28
Oct
11

(melihat kesempatan) lain

Terlintas teringat dengan pengalaman ekskursi kemarin, kami tinggal disebuah rumah konvensional yang berada di lingkungan kompleks. Menarik karena tempat kami tinggal bertetanggaan dengan sebuah makam, mungkin karena keluarga yang ditinggali merasa ingin selalu dekat dengan yang berlalu, maka mereka memakamkannya disitu.

Sedikit pendiskripsian tentang makam tersebut, makam itu memiliki permukaan yang setinggi dengkul yang membentuk sudut nyaman untuk dipakai duduk diatasnya. Dilapisi dengan ceramic yang merupakan material adem dan terlihat mewah karena kebanyakan lantai rumah disana hanya dilapisi semen kadang bahkan hanya tanah sekalipun. Ditambah naungan diatasnya yang membuat kuburan ini dari jauh terlihat seperti gazebo. Beberapa hari tinggal bersebelahan dengan sebuah makam, hadir pandangan lain mengenai objek tersebut.

07.00 – 09.00

Pagi hari ada sepasang anjing kampung yang sudah duduk berbaring menempel dengan dinding kuburan, tidur nyaman menghindari silau matahari pagi dibawah teduhan makam, memanfaatkan bayangannya.

10.00 – 12.00

Siang hari dipenuhi anak-anak remaja sebagai tempat berkumpul dan bermain gitar, karena keberadaanya yang sangat dekat dilingkungan perumahan bahkan sangat dekat ke jalan dan rumah-rumah sekitar. Untuk mengusir kebosanan mereka bermain kartu diatas makam dengan duduk sila lalu diletakkan satu bungkus kacang ditengah kumpulan untuk menemani permainan.

13.00 – 15.00

Makam tersebut sudah sepi namun sudah ada beberapa titipan jemuran baju dari ibu rumah depan yang tergantung menggunakan gantungan baju memanfaatkan penyangga atap makam, cukup pintar karena digantung berhadapan dengan sinar matahari hal ini menjawab bahwa memang majikan baju itu biasa menitipkan jemuran kepada penghuni makam.

16..00 – 18.00

Sore hari terlihat kumpulan anak kecil dengan basah bajunya karena keringat yang mengucur sehabis pulang bermain bola di lapangan, ternyata sebelum pulang ke rumah mereka menyempatkan untuk beristirahat sejenak disitu karena ada naungan sehingga menutupi mereka dari sinar matahari, karena letaknya yang hanya bersebrangan dari warung, terlihat beberapa kawanan mereka yang berleha-leha disitu sambil mengemut es plastik.

20.00 – 06.00

Malam hari makam tersebut sudah dipasangkan lilin yang diletakkan dalam gelas persis dekat batu nisannya untuk mengenang keluarga tersebut juga diberikan kolase bunga untuk memberikan kesan harum, artinya waktu sebelumnya sudah ada salah satu keluarganya yang datang untuk menyalakan lilin tersebut dan merapihkan kolase bunga.

Dalam keseharian ternyata masyarakat sekitar merasa memiliki makam tersebut dan secara sadar atau tidak ada kemungkinan yang berbeda tentang bagaimana kita mem-persepsi-kan kegunaan ruang yang ada disekitar kita. Penggunaan makam tadi, orang yang berada disekitarnya melihat kesempatan lain yang bisa digunakan selain sebagai rumah bagi dia yang sudah berlalu.

Apakah kemungkinan itu bakal terjadi dalam susunan cerita ini kalau makam itu tidak terletak berhadapan dengan jalan kampung? atau kalau makam itu tidak berada di depan warung? atau kalau makam itu tidak memliki atapan yang meneduhi? apakah objek tersebut menawarkankan kemungkinan lain karena objek itu sendiri? atau karena komponen (warung, jalan) yang berada disekitarnya?


1 Response to “(melihat kesempatan) lain”


  1. November 2, 2011 at 10:09 am

    Saya setuju dengan saudara azriansyah, perilaku tersebut dapat tercipta karena peletakan makam dan juga fisiknya yang mendukung dengan adanya naungan dan ketinggian. Lain dari hal itu, muncul persepsi saya bahwa pandangan orang akan makam di sana tidak se ‘horor’ orang memandang makam di Jakarta, atau apakah makna makam bagi mereka? apa makna makam bagi kita? apakah anda menganggap makam sebagai tempat sakral? atau itu hanya persepsi yang ‘ikut-ikutan’ tanpa berdasar? Di sini orang pergi ke makam hanya untuk event tertentu saja seperti lebaran. sedangkan di sana makam menjadi keseharian mereka karena menyatu dengan ‘place’ mereka berada. Hal ini kalau kita pikir sekali lagi, sebenarnya menjadi solusi untuk penghematan space kota, bayangkan apabila makam keluarga ditempatkan di halaman rumah masing-masing. tidak perlu lagi lahan khusus di kota untuk pemakaman umum! berapa banyak tempat tinggal rakyat yang bisa dibangun?! Selain kita lebih bisa mengontrolnya karena ditangani sendiri, bisa saja seperti di Alor, makam tersebut menggantikan kegunaan space lain, mungkin ternyata kita tidak memerlukan gazebo lagi, sudah tergantikan dengan keberadaan makam. Atau jangan-jangan arwah nenek kita justru senang, makamnya tidak sepi, selalu ditemani dengan canda tawa keluarga yang menghabiskan waktu, di atas makamnya😀 apakah makam bisa dilihat dari sisi lain lagi?


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: