26
Dec
10

Pakaian dan perilaku dalam arsitektur

Penampilan telah menjadi satu perhatian bagi manusia baik pria maupun wanita. Bahkan sejak zaman nirleka manusia telah menghiasi dirinya dengan cat warna warni. Pada zaman ini, pakaian dan atribut menghias diri tidak hanya terbatas dengan gender wanita. Terbukti dengan makin banyaknya toko-toko pakaian khusus pria. Banyak pertimbangan dalam berpakaian, misalnya kebiasaan, lingkungan, tempat yang dituju (jika berpergian) dan event. Berikut yang saya perhatikan adalah cara berpakaian keluarga saya ketika ingin berpergian ke gereja di Gelora Bung Karno pada malam natal tahun ini, 24 desember 2010.

– Ibu saya menggunakan sepatu hak tinggi, celana panjang hitam, dan kemeja, serta dilengkapi dengan handbag. Wajah di-make up, rambut dikuncir.

– Adik saya yang ketiga menggunakan kaos berkerah, celana pendek dan sendal

– Adik saya yang pertama menggunakan sepatu canvas, celana jeans, kaos dan jaket.

– Adik saya yang kedua menggunakan sepatu canvas, celana jeans, dan kemeja

– Saya  menggunakan sendal jepit, kaos, lengan panjang yang digulung, dan celana jeans.

Begitulah yang saya dan keluarga gunakan ketika berpergian ke gereja pada malam natal tahun ini, berbeda dengan orang-orang biasanya yang tampil rapi menggunakan kemeja, sepatu formal bahkan dasi atau jas. Mengapa  perilaku saya dan keluarga berbeda? Untuk mencari jawabannya saya tanya mereka kenapa mereka berpakaian demikian, lalu dicocokkan dengan kebiasaan dan lingkungan mereka.

– Ibu saya berpakaian seperti itu karena memang kepribadiannya yang paling taat terhadap kepercayaannya, saya menilai bahwa dia ingin tampil rapi ketika menghadap Tuhan. Dan dia pun mengiyakan bahwa bergereja sebaiknya menggunakan kemeja dan tidak menggunakan sendal jepit. Meskipun tujuannya adalah area terbuka seperti Gelora Bung Karno

– Adik saya yang ketiga berpakaian seperti itu karena dia masih kecil, belum memiliki tanggung jawab untuk mentaati norma berpakaian untuk event tertentu.

– Adik saya yang pertama berpakaian seperti itu karena sifatnya yang santai. Tidak ada perbedaan ketika dia jalan ke mall, kurang lebih gayanya seperti itu. Tetapi yang saya perhatikan adalah mengapa dia menggunakan jaket, sedangkan Gelora Bung Karno akan panas dan sesak karena dipenuhi ribuan jemaat. Mungkin jaket hanya sebagai unsur estetika semata?

– Adik saya yang kedua berpakaian seperti itu karena memang kepribadiannya yang memperhatikan penampilan. Dia bercermin paling lama dibandingkan keempat saudaranya. Tapi apakah berpakaian rapih itu memang tuntutan lingkungannya? Karena memang dia kuliah di jurusan hukum dan mewajibkan setiap mahasiswa untuk berkemeja, dan bersepatu.

– Sedangkan saya berpakaian seperti itu karena sikap saya yang kaku dan tidak mau menarik perhatian bapak yang seorang muslim. Apalagi lingkungan saya yang berbeda dengan saudara saya yang lain. Berbeda dengan mereka, kampus saya (khususnya departemen arsitektur) tidak mewajibkan para mahasiswa untuk berkemeja dan bersepatu. Akibatnya saya terbiasa menggunakan sendal jepit kemanapun saya pergi. Bahkan sempat saat presentasi ke dosen sya menggunakan sendal jepit.

Jadi ketika dalam berpakaian, tempat tujuan dan event belum tentu menjadi pertimbangan yang utama bagi seseorang


0 Responses to “Pakaian dan perilaku dalam arsitektur”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: