antara ruang kerja dan ruang tidur akan memudahkan kita dalam mengerjakan tugas (karena tidak terganggu dengan hal2 lainnya) dan kebutuhan kita akan ruang istirahat yang kondusif pun tetap terjaga

    • December 25, 2010 at 11:48 pm

      tapi pada kenyataannya, kadang niat tidur kita hanya untuk istirahat sebentar dan bangun lagi untuk melanjutkan mengerjakan tugas, kalau ruang tidur terpisah dari ruang mengerjakan tugas. bisa-bisa kita yang jadi “kebablasan” dan tugas tak terjamah. mungkin paling tidak kita memberikan space untuk kita tidur. jadi, kalau sampai benar-benar memisahkan tugas, rasanya kurang efektif. tapi hal ini sebenarnya kembali ke individu masing-masing.

  5. December 26, 2010 at 12:23 am

    kalau ruang tidur dan ruang ‘nugas’ dipisah, biasanya jadi pada tidur diruang nugas. hehe atau itu cuma saya aja? however, mungkin (mungkin digaris bawahi,bold,danitalic) ada ‘sumber’ dari fenomena ini, salah satunya; waktu studio yang kurang efektif dipakai mahasiswa dan Studio yang kurang nyaman ditempati (not to mention,kita juga diusir pada jam tertentu). Setahu saya (di film-film, sih), para mahasiswa arsitektur bisa begadang semalaman bahkan bermalam malam di dalam studio mengerjakan maket dan tugas-tugasnya, hingga pada saat sampai di rumah, tinggal mengerjakan tugas yang lain (cad,dll)+tidak ribet lagi membawa maket dari rumah (apalagi kalau rumahnya jauh,maketnya besar). coba nonton film kekkon dekinai otoko, oleh abe hiroshi atau proposal daisakusen episode” terakhir, begitu banyak waktu yang didedikasikan untuk mengerjakan tugas di kampus. I think that’s how architecture students should be.jadi, hakikatnya, studio lah yang berperan menjadi ruang terjadinya chaos itu, studio itu pula yang harus dihidupkan.walaupun akhirnya, mahasiswa yang memilih untuk mengerjakan di rumah, atau di kampus. again, just saying.


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: