26
Dec
10

Unaka Pahappa?

Unaka Pahappa?

Sang pemilik rumah bertanya kepada saya, hal yang selalu ditanyakan pada saat bertamu ke rumah orang. Saya pun bertanya kepada Umbu Langu, apa maksudnya.

“Unaka pahappa itu bahasa Sumba, artinya mau makan sirih pinang?” jawabnya sembari mengambil sejumlah sirih.

Saya pun mengambil beberapa sirih dan pinang dari piring yang disodorkan tuan rumah. Awalnya saya bingung, namun Umbu Langu lagi-lagi menjelaskan cara memakannya. “yang dimakan pertama, adalah sirihnya” sambil menunjukkan buah sirih yang telah dipotong dan dijemur hingga kering. “Setelah itu, makan pinangnya, sambil dioleskan ke kapur. Ingat, jangan terlalu banyak kapurnya..nanti lidahmu melepuh.” lanjutnya dalam logat Sumba yang kental.

Photobucket

Foto 1: sirih pinang didalam wadah suguhan

Memakan sirih pinang merupakan budaya yang telah berakar pada kehidupan masyarakat Sumba. Tidak pernah sekalipun mereka terpisah dari sirih pinang. Bahkan mereka memiliki tas kecil yang selalu dibawa kemana-mana, khusus berisikan sirih pinang dan bubuk kapur. Setiap orang Sumba yang saya temui, selalu dalam keadaan mengunyah. Bahkan saat bertamu ke rumah orang, sajian pertama yang dikeluarkan adalah sirih pinang, baru kemudian kopi Sumba.

Kunyahan pertama membuat saya sangat terkejut. Rasanya luar biasa pahit! Rasanya saya belum pernah merasakan sesuatu yang sepahit itu. Saya pun meludahkannya dengan spontanitas. “Pahit sekali ini pak?” saya berkata pada tuan rumah. Lalu dia menjawab sambil tertawa, “hahaha ya nanti kau pasti akan terbiasa”. Memang saya harus dapat membiasakan diri, karena selama saya di Sumba, sepertinya saya akan selalu memakannya.

Photobucket

Foto 2 : saya sedang memakan sirih pinang
Photobucket

Foto3: Teman-teman yang terkejut dengan rasa sirih pinang

Dalam memakan sirih pinang, kita harus sering meludah. Ini dikarenakan saat memakan sirih pinang tersebut, air liur didalam mulut kita bertambah, sementara karena sudah tercampur kapur, tidak baik untuk ditelan. Maka pemandangan orang Sumba yang suka meludah disana sini menjadi hal yang umum.

Meludah atau membuang lendir menjadi hal yang biasa mereka lakukan dimana saja. Mereka tidak perlu menggunakan tissue atau bergegas ke kamar mandi untuk membuangnya.
Photobucket

Foto4: Bercak air liur kemerahan seperti ini tidak asing lagi di tanah Sumba

Photobucket

Foto5: Nenek-nenek yang sedang menikmati sirih, duduk di teras rumah menikmati pemandangan

Kebiasaan meludah yang tidak bisa terpisahkan ini ternyata berpengaruh pada interior rumah tradisionalnya.  Pada rumah yang menjadi basecamp kami, terdapat lubang-lubang di lantai yang tersebar secara merata di dekat pertemuan kolom dengan lantai. Pada sisi lubang ini terdapat noda merah yang merupakan tanda bekas sirih pinang. Dari hal ini kita dapat mengetahui bahwa penghuni rumahpun biasa mengunyah sirih pinang dan meludahkannya melalui lubang ini ke tanah dibawahnya.

Photobucket

Foto6: Pada rumah yang jauh lebih tradisional, tidak perlu dibuat lubang khusus. Penghuni dapat meludah dari celah lantai bambu.

Meludah, mungkin menjadi hal yang dianggap jorok bagi masyarakat kota seperti Jakarta. Bahkan pada beberapa tempat seperti Singapore, membuang ludah dikenakan denda. Akan tetapi lain halnya dengan apa yang terjadi di Sumba. Membuang ludah, secara tidak mereka sadari, telah menjadi kebiasaan masyarakat sehari-hari. Sesuatu yang kita anggap kotor dan jorok, tidak berlaku di Sumba ini. Suatu kebiasaan sehari-hari yang menjadi unsur budaya unik yang tertanam dalam di hati masyarakatnya masing masing.

Oh iya, pembaca sekalian,

Unaka Pahappa?


2 Responses to “Unaka Pahappa?”


  1. December 26, 2010 at 10:35 pm

    ya, saya juga terkejut melihat bercak-bercak merah yang ada di rumput ketika di sumba. Bedanya, ludah yang kita buang ketika makan sirih pinang bersifat antiseptik, alias hygene, karena ada kandungan kapur dan pinang. (seperti obat merah). Namun jika meludah sembarangan, terlebih lendir, terkandung banyak bakteri, bisa berbau, juga tidak sedap dipandang. Sirih pinang, yang juga pertanda bahwa sudah diterima oleh si pemilik rumah, merupakan bagian dari budaya orang sumba. Sangat menarik memang.

    • 2 mirzadelya
      December 27, 2010 at 12:45 am

      saya lebih terkejut lagi dengan rasanya. memang pada awalnya saya tidak bisa membayangkan bagaimana bisa masyarakat Sumba ‘doyan’ memakan sirih pinang yang rasanya sangat pahit ini. tetapi kenyataannya semakin kita memakannya semakin kita terbiasa dan tidak lagi merasakan pahitnya.

      Itulah salah satu keunikan Sumba. Budaya meludahnya yang sangat umum terlihat, namun tidak terdapat persepsi negatif didalamnya. Jika kita melihat kejadian ini di tempat lain seperti Jakarta, mungkin persepsi kita akan sangat jauh berbeda.


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: