26
Oct
11

Habituation..

Ketika melewati area perumahan yang berada di sebelah rel kereta, atau perumahan kumuh yang halaman depannya adalah sungai dengan tumpukan sampah yang mengeluakan bau yang sangat tidak sedap . Pertyaan yang sama yang selalu muncul di fikiran saya adalah, bagaimana mungkin orang-orang yang berada di area ini bisa menjalani kesaharian mereka tanpa terganggu oleh suara kereta yang selalu mondar-mandir disebelah rumahnya, atau bagaimana mereka bisa tahan dengan bau menyegat sampah yang harus mereka hirup selama 24 jam. Bagaimana mereka bisa hidup tenang tanpa merasa terganggu oleh keadaan sekitar.

Selain alasan bahwa mereka tidak memiliki tempat lain untuk tinggal dan dengan fakta bahwa area-area tersebut di atas merupakan area dengan sewa atau harga tanah termurah yang mampu mereka miliki. Ternyata fenomena kesaharian ini memiliki penjelasan secara ilmiah.

Dalam istilah psikologi, terdapat istilah stimulus (ransangan) dan respon (tanggapan terhadap rangsangan). Hal ini lah yang terus menerus terjadi dalam kesaharian manusia, yaitu memberi tanggapan pada setiap stimulus yang diberikan oleh lingkungan. Yang kemudian akan menghasilkan suatu wujud perilaku.

Sebagai penjelasan dari kedua contoh fenomena di atas, dari segi psikologi, hal ini disebut sebagai ‘habituation’ atau pembiasaan, yang menekankan gagasan bahwa ‘receptors’ (penerima stimulus)  yang ada dalam tubuh manusia ‘fire less’ secara bertahap jika dihadapkan dengan stimulus yang sama secara berulang. Artinya si reseptor tersebut semakin lama akan semakin tidak peka (kebal) terhadap ransangan yang diberikan. Dalam kasus di atas, reseptor berupa telinga ataupun hidung dari orang-orang yang berada di area tersebut telah kebal terhadap suara berisik dari kereta, maupun bau dari sampah yang menyengat.

Dari sisi kognitif menjelaskan bahwa presentasi berulang dari stimulus yang sama akan memperoleh perhatian lebih sedikit dibanding saat stimulus tersebut pertama kali diterima oleh reseptor. Penjelasannya adalah, ketika pertama kali saya berkunjung ke area pemukiman di dekat rel ataupun di bantaran kali, saya akan merasakan suara kereta api sangat mengganggu dan akan memberikan tanggapan berlebihan. Namun, bagi orang-orang yang menetap di sini, setelah mengetahui bahwa suara itu hanya suara kereta yang tidak akan memberikan ancaman apapun bagi mereka, maka mereka tidak akan memberi perhatian lebih lagi terhadap ransangannya, begitu juga yang di bantaran kali.

Dilihat dari penjelasan di atas, proses pembiasaan atau adaptasi ini menjadi menakjubkan karena bisa membuat manusia mampu bertahan hidup dalam kondisi apapun, namun yang menjadi hal negatifnya adalah, ketika yang dibiasakan itu adalah kebiasaan buruk, seperti respon terhadap orang yang membuang sampah sembarangan. Awalnya kita memberi tanggapan negative tehadap perbuatan tersebut, namun lama-kelamaan kita menjadi kebal dan cenderung membiarkan perbuatan tersebut.
jadi???


3 Responses to “Habituation..”


  1. October 27, 2011 at 1:09 am

    saya pikir hal ini juga berkaitan dengan harapan dan keputus-asaan.ketika masih terbersit harapan untuk sesuatu yang lebih baik, maka seseorang itu sebenarnya merasa tidak nyaman dengan kondisi yang ada karna dalam angannya tercipta sesuatu yang lebih baik. analogikan ke sebuah kondisi sbb:
    ketika di kehidupanmu yang sekarang hanya ada kopi pahit. sementara pada usia 15 tahun kamu pernah mencicipi sepotong cokelat yang manis-atau jika mau yang lebih miris lagi-kamu hanya pernah melihat orang yang memakan coklat dan kemudian kamu mendengar mereka menyebutnya sebagai manis.
    pengetahuan ini akan menimbulkan harapan kepadamu untuk ingin tahu bagaimana rasa manis itu, maka secara tidak sadar kamu sebenarnya tidak menerima keadaanmu sekarang (tentang rasa pahit yang terus-menerus).namun ketika harapan itu tidak ada-kamu merasa tidak akan mungkin pernah merasakan manis, maka ‘image’ rasa manis yang ada di pikiranmu secara perlahan akan hilang, sehingga muncullah ‘terbiasa’ dan nyaman dengan rasa pahit. karna sesuatu yang menjadi perbandingan sudah tidak ada lagi.

  2. October 28, 2011 at 8:57 pm

    iya, memang, namun pembahasan saya di atas, lebih kepada kondisi fisik dan psikologi manusia, sementara untuk harapan, seperti yang feni sampaikan, mungkin konteksnya berbeda🙂

    • October 28, 2011 at 9:49 pm

      tentu.saya sebenarnya tergelitik dg pertanyaan di akhir tulisan di atas ‘jadi?’. nah dari komentar di atas, sebenarnya saya ingin menyampaian bahwa pengalaman/pengetahuan yg kita miliki akan mempengaruhi respon kita terhadap suatu habituation.yg mungkin nantinya juga akan mempengaruhi penerimaan fisik terhadap hal tsb. jadi, keragaman pengalaman yg diterima fisik kita menurut saya akan sangat menentukan proses penerimaan secara kejiwaan🙂. pendapat ini hanya brdasarkn pengalaman.


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: