26
Oct
11

TEH

Teh bisa menjadi sebuah bahasan yang menarik jika dikaji dari sudut pandang keluarga saya.
Tugas dan kewajiban saya yang tidak pernah berubah sejak saya duduk di kelas V Sekolah Dasar adalah membuat teh. Tugas yang sepele, akan tetapi tugas ini mengajarkan bagaimana seorang anak dididik dari kecil untuk menghormati kedua orangtua.
Setiap hari, pukul 6 pagi bangun dan merebus air panas untuk membuat teh, menyiapkan dua buah cangkir untuk mama dan abi. Cangkir yang paling besar untuk abi, dan cangkir yang lebih kecil untuk mama.
Setelah membuat teh, saya akan meletakkan kedua teh di atas nampan dan disediakan di atas meja makan. Mama menyediakan makan sarapan untuk abi dan akan meletakkannya di atas meja makan juga. Akan tetapi mama tidak akan meminum teh yang saya buat tersebut, sebelum abi meminumnya. Abi meminum teh tersebut saat sarapan, kemudian berangkat ke kantor.
Pukul 5 sore saya akan melakukan hal yang sama, membuat teh dan menyediakannya di atas meja makan, dengan menyiapkan pisang goreng atau samosa (sejenis martabak). Mama, saya, juga kedua adik tidak akan memakan atau meminum teh sebelum abi datang dari kantor dan memakan serta meminumnya lebih dahulu.
Ketika ada tamu pun, tugas membuat teh masih menjadi tanggung jawab saya. Jika yang datang adalah tamu dari keluarga besar, maka pihak laki-laki akan dipersilakan untuk duduk di ruang tamu. Sedangkan pihak perempuan akan dipersilakan duduk di ruang keluarga terpisah dengan pihak laki-laki. Saya akan mengantarkan teh yang sudah dibuat ke ruang keluarga. Akan tetapi, saya hanya akan membawa teh yang disediakan untuk pihak laki-laki di ruang keluarga juga, sampai akhirnya adik laki-laki lah yang akan membawa nya ke ruang tamu.
Dari perbedaan ukuran gelas, hingga waktu kapan meminum teh atau memakan santapan sore, dapat dilihat bahwa keluarga saya mencoba menghormati posisi abi di keluarga. Yang merupakan kepala keluarga.
Sedangkan dari penyajian teh itu sendiri kepada tamu, selain saya diajarkan untuk bagaimana menghormati dan melayani orang lain, secara tidak langsung orang tua saya juga memberikan batasan tertentu yang dilakukan mereka untuk menjaga saya. Hal ini dapat dikaji dari mengapa saya hanya mengantar teh tersebut ke ruang keluarga, dan tidak menuju ruang tamu. Yang memang dimaksudkan untuk membatasi seorang anak perempuan agar tidak masuk “area” laki-laki. Dan di sini hanya adik laki-laki lah yang memang dikatakan paling “pantas” menyediakan teh untuk tamu dan juga bisa masuk ke area tersebut. Bukan mama atau abi yang adalah orangtua di keluarga saya.
Dari penyajian teh tersebut juga dapat dikatakan bahwa dalam lingkungan keluarga saya, ada sistem yang terbentuk dari adanya pendapat tentang keharusan (bagaimana yang seharusnya). Sistem tersebut pada akhirnya akan membentuk sebuah kebiasaan, yang akan mempengaruhi perilaku anggota keluarga satu terhadap anggota lainnya, bahkan dengan orang lain yang bukan merupakan anggota keluarga.


4 Responses to “TEH”


  1. October 27, 2011 at 1:24 am

    wah,beda dengan kondisi keluarga saya.
    1.di rumah, jika ada tamu maka posisi duduk biasanya ditentukan dari suasana yang sedang berlangsung.jika ayah sedang santai-santai di teras,tamu datang maka biasanya obrolan berlangsung disana.demikian juga dengan ruang tamu.
    2.mengantar minuman.yg akan terus dan selalu menjamu tamu adalah saya baik itu tamu laki-laki atau perempuan.tidak akan pernah terjadi abang atau adik laki-laki saya yang menjamu.karena norma yg berlaku di keluarga saya,selagi ada ‘anak gadih’ (remaja perempuan),maka dialah yang bertugas terhadap hal-hal semacam itu.
    3.jika ada makanan,maka saya boleh-boleh saja memakannya sekalipun ayah saya belum pulang kerja.asalkan ‘jatah’ untuk sang ayah tidak disentuh-sentuh😀

  2. October 31, 2011 at 12:11 am

    beda juga sama saya😀
    1.Kalau ada tamu ayah dan kami sedang berkumpul di ruang tamu, biasanya kami yang perempuan (keluarga saya semua perempuan kecuali ayah) langsung pindah posisi kedalam ke ruang TV atau ke kamar, karena ruang tamu adalah daerah teritori ayah.
    2.Mengantar minuman.nasib sebagai anak paling kecil membuat saya harus mengantar minuman karena dulu kakak-kakak saya juga melakukannya ketika adiknya belum lahir.
    3.Peruntukan cangkir/gelas.memang kecenderungan ayah saya untuk menggunakan cangkir yang besar saat minum namun tidak dikhususkan untuk ayah. Biasanya yang dikhususkan itu material. karena minuman ayah saya beragam: kopi menggunakan gelas cukup besar (bahannya seperti plastik, tapi saya tidak tahu persisnya apa), jamu menggunakan gelas yang sama terus menerus dari kaca agar bekas jamu tidak berbekas di gelas lain, air putih menggunakan gelas kaca besar agar minum air putihnya puas😀.
    4.Sama seperti feni, kalau ada makanan dan tidak ada ayah, saya, ibu dan yang lain boleh saja memakannya. Tapi kalau makannya bareng-bareng, dan makanannya baru dibuka, pasti disuguhkan untuk ayah dan ibu dulu😀

  3. November 2, 2011 at 4:19 pm

    Setiap keluarga memang memiliki kebiasaan nya masing2 yang memang unik. Kadang-kadang kita gak sadar kalau ada hal kecil yang ternyata menjadi berarti dalam keluarga kita.
    Tapi saya maw tanya, pertama kali munncul kebiasaan bwt teh itu disuruh, inisiatif sendiri atau bagaimana? Terus kebiasaan-kebiasaan yang muncul terutama sewaktu ada tamu datang, trus minum cuma diantar sampai ruang keluarga itu diberi tahu oleh ibu nya atau ada perasaan gak nyaman untuk mengintervensi ruang tamu yang datang dari diri sendiri?
    Soalnya saya penasaran apakah kebiasaan teh ini yang menjadi perantara orangtua untuk mendidik secara tidak langsung atau hasil didikan tradisi keluarga yang diterapkan dalam bentuk teh tersebut

    Kalau di rumah saya sendiri, sebenarnya lebih jarang ada rutinitas seperti itu, rumah saya sendiri termasuk rumah yang jarang didatangi oleh tamu, dan kalaupun ada tamu biasanya masuk semua di area ruang tamu yang sekaligus ruang keluarga, biasanya sih anak2 (saya dan kakak-kakak saya) pada langsung “kabur” semua ke dalam kamar, karena memang kalau ada tamu seperti keluarga biasanya cuma orang dewasa semua, kalaupun ada anak-anak pasti diajak ke kamar saya atau kakak saya,
    Namun, karena saya anak perempuan satu-satunya, biasanya saya yang mengambil dan mengantar minuman ke tamu-tamu (sebelum kabur tersebut) hehe. Biasanya sh hal ini karena kebiasaan dan ada perasaan tidak nyaman jika ibu saya sendiri yang melakukan hal itu, Entah sejak kapan, ini sudah menjadi kebiasaan saya, dan mungkin ini karena sebuah didikan dari orang tua tentang kewajiban saya sebagai anak perempuan satu-satunya. Mungkin ini yang saya maksudkan dengan tradisi keluarga yang telah ditanamkan dalam diri saya yang diterapkan dalam kebiasaah sehari-hari.

  4. November 3, 2011 at 9:54 am

    kebiasaan membuat teh itu sendiri pada awalnya sebenarnya muncul karena disuruh oleh orangtua. yang pada akhirnya menjadi kebiasaan karena dilakukan setiap hari.
    mungkin perbedaannya antara saya dan anda adalah, jika anda memang segan untuk mengantarkan teh ke ruang tamu, dan dampaknya adalah perilaku anda yang agak “malu-malu” dan keinginan secepat mungkin untuk keluar dari ruang tamu, yang menurut anda bukan zona anda.
    jika saya karena memang diharuskan tidak boleh masuk ruang tamu tersebut oleh kedua orangtua saya. dan hasil dari keharusan yang diberlakukan tersebut kepada saya lah yang berdampak pada rasa segan untuk masuk zona tersebut. saya akan menganggap zona itu bukan area yang pantas saya masuki.

    namun memang, tradisi keluarga seperti yang anda katakan juga bisa tertanam dan berubah menjadi pola kebiasaan di tiap keluarga. pola tersebut berbeda dan tiap pola bisa di “describe” lebih lanjut alasan dan dampaknya terhadap kita sendiri.


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: