25
Oct
11

To Develop The School Library as ‘The Heart of School’

“….”
Perpustakaan sebagai jantung sekolah. Ketika survey mata kuliah everyday and architecture ke SDN 3 Tanah Baru dan melihat kondisi perpustakaan di sekolah tersebut, saya tidak melihat sesuatu yang aneh. Namun rekan-rekan saya yang lain berkomentar perpustakaan itu sangat menyedihkan, seharusnya lebih diperhatikan, dan lain sebagainya. Mulailah terjadi perdebatan sengit di dalam pikiran saya.

Saya teringat masa-masa saya di sekolah dasar dulu, saya sangat suka bermain di halaman sekolah, bermain kelereng, bermain ‘cak-bur’, bermain tali, dan permainan yang menguras tenaga dan keringat lainnya. Sekarang, saya kesulitan mengingat bagaimana dulu interaksi saya dengan perpustakaan, bahkan saya tidak ingat secara pasti dimana posisi perpustakaan saya, apakah memang ada perpustakaan di sekolah saya? Entahlah. Yang jelas, melihat program pemerintah kemungkinan besar sekolah saya memiliki sebuah perpustakaan hanya saja tidak diberdayagunakan.

Bertolok dari kondisi ini saya mulai berpikir, sebenarnya pentingkah perpustakaan bagi siswa sekolah dasar? Apakah bocah-bocah penuh semangat itu menginginkan sebuah perpustakaan yang semua kita sebagai orang dewasa menganggapnya begitu penting?

Oke. Jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan. Sekolah? Sekolah adalah tempat menuntut ilmu. Buku? Buku adalah sumber ilmu. Perpustakaan? Perpustakaan adalah gudang buku. Benang merahnya, sekolah membutuhkan perpustakaan. Bagaimana tidak?

Dari sudut pandang lain, sebagaimana yang kita tahu dan kita rasakan-(dulu), anak-anak sangat senang bermain. Dengan bermain ia juga belajar banyak hal, yang mungkin tidak akan didapatkannya ketika membaca buku. Di salah satu sumber, Dr. Paul Gunadi menyebutkan: dengan bermain anak dapat: melatih dan mengkoordinasikan fungsi fisiknya, belajar mengembangkan keterampilan bersosialisasi dan menaati peraturan, menghilangkan stres dengan cara sehat, melatih ketangkasan berpikir, mengembangkan daya kreatifitas, menerima kekalahan dengan sportif, mengembangkan daya saing, menumbuhkan kemampuan bersaing secara sehat, dan lain sebagainya.(http://www.telaga.org/audio/perlunya_manfaat_anak_bermain). Dengan alasan ini, masihkah perpustakaan menjadi sangat penting bagi adik-adik kita di sekolah dasar?

Jawabannya, tentu saja masih. Perpustakaan akan menjadi gerbang cakrawala berpikir mereka. Melihat dunia tidak hanya selebar daun kelor. De-el-el. Namun bagaimana dengan bermain? Seseorang di antara kita mungkin akan menjawab, ‘tentu saja harus diatur porsi antara bermain dengan membaca di perpustakaan’. Dengan cara seperti apa? Mari kita ingat kembali, sekolah dasar hanya memberi waktu 30mnit untuk jam istirahat. Jajan dan bermain saja atau jajan dan membaca buku saja akan melahap waktu 30menit itu dengan sangat cepat. Jadi pengaturan yang bagaimana yang seharusnya kita berikan? Apakah bermain setelah bubar sekolah? Bagaimana dengan pekerjaan rumah? Bagaimana dengan orang tua yang menuntut anak untuk tidur siang? Belum lagi kewajiban anak membantu orang tua-jika memang hal ini masih berlaku di zaman ini-.

Begitu banyak hal penting dan bermanfaat -yang kita anggap mereka butuhkan- akan kita berikan kepada mereka, namun sering kali kita lupa melihat kondisi eksisting. Mungkin, Ladder of Citizen Participation. Mungkin, inilah solusi yang tepat. Kita tentukan pada tangga mana kita akan mengambil posisi. Dan pada tangga mana kita akan memberikan intervensi. Tentu saja bukan hal yang mudah, bukan juga tidak mungkin.

Selamat menggarap community project perpustakaan SD ini teman-teman🙂


8 Responses to “To Develop The School Library as ‘The Heart of School’”


  1. October 26, 2011 at 8:21 pm

    Anak-anak memang sangat identik dengan bermain dan dari cara bermain hingga mainannya pun bisa sangat beraneka ragam. Dengan demikia, menurut saya membaca dan buku juga bisa menjadi cara bermain dan mainannya dan tentu bentuk dan isinya perlu disesuaikan dengan kemampuan anak-anak. Menurut saya, menumbuhkan minat baca dengan perpustakaan sebagai sarananya sangat diperlukan karena dengan membaca bisa melatih kreativitas, pola pikir, dan imajinasi seseorang. Oleh sebab itu, alangkah baiknya minat baca seseorang memang sudah ditanamkan sejak dini.

  2. October 26, 2011 at 9:08 pm

    proses membaca adalah proses yang sangat menyenangkan, tentu saja jika dengan cara yang menyenangkan juga. Pada buku ” Andaikan buku sepotong pizza” karya Hernowo, dijelaskan mengenai kiat-kiat agar buku menjadi makanan sehari-hari bagi kita. Poin pertama adalah memilih buku yang benar benar menarik perhatian kita, itu bisa menjadi cara awal untuk menyukai buku. Dan pada masa anak-anak inilah, segala proses itu dimulai. Ajaklah anak-anak menjadikan buku sebagai ‘cemilan’ mereka sehari-hari dengan cara yang menyenangkan yang sesuai dengan usia mereka. Dengan begitu, minat membaca bisa tumbuh sejak dini. Mari sukseskan dengan memulai community project perpustakaan SD ini agar anak anak disana bisa memiliki minat baca🙂

  3. October 27, 2011 at 12:38 am

    memang benar membaca menjadi salah satu cara yang tepat dalam menunjang perkembangan intelektual dan kreatifitas anak. bermain sambil belajar, sebuah metode yang sudah cukup sering kita dengar belakangan ini. namun sebelumnya, dirasa perlu untuk meninjau ulang metode ini. apakah metode bermain sambil belajar ini benar-benar sudah memiliki komposisi yang tepat antara membaca dan bermain.kita semua tentu sudah tau bahwa bermain dalam konteks ini adalah bermain yang meng-koordinasi-kan seluruh fungsi tubuh/fisik anak, bukan hanya bermain ‘alakadar’nya. yang saya khawatirkan adalah, ketika sebuah metode mengusung konsep ‘bermain’ ke dalam ‘membaca’ maka yang tersisa dari ‘bermain’ hanyalah sekedar tawa yang memeriahkan acara ‘membaca’.padahal esensi bermain bukan hanya sebatas itu.

  4. October 27, 2011 at 12:50 pm

    kalau menurut saya sendiri yang disebut sebagai bermain bukanlah hanya “sekedar tawa yang memeriahkan acara membaca.”
    bermain adalah proses di mana semua indera si anak berbicara. misalnya saja, otak anak “bermain” saat melakukan proses membaca tersebut. bermain di sini bisa saja berwujud imajinasi yang muncul saat anak tersebut melakukan proses membaca tadi.
    perilaku yang muncul dari proses membaca dan juga setelah imajinasi tadi bisa diwujudkan anak-anak dari kegiatan sehari-hari. pikiran anak lebih berkembang, wawasan lebih terbuka.

  5. October 29, 2011 at 8:41 pm

    Bagi seorang anak, bermain merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan keseharian mereka, akan tetapi, mengutip dari tulisan Anda: “perpustakaan akan menjadi gerbang cakrawala mereka”. Menurut saya, bermain dan membaca sama-sama penting dalam perkembangan anak-anak. Membaca buku dapat membuat imajinasi anak bertambah. Seiring imajinasi bertambah, daya kreativitas pun turut berkembang sehingga dapat tercipta permainan-permainan dari hal-hal yang sederhana. Oleh karena itu, saya beranggapan bahwa intervensi mungkin dapat dilakukan pada proses penanaman minat baca agar anak mengetahui bahwa buku dapat membuat permainan mereka semakin menarik.

  6. October 30, 2011 at 1:13 am

    eh saya tidak bermaksud berdiri pada posisi anti bermain di sini. tapi bagaimana agar bermain dan membaca itu menjadi seimbang tanpa harus mengorbankan salah satunya.

  7. November 1, 2011 at 1:17 pm

    Sebenarnya itu adalah pola pikir kita selama ini yang menganggap Perpustakaan adalah tempat yang “serius”, penuh dengan buku-buku, mengapa kita tidak mencoba menemukan esensi dari perpustakaan itu sendiri? Dimana sebenarnya esensi kegiatan didalamnya adalah mendapatkan sesuatu yang”baru”, dengan satu cara yaitu membaca. Nah, mengapa kita tidak mencoba meleburkan antara bermain dan membaca? karena proses membaca pun menurut saya mampu dilakukan sambil bermain.

    • November 1, 2011 at 1:44 pm

      oke.semua orang sepertinya tahu tentang teori membaca dan bermain dan penggabungan keduanya atau apapun itu. hanya saja diantara kita yang tahu itu belum ada yang benar-benar bisa memberikan–atau hanya saya saja yg berpikiran begitu?– tentang gambaran konkrit penggabungan yang bagaimana yang mungkin tidak akan menghilangkan ESENSI dari dua kegiatan itu.


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: