26
Dec
10

“anak mall”

Pusat perbelanjaan atau mall sekarang ini sedang  marak dibangun di Jakarta.  Banyak orang yang menentang pembangunan mall yang berarti menutup daerah resapan air.  Orang-orang yang menentang tersebut berpendapat bahwa lebih baik dibuat sebuah taman kota daripada sebuah gedung pusat perbelanjaan (lagi). saya sesungguhnya termasuk dari orang-orang yang pada awalnya berpendapat demikian.  Mall sudah banyak terdapat di jakarta, untuk apa dibangun lagi?  Namun, setelah saya berpikir lebih dalam, pendapat ini dapat dibilang terlalu naif bagi masyarakat Jakarta.

Mengapa saya berpendapat demikian? saya melihat fenomena yang cukup aneh yang terjadi hampir di seluruh Indonesia, Jakarta khususnya.  Fenomena ini adalah ramai (atau sangat sangat sangat ramai)nya pusat perbelanjaan di Jakarta pada saat menjelang hari raya, akhir tahun, atau event-event lain.  Pusat perbelanjaan dimanapun dipenuhi orang-orang yang sibuk memborong barang-barang hasil ‘buruannya.  Ya, semua pusat perbelanjaan DIMANAPUN.  hal ini berarti masyarakat Jakarta akan terus datang ke suatu mall yang, katakan baru dibuka dan padahal mereka awalnya mengatakan bahwa mereka tidak setuju dibangun mall (lagi) di daerah tersebut, namun mereka pada akhirnya tetap datang dan berbelanja (yang berlebihan dan sesungguhnya tidak diperlukan)  di situ. Mall manapun akan terlihat ramai di event-event tertentu.

Hal ini tidak lepas dari sifat masyarakat Jakarta yang memang cenderung konsumtif.  Namun, apakah mereka pada dasarnya memang segitu konsumtifnya?  Ini berhubungan pula dengan pihak mallnya sendiri.  Ketika telah dibangun mall di suatu tempat, maka secara tidak langsung akan mengubah pola hidup orang di sekitarnya.  Contohnya, orang yang rumahnya berada di daerah tersebut akan datang ke mall, padahal tadinya ia jarang belanja karena alasan jarak yang jauh.  Orang yang sudah biasa datang ke mall (biasanya) akan ‘ketagihan’ dan terus menerus datang ke sana.

Saya sendiri mengakui bahwa saya termasuk dari orang yang ‘ketagihan’ datang ke mall.  di luar saya mengakui bahwa “aah bosen ke mall terus” tapi ketika jadwal kuliah sedang padat, saya akan berkata “aah bosen nih pengen jalan-jalan ke mall” atau “aduh kangen nih ke mall”.  itu bukti bahwa saya menjadi salahsatu ‘korban mall’.  dan pastinya hal ini juga terjadi pada hampir semua masyarakat Jakarta. Mall sudah menjadi seperti sebuah kebutuhan.

Lalu, ketika melihat kenyataan yang ada, mulai muncul pertanyaan “dengan kehidupan masyarakat Jakarta yang seperti ini, pantaskah dibuat sebuah lahan hijau sebagai pengganti mall?”  apakah nantinya akan bermanfaat bagi sebagian masyarakat? atau hanya akan menjadi sebuah tempat pusat kriminal-vandalisme, transaksi terlarang, perkumpulan kelompok tertentu ,dll- apakah masyarakat yang sudah terbiasa refreshing dengan pergi ke mall akan mau “berpindah haluan” ke taman kota?  ini semua adalah karena kebiasaan pergi ke mall yang sudah tertanam sejak dulu, maka untuk mengubahnya akan sulit, karena tergantung pada diri masing-masing..

membangun taman kota instead of mall tidaklah salah. ini semua sesungguhnya bergantung pada societynya. pertanyaannya: maukah kita mengubah kebiasaan menjadi lebih baik, sehat, hemat, dan tidak merusak lingkungan?  jangan hanya memprotes pembangunan mall, lalu ketika mall sudah dibangun kita pergi kesana sesering mungkin sedangkan pergi ke taman kota sendiri tidak pernah..


1 Response to ““anak mall””


  1. December 27, 2010 at 7:13 pm

    Kalau alasan saya kenapa memilih mal sebagai tempat untuk ‘jalan-jalan’ adalah karena tempatnya yang ada AC sehingga menjadi tempat yang nyaman dan aman untuk sekedar jalan-jalan. Deputi Bidang Tata Ruang dan Lingkungan Hidup Pemprov DKI Jakarta, Ahmad Haryadi, mengungkapkan, Jakarta sekarang menjadi kota besar dengan tingkat polusi udara terburuk ketiga di dunia setelah Mexico City (Meksiko) dan Bangkok (Thailand). Sehingga taman terbuka di jakarta, menurut saya kurang cocok. Menurut saya yang seharusnya dilakukan adalah membangun mal yang ada tamannya. Hal ini juga dikarenakan keseharian tiap orang yang berbeda. Ada yang sehari-harinya berada di ruang AC sehingga menginginkan tempat yang hijau, terbuka untuk berkota. Ada pula yang sehari-harinya bekerja di luar, sehingga menginkan tempat yang dingin dan ber-AC untuk berkota. Dengan membuat mal yang ada tamannya kita juga bisa mengetahui sebenarnya sebagian besar warga Jakarta sehari-harinya berada di tempat yang seperti apa dan mereka juga dapat membandingkan tempat mana sebenarnya yang lebih nyaman dan aman- berada di ruang tertutup berAC atau di ruang terbuka dengan AC alami?


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: