30
Dec
10

arsitektur berwacana roh

Kalimat ini terkadang terkesan provokatif. Bisa menyerang dalam persepsi negatif atau sebaliknya mengungkap hal yang selama ini terekam dalam pikiran kita namun tidak terungkap. Memperbahasakan ruh identik dengan Tuhan yang berarti kita siap dalam sebuah kompleksitas yang sungguh sangat tidak terbatas dalam pengertian apapun. Dalam hal ini, saya mencoba untuk membingkai sejauh mana arsitektur bisa terdefinisikan dalam batas etimologi roh.Terlepas dari hal itu, tidakkah kita pernah terbesit dalam pikiran kita bahwa pada dasarnya rangkaian proses penciptaan suatu mahluk ke dunia ini ketika disandingkan, memiliki kemiripan yang berarti dalam hal proses penciptaan keterbangunan desain oleh arsitek. Terkadang keyakinan saya akan penciptaan mahluk Tuhan yang dilengkapi ruh masing-masing menjadikan saya tergelitik untuk menganalogikan dalam proses arsitektur. Arsitektur disini adalah ketika seorang arsitek yang mendesain sebuah bangunan, dengan pasti memiliki sebuah hasrat untuk memberikan roh pada apa yang ia (arsitek) desain sehingga bangunan tersebut dapat terus bertahan dengan cahaya dari roh itu. (Roh) dalam hal ini adalah jiwa yang ada di bangunan itu, ketika dimana orang pertama kali  melihat dan terkesan pada pembawaan dari bangunan itu. Sama halnya dengan manusia yang memiliki roh, dimana manusia akan terus menjaga dan merawat agar cahaya dari ruh di dalam dirinya tidak pernah padam. Dalam sebuah teori arsitektur dikenal istilah “genius loci” atau sebuah spirit of place dimana “Cahaya mengungkapkan genius loci dari suatu tempat.”. Dalam agama Romawi klasik,  Genius loci adalah roh pelindung dari suatu tempat. Itu sering digambarkan dalam ikonografi keagamaan sebagai tokoh yang memegang tumpah ruah , Patera dan  atau ular. Seorang tokoh Alexander Pope menjadikan Genius Loci sebagai suatu prinsip penting dalam taman dan lanskap arsitektur. Berdasarkan pada fakta yang ada, Genius loci  adalah pelaku utama dari Neo-Rasionalisme atau New Rasionalisme. Dipelopori oleh arsitek Italia Aldo Rossi , Neo-Rasionalisme dikembangkan dan  dievaluasi kembali dalam karya Giuseppe Terragni , lalu memperoleh momentum melalui karya Giorgio Grassi. Hal itulah yang kemudian ditandai  dalam bentuk-bentuk vernakular elemental dengan tidak ada detail kosmetik.Saat ini, dalam konteks teori arsitektur modern, Genius loci memiliki implikasi yang mendalam untuk tempat pembuatan yang jatuh dalam cabang filosofis  ‘fenomenologi’. Sebuah contoh yang menurut saya sangat sarat dengan Genius Loci adalah Chinese Classical Scholar Garden, dimana tiap sudut lay out nya kental dengan filosofi Cina dan diperhitungkan dengan sangat matang. Dari sini, saya mengasumsikan bahwa tiap sketsa dalam desain yang kita buat maka secara tidak langsung kita telah memberikan roh kepada desain itu dan pertanyaannya sekarang adalah bagaimana membuat roh dalam desain itu tetap ada hingga pada keterbangunannya. Hal itulah yang mendasari ketertarikan saya ingin mempelajari lebih dalam akan arsitektur dan roh di dalamnya. Bagaimana dengan Anda ?


0 Responses to “arsitektur berwacana roh”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: