30
Dec
10

Communal Project in Kupo, 2010

“Ternyata mendefinisikan ruang itu susah dalam dunia nyata” Sekilas hal ini yang terbesit dalam pikiran saya ketika ikut terlibat dalam proyek pembangunan pusat informasi untuk sebuah komunitas masyarakat di sebuah pedesaan beberapa waktu lalu. Mengapa demikian ? Karena ternyata, ada banyak hal yang masih harus dipelajari dalam dunia nyata yang sama sekali tidak saya dapatkan di bangku kuliah, sebut saja studio bagi anak arsitek. Apalagi kita dihadapkan pada skenario yang semakin kompleks prosesnya, mulai dari mengenal klien (masyarakat), mengutarakan maksud, survey lingkungan, menemukan isu, mendesain, menemukan material sendiri hingga membangun bersama masyarakat. Sulitnya adalah bahwa kita harus berhadapan dengan masyarakat yang benar-benar awam akan dunia desain dan kearsitekturan. Oleh karena itu, kita pun harus belajar bagaimana menyetarakan level komunikasi kepada mereka agar dapat dipahami dan diterima, belum lagi kalau menyangkut perbedaan bahasa diantara kita. Sehingga sebaiknya harus ada penerjemah karena khawatir akan terjadi beda persepsi kepada masyarakat. Namun, hal itulah yang kemudian menjadikan proyek ini sebagai sebuah proyek yang menantang, dalam artian berbeda dengan kasus-kasus seperti biasanya. Terlebih lagi, saat mencari material yang akan digunakan untuk membangun, saya harus ikut bersama warga menyusuri jurang-jurang dan turun ke kali  yang berada di belakang rumah warga untuk mengambil bambu. Sungguh usaha dan semangat yang keras bagi kami untuk merealisasikan ide proyek ini.  Tetapi, disitulah seni dan proses belajar yang saya dapatkan, bisa mengetahui bagaimana proses komunikasi kepada sebuah komunitas masyarakat yang terdiri dari berbagai kalangan, semisal tingkat RW, RT, tokoh masyrakat, pemuka agama, dan karang taruna desa. Lalu yang tak kalah unik dan sulit adalah bagaimana belajar menempatkan ruang ide kita hadir dalam ruang mereka. Karena kita tidak bisa memaksakan ide dan intervensi desain yang kita punya  langsung diterapkan pada wilayah mereka. Persoalan tempat pun menjadi salah satu kendala yang cukup sulit waktu itu karena harus mencari lokasi yang sesuai dengan isu dan desain yang kita gagas. Namun, setelah kami buat desainnya ternyata kondisi di lapangan berbeda. Ada hal-hal lain yang tidak dapat menjadi jangkauan kami, seperti warga yang tidak bersedia halaman rumahnya menjadi lokasi desain padahal disitulah spot isu yang kami temukan berdasarkan data dan analisis survey. Diskusi pun menjadi andalan forum kami dengan bahasa super sederhana agar maksud dan tujuan kita tersampaikan. Dan akhirnya, dengan bantuan penerjemah/perantara ke masyarakat diputuskanlah lokasi akan dibangunnya desain ini, yaitu di depan rumah Pak RT. Waktu membangun pun dimulai kurang lebih sekitar seminggu bersama warga. Dan sekarang proyek ini sedang aktif dijalankan oleh karang taruna desa Kupo yang diisi dengan berbagai program keterampilan desa. Itulah sekelumit hal unik dan pengalaman bagaimana proses desain dan ruang yang tidak saya dapatkan di studio perancangan. Bagaimana dengan Anda ?


0 Responses to “Communal Project in Kupo, 2010”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: