26
Oct
11

dapur dan keinginan untuk makan

Makan adalah salah satu kebutuhan pokok dari manusia. Kebutuhan itu dapat dipenuhi dengan memasak sendiri, membeli makanan cepat saji ataupun makan di tempat makan. Sebagai mahasiswa yang sehari harinya tinggal di kost an, tentu memilih tempat makan menjadi hal yang biasa dilakukan.

Tempat makan yang ada dikawasan Kukusan Teknik ini pun beragam macamnya. Dari menu makanan sampai penataan tempat makan pun beragam. Penataan tempat makan ini bisa dilihat dari posisi tempat duduk, konsep tempat makannya hingga posisi dapur. Posisi dapur yang terdapat pada tempat makan biasanya berada dibelakang, yang tertutup dari pandangan para pengunjung. Selain itu, ada pula dapur yang berada di depan atau disamping, namun para pemiliknya berusaha memberi sekat agar tidak mengganggu pendangan para pengunjung. Namun, beberapa tempat makan di area Kukusan Teknik yang pernah saya kunjungi memiliki dapur yang tidak tertutup atau diberi sekat.

Dapur adalah tempat dimana segala proses pembuatan dan penyajian makanan dilakukan. Dari dapurlah hal-hal yang membuat kita selera atau tidak selera terhadap makanan kita itu berasal. Seringkali letak dan pembatas dapur ini dilupakan di rumah makan. Dengan berbagai alasan, seperti kekurangan lahan, memudahkan untuk mengantarkan makanan dan memudahkan dalam pengawasan rumah makan itu.

Tempat makan yang tidak memiliki partisi penghalang pada dapurnya, tentu memberi kesan yang berbeda bagi setiap pengunjungnya. Tempat makan yang langsung menunjukkan proses pembuatan serta tempat proses pembuatannya bisa memberi kesan tertentu. Jika tempatnya terjaga dan prosesnya juga terjaga tentu memberi kesan baik dan tidak bermasalah untuk memakan makanan dari tempat makan itu. Namun, jika tempat penyajiannya kurang meyakinkan dan pada prosesnya juga terlihat kurang bersih tentu menurunkan nafsu makan dan keinginan kita untuk kembali kesana.

Memang, di tempat makan sulit untuk mendapatkan sesuatu yang ‘higienis’ , walaupun makanan rumah juga belum tentu bersih. Namun, proses pembuatan itu menjadi poin penting untuk penilaian. Jika dari proses penyajiannya saja sudah kurang, bagaimana dengan pandangan orang-orang terhadap makanan itu. Karena dapur adalah awal dari segala proses makan memakan, jadi ada baiknya tempat dari proses pembuatan itu diberi sekat dan tidak terlihat oleh orang banyak. Apalagi di tempat makan dikawasan yang lahannya terbatas sehingga mau tidak mau harus dekat dengan tempat para pengunjung. Minimal diberi sekat agar para pengunjung tidak melihat prosesnya. Ada baiknya kenali kelebihan dan kekurangan posisi dapur, agar tetap bisa menarik pengunjung untuk datang kembali.

Dari dapurlah segala proses makan itu bermula, yang dapat mempengaruhi keinginan seseorang untuk makan🙂


7 Responses to “dapur dan keinginan untuk makan”


  1. October 26, 2011 at 10:59 pm

    Ke-hieginis-an dari sebuah makanan memang sangat dipengaruhi dari kebersihan dapur sebagai tempat pengolahan hingga tempat penyajian makanan. Namun, tidak selamanya proses tersebut mempengaruhi selera makan seseorang apalagi jika orang tersebut tidak tahu jelas mengenai proses-proses tersebut. Biasanya dari proses memasak hingga penyajian, sebagian besar orang hanya menilai suatu makanan dari hasil akhir baik secara visual, bau maupun rasa karena memang hanya itu yang mereka tahu dengan jelas. Jadi, semua pilihan kembali kepada persepsi kita masing-masing; mana yang lebih penting, selera makan yang baik atau ke-hieginis-an dari suatu makanan yang benar-benar harus kita ketahui sebelum makan? Walaupun ada kemungkinan kedua-duannya, tetap saja ada yang lebih dominan dari diri kita masing-masing.

  2. October 29, 2011 at 1:58 am

    Dari tulisan anda di atas seolah-olah anda mengatakan bahwa tempat makan yang memperlihatkan proses memasak selalu tidak membangkitkan selera makan. Mungkin di beberapa tempat makan terjadi hal demikian. Namun yang saya rasakan justru lebih sering sebaliknya. Saya sering tergiur untuk makan karena aroma yang ditimbulkan dari proses memasak, dan dari audio visual proses itu. Misalkan melihat proses penggorengan ayam dan juga mendengar letupan-letupan minyak goreng saat proses itu. Sekedar menambahkan, banyak tempat makan yang justru menjadikan proses memasaknya sebagai daya tarik. Seperti misalnya restoran yang menjual mie tarik dan martabak yang mempertontonkan atraksi koki menarik-narik adonan. Atau tempat menjual roti (eg: breadtalk, breadlife, dll). Mungkin anda perlu mengulas tempat apa saja yang memang perlu disembunyikan prosesnya dan tempat apa saja yang justru perlu ditonjolkan prosesnya dan mengapa demikian.

    • October 30, 2011 at 1:23 am

      saya setuju dengan pendapat ryan bahwa proses memasak dapat dijadikan sebagai daya tarik bagi konsumen. namun tulisan karina juga benar, untuk mengekspos dapur ke konsumen, kebersihan, kerapian dan kegienisan mesti terjamin agar tidak menghilangkan selera makan para calon konsumen,

  3. October 29, 2011 at 8:19 pm

    Pemberian sekat dan letak dapur pada rumah makan selain dipengaruhi faktor penjualan ke konsumen juga dipengaruhi dengan sirkulasi udara serta pembuangan asap. Tulisan Anda memang berfokus pada keinginan seseoran untuk makan, namun ada baiknya jika dilihat dari sudut pandang si pembuat makanan. Apabila proses memasak dilakukan di dapur yang sirkulasi udaranya tak baik, tentunya akan mengganggu proses pembuatan makanan, yang nantinya akan berpengaruh juga pada hasil masakan. Selain itu, mengekspos proses memasak juga merupakan suatu cara memikat konsumen karena manusia umumnya tertarik dengan pertunjukan dan hal ini sekaligus membuat konsumen tahu “asal usul” dari makanan yang disajikan.

  4. October 30, 2011 at 12:04 pm

    sebenarnya tempat makan yang lebih saya perhatikan adalah pada beberapa tempat makan di Kukusan Teknik ini, yang sehari-hari saya kunjungi untuk memenuhi kebutuhan pangan saya. Pada beberapa tempat yang saya datangi, melihat tempat dimana proses pembuatan makanan itu diekspose kadang membuat saya berfikir 2kali untuk makan lagi disana. Hal ini dikarenakan tempat makan itu kurang menjaga kebersihan, kerapian dari dapur mereka. Ada baiknya jika mereka memang bertujuan untuk mengekspose prosesnya, mereka menjaga kebersihan dan kerapihannya.

    Saya juga sebenarnya sangat tertarik dengan proses pembuatan dari makanan yang akan dimakan, melihat atraksi dari si koki🙂

  5. 6 joejoesensei
    November 1, 2011 at 7:34 pm

    Menurut saya, pernyataan mengenai dapur ini pada akhirnya berujung kepada penilaian subjektifitas seseorang. Apabila anda memakai tempat makan di kutek sebagai sampelnya, terkadang jenis makanan, gender, selera dan kepribadian seseorang berpengaruh kepada bagaimana sebuah tempat makan berandil besar dalam urusan selera makan pengunjungnya. Misalnya, beberapa tempat makan yang menjual ayam bakar atau ayam goreng yang terbuka dapat menjadi siratan bahwa makanan yang ia jual bersih dan menambah selera. Hal ini juga disetujui oleh beberapa pengunjungnya. Dalam contoh lainnya, beberapa rumah makan seperti warteg atau rumah makan lainnya yang tertutup mempunyai efek yang berbeda pada pengunjung yang berbeda. Di rumah makan lain, beberapa pengunjung khususnya wanita menyukai ini karena terlihat bersih, namun beberapa malah jadi meragukan kebersihan si makanan itu sendiri dan berujung kepada menurunnya nafsu makan. Orang yang menyukai makanan warteg bisa saja tidak mengindahi rumor kalo penjualnya memasaknya dengan tingkat kebersihan minim sementara untuk orang yang kurang menyukai makanan warteg rumor seperti ini bisa menurunkan selera makan. Pada akhirnya masalah dapur ini sangatlah subjektif.

    -Annisa-

    • 7 meirisyananda
      November 1, 2011 at 9:34 pm

      saya setuju dengan juju, memang semua itu akhirnya akan berujung kepada penilaian subjektivitas, tapi menurut saya itu semua dapat dipengaruhi oleh rasa yang ditimbulkan oleh si makanan, terserah bagaimana itu cara memasaknya ataupun suasana tempat memasaknya. Meskipun bagaimana mekanisme penataan didapur itu, jika makanan yang berasal dari tempat tersebut rasanya sangat enak itu semua dapat tertutupi, apa sih yang tidak dilakukan oleh seseorang demi memuaskan perut dan lidahnya. Misalkan saja mie aceh yang dapurnya terbuka dan cara memasaknya amburadul tidak beraturan, terkadang semakin ramainya pembeli, si penjual tidak memperdulikan lagi kehigienisan dapur masak mereka, dan itu terbukti pada salah satu restauran mie aceh yang terletak di jalan margonda depok🙂, karena makanan yang dihasilkan rasanya enak sekali, kehigienisan dan hawa panas yang ditimbulkan dari dapur tersebut dapat terabaikan. Semua itu menurut saya juga kembali kepada budaya bahwa ada yang beranggapan bahwa cara memasak yang seperti itulah yang profesional, sedangkan yang rapih rasanya seperti tidak ada tastenya, kurang lihailah, kurang feelnyalah, dan sebagainya.

      Di kutek juga ada banyak tempat yang tidak melihat kehigienisan dari dapurnya sendiri, misalnya saja memotong mentimun tanpa mencuci tangan dan mencuci mentimun tersebut terlebih dahulu itu, namun hal tersebut seringkali tidak mengubah hasrat kita untuk tetap makan di tempat makan itu. Karena lagi-lagi alasannya adalah masalah rasa yang tidak dapat ditawar. Kemudian contoh lain adalah terlihatnya si penjual sedang memecahkan es batangan (yang biasanya digunakan untuk mendinginkan ikan) dengan menggunakan golok besi yang tidak higienis atau dicolok-colok dengan sebatang besi agak karatan yang ujungnya tajam. Namun kita tetap tidak mengindahkan itu, tetap saja kita mengkonsumsinya.

      Terkadang saya juga lebih memilih makan di emperan jalan selain karena haraganya lebih murah (ini alasan satu lagi kenapa orang akan kembali ke dapur yang tampak tidak higienis itu), juga karena masalah rasa makanannya yang belum ada yang bisa menandingi tempat makan tersebut padahal saya tahu bahwa dapurnya sendiri tidak higienis akibat (pasti ada sedikit atau tidaknya) debu-debu yang berterbangan di jalanan dan itu memang faktanya😀..yahh lagi-lagi hal tersebut dikaitkan dengan ‘orang Indonesia’ yang katanya sangat kuat sekali akan kekebalan tubuhnya. Asalkan semua itu masih dalam batasannya dan tidak mengakibatkan hal yang sangat fatal, yah mungkin tidak apa-apalah🙂


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: