19
Oct
11

Simbiosis ‘arsitektur dan keseharian’

Aksitektur dan keseharian. Secara sederhana—mungkin lebih dari sekedar sederhana—saya memahami bahwa arsitektur muncul sebagai reaksi terhadap tingkah laku sekelompok manusia, mungkin saja perilaku ini sebagai wujud kesenangan atau bahkan sebagai wujud kebutuhan. Sementara itu, manusia hidup di dalam sebuah lingkung alam—yang nanti agaknya akan menjadi lingkung bangun akibat adanya intervensi dari si manusia. Alam dan manusia berinteraksi secara langsung. Lingkungan menyebabkan manusia menciptakan sebuah atau beberapa pola keseharian. Pola keseharian inilah yang nantinya akan berdampak ke arsitektur.

Berbicara mengenai alam, saya ingin sedikit bernostalgia tentang alam sebuah Desa kecil yang berbatasan langsung dengan negara tetangga RDTL (Republik Demokrat Timor Leste) dimana saya bertempat tinggal selama 34 hari di sana selama K2N (Kuliah Kerja Nyata).

Desa ini memiliki alam yang begitu indah. Alamnya berupa perbukitan yang memiliki hembusan angin sepanjang hari dengan udara dingin yang begitu menusuk. Di sana, kita akan melihat bagaimana penduduk sekitar selalu menggunakan Kain Tais atapun Beti—ini adalah kain adat daerah setempat yang dibuat dengan cara ditenun, Tais untuk perempuan dan Beti untuk laki-laki—untuk menlindungi tubuh mereka dari rasa dingin yang menusuk.

Penduduk sekitar juga selalu mengkonsumsi sirih pinang dengan addictednya layaknya makanan pokok bagi mereka. Memang kebiasaan menyirih ini telah dianggap sebagai perilaku adat bagi warga Desa Haumeni Ana, bahkan seluruh negeri di bagian Timur Indonesia (sebagian besar) memiliki adat yang sama. Akan tetapi di balik itu semua, menyirih juga merupakan sebuah perilaku masyarakat dimana mereka mencoba untuk mereduksi rasa dingin yang selalu menyerang, karena sirih pinang berkhasiat menghangatan tubuh.

Demikian beberapa cara yang dilakukan masyarakat di sana untuk mengurangi rasa dingin. Dari hal inilah kemudian muncul peranan arsitektur dalam memebuhi kebutuhan manusia. Manusia menciptakan sebuah karya arsitektur yang mampu memberikan kenyamanan bagi mereka. Hal ini muncul sebagai sebuah bangunan yang disebut ‘oem bubu’ atau rumah bulat.

Rumah bulat ini idealnya berfungsi sebagai lumbung karena memiliki suhu yang cukup hangat dibanding suhu di luar. Selain itu, rumah bulat juga difungsikan menjadi dapur tempat warga setempat memasak. Jadi, setiap keluarga akan memiliki satu rumah sebagai tempat tinggal dan satu rumah bulat sebagai lumbung sekaligus dapur. Di satu sisi, pemisahan dapur dari rumah merupakan pilihan yang cukup baik untuk kesehatan penghuninya. Akan tetapi jika melihat kenyataan yang ada, penduduk di sana lebih betah untuk berlama-lama di dalam oem bubu dibanding di dalam rumah karena oem bubu bisa menjaga suhu di dalamnya.

Oem bubu memiliki atap yang terbuat dari ilalang yang dikeringkan dan kemudian diikat kuat dengan sedemikian rupa sehingga mampu menjaga ruang di dalamnya tetap hangat—dan bebas dari tetesan air hujan. Hal ini adalah salah satu bentuk pengakuan warga terhadap peranan arsitektur dalam memenuhi kebutuhan hidup mereka. Kebutuhan yang memaksa mereka untuk menciptakan sebuah karya arsitektur—secara sadar atau tidak sadar, bahkan mungkin mereka tidak pernah tahu apa itu arsitektur—yang pada akhirnya telah menjadi sebuah ciri khas yang mengakar tunggang.

Oem bubu tentu saja dicampuri oleh nilai-nilai budaya dan sejarah masyarakatnya. Bentuk atap yang kerucut tinggi dengan pintu yang begitu rendah menggambarkan sifat orang timur yang konon katanya bersifat rendah hati. Siapapun dia, apapun pangkatnya, seberapapun tinggi tubuhnya, namun jika di Tanah Timor, semuanya sama. Hal ini dianalogikan melalui cara orang memasuki rumah bulat dengan menunduk (sejadi-jadinya :D).

Pada akhirnya, rumah bulat adalah satu-satunya pilihan warga untuk berkumpul, baik berkumpul keluarga ataupun dengan teman dan cs-an. Bahkan tidak jarang saya menemukan papa angkat saya tidur di dalam rumah bulat pada saat-saat cuaca yang makin memburuk. Memang suatu pilihan yang baik untuk menghangatkan tubuh di dalam rumah bulat dengan bara tungku yang menyala dan meredup secara bergantian. Namun juga sangat disayangkan bahwa asap yang terperangkap terlalu lama di dalam ruangan akan membuat mata perih dan lama kelamaan berpotensi menyebabkan ISPA. Fyi, tingkat gangguan saluran pernapasan di desa ini cukup tinggi. Saya beranggapan bahwa frekuensi penggunaan oem bubu yang terlalu tinggi menjadi salah satu penyebab utama penderita ISPA di desa ini. Hal ini disebabkan karena oem bubu didisain dengan sirkulasi udara yang kurang. Oem bubu tidak memiliki bukaan sama sekali (selain pintu masuk), sementara itu warga memasak dengan tungku sehingga menghasilkan asap yang cukup banyak. Memang, udara mengalir melalui celah-celah helai ilalang yang menjadi penutup oem bubu, namun tentu saja pergerakannya sangat pelan dan perlahan mengingat ketebalan dan kepadatan ikatan ilalang tersebut. kurangnya sirkulasi udara dari segi bukaan bukanlah sebuah kesalahan disain sebab oem bubu ini dirancang dengan fungsi sebagai lumbung dan dapur sehingga memang membutuhkan ruang yang terisolasi dari angin agar kegiatan memasak tidak tertanggu.

Banyak hal yang bisa diartikan sebagai kebiasaan dan kemudian dikaitkan dengan dunia arsitektur. Dan cerita di atas adalah cara saya menghubungkan keduanya.

Demikian saya mencoba menggambarkan relasi antara alam, manusia, keseharian, dan arsitektur. Mereka berhubungan satu sama lain dan saling mempengaruihi secara timbal balik. Hubungannya mungkin saja saling menguntungkan sebagaimana yang disebut simbiosis mutualisme seperti bagaimana alam memaksa manusia menciptakan rumah bulat yang kemudian menjadi ciri khas manusianya, atau malah sebaliknya rumah bulat menggoda manusia untuk memiliki kebiasaan yang berakibat buruk bagi manusianya–ISPA. Tetap dibutuhkan sebuah kontrol untuk mengatur ke arah mana simbiosis itu akan berjalan.


4 Responses to “Simbiosis ‘arsitektur dan keseharian’”


  1. October 31, 2011 at 1:29 am

    Sepertinya, Oem bubu sebagai lumbung padi dan dapur yang ‘nyaman’ ditempati untuk menghangatkan diri dan berlama-lama berkumpul disana, bisa ‘melupakan’ fungsi rumah sebagai hunian tempat tinggal yang ‘aman’. Dari Oem bubu, saya melihat bagaimana ‘kenyamanan’ penghuni untuk berdiam dan berlama-lama disana lebih ia perhatikan daripada ‘keamanan’ dirinya sendiri (keamanan dr resiko sakit ISPA,dll)-CMIIW. nah saya mau tahu memang sebenarnya bagaimana kondisi rumah tinggalnya?bagaimana cara mereka menghangatkan diri di huniannya sendiri, adakah perilaku khusus atau intervensi dalam arsitektur?

  2. October 31, 2011 at 2:02 pm

    CMIIW? :p gaya bener.
    em.sebenarnya berdiam di oem bubu bukan satu-satunya cara masyarakat sekitar ‘berdamai’ dengan lingkungan. IMHO, dari segi arsitektur rumah mereka terlihat tidak ada perlakukan khusus, sebab sebagian besar rumah penduduk dindingnya masih berupa susunan pelepah-pelepah pohon yang sebenarnya terdapat banyak celah di antaranya. jadi jika tidur di dalam rumah, kita akan merasakan angin berhembus dari luar. hanya saja, mereka menciptakan yang namanya tais dan beti a.k.a kain tenun dengan bahan dan proses yang mampu menghangatkan sehingga dapat dijadikan selimut ketika tidur. selain itu, menyirih juga salah satu cara menghangatkan tubuh–seperti sudah dituliskan di atas.IMAS?-is my answer satisfactory?#ngarang😀

  3. November 2, 2011 at 7:01 pm

    😀 terimakasih feni atas penjelasannya. Saya juga baca kalau Rumah bulat adalah rumah adat suku Amanatun di kabupaten Timor Tengah Selatan, namun karena ventilasinya yang kurang (seperti yang veni ceritakan) dan meningkatnya penderita ISPA di kawasan ini, pemerintah memerintahkan suku Amanatun untuk membuat satu rumah kotak dengan ventilasi (http://randurini.multiply.com/photos/album/66/kami_dan_rumah_bulat)
    Jadi pada awalnya Oem Bubu benar-benar dijadikan tempat tinggal yaitu sebagai rumah adat (dimana arsitekturnya telah terikat dengan kenyamanan dan kebutuhan ‘kehangatan’ masyarakat), namun mereka harus membuat rumah tinggal yang lebih ‘aman’ karena alasan tersebut diatas.. tapi ternyata apa mau dikata menurut masyarakat setempat posisi Oem Bubu yang ‘menghangatkan’ tak bisa tergantikan🙂

    • November 2, 2011 at 10:24 pm

      wah lucu sekali bentuk rumah bulatnya!:D. tapi dimana tambahan ventilasinya?tidak terlihat. oh ya, perlu saya beritahu bahwa bentuk rumah ini di bagian dalam adalah kotak seperti yang terlihat di link yang gina berikan di atas-bukan bulat sebagaimana terlihat dari luar. saya jadi berpikiran mungkin saja rumah bulat di Timor Tengah Utara (TTU) ini adalah salah satu bentuk penyesuaian sebagaimana TTS?atau hanya sekedar berbeda pemahaman?oh ya, satu lagi. sebenarnya oem bubu ini tidak rumah adat. paling tidak secara nasional tidak diakui sebagai rumah adat, sebab yang menjadi rumah adat mereka adalah ‘lopo’.dengan bentuk yang hampir sama, namun lebih tinggi dan penutupnya hanya berupa atap saja tanpa apa dinding sebagaimana rumah bulat. demikian pemerintah daerah mengoreksi kami-kami juga menganggap oem bubu adalah rumah adat mereka.


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: