28
Oct
11

modern vs tradisional

Modern telah merubah gaya hidup manusia saat ini, dimana teknologi telah menjadi konsumsi sehari-hari bagi kita. Di kota-kota besar, gambaran masyarakat yang terlihat adalah masyarakat-masyarakat yang konsumtif.  Contoh kecil yang bisa kita lihat adalah penggunaan handphone.

Dahulu, handphone merupakan barang lux yang dianggap sebagai kebutuhan sekunder maupun tersier yang hanya bisa dinikmati oleh kalangan menengah atas saja, namun kini siapaun telah memiliki barang tersebut, tua, muda, kaya, miskin, anak-anak maupun dewasa. Bahkan saya pernah melihat anak-anak pengamen jalanan membawa-bawa handphone di tangannya. Kini handphone sudah menjadi kebutuhan primer seseorang. Setiap orang yang saya kenal dan pernah saya temui pasti memiliki benda tersebut. Karena saking pentingnya barang itu, tak jarang saya mendengar kata-kata teman-teman saya jika pergi ke suatu tempat nun jauh disana, dimana tempat tersebut tak terjamah oleh sinyal handphone “aduuuh, gk ada sinyal hp berasa gk hidup” . Hal ini merupakan gambaran dari masyarakat modern yang tidak lagi memandang ruang, waktu , sosial maupun budaya. Asalkan ada uang semua bisa mendapatkannya.

Namun, kehidupan seperti ini tidak dirasakan oleh masyarakat suku Baduy Dalam yang berada di pedalaman Banten. Mereka mengetahui bahwa diluar sana ada kehidupan modern seperti itu, namun mereka masih tetap hidup dengan mempertahankan budaya aslinya dengan tidak menerima kebudayaan luar. Mereka masih tetap hidup tanpa teknologi. Mengenakan pakaian yang tidak dijahit, tidak mengenakan sandal ketika bepergian, bahkan dalam membangun rumah mereka tidak menggunakan paku sebagai penyambung kayu.

Lain halnya dengan suku Baduy Luar yang sudah agak lebih longgar terhadap dunia luar, kehidupan mereka sebagian telah mendapat pengaruh modern. Sebagian dari mereka sudah mengenal teknologi. Salah seorang dari suku Baduy Luar yang saya kenal, yaitu Kang Musung bahkan sudah menggunakan handphone sebagai media komunikasinya dengan dunia luar. Kelonggaran inilah yang pada akhirnya membuat pengaruh kehidupan modern dapat masuk ke dalam budaya suku Baduy Luar hingga merubah gaya hidup mereka.

Apa yang terjadi pada keseharian suku Baduy Dalam merupakan sebuah tradisi yang telah turun temurun mereka jalani sehingga telah menjadi suatu kebiasaan bagi mereka. Budaya asli yang mereka pegang dengan kuat membuat pengaruh modern sulit untuk menembus kehidupan mereka. Hal itu pulalah yang membentuk kepribadian mereka hingga saat ini.

Mereka dapat bertahan hidup tanpa adanya teknologi, bagaimanakah dengan kita? Apakah kita bisa meninggalkan suatu hal yang sudah menjadi kebiasaan bagi diri kita?


3 Responses to “modern vs tradisional”


  1. November 2, 2011 at 7:18 pm

    Saya pribadi memang akan sulit meninggalkan kebiasaan pribadi saya. Apalagi kebiasaan itu merupakan kebutuhan..
    Saya tidak memahami alasan mengapa baduy dalam tetap berada dalam ke-tradisional-annya, sedangkan baduy luar sedikit berbeda ingin mencoba ke-modern-an. Namun yang saya lihat walaupun baduy luar sudah terpengaruh oleh ‘modern’ (jika handphone mewakili sebuah ke-modern-an dalam hal ini) tapi baduy luar ini tetap tradisional dan menjaga tradisi mereka seperti setiap gadis atau ibu-ibu di pagi hari menenun,…. mmmm, sebenarnya saya masih bingung sejauh apa kita harus memaknai tradisional dan modern😀

  2. November 2, 2011 at 11:12 pm

    satu hal yang saya yakini, kita tidak bisa melawan arus globalisasi. kita tidak bisa mengisolasi diri jika memang ingin berubah dinamis, berubah ke arah yang lebih baik. yang kita butuhkan adalah berbuat bijak, menentukan hal-hal yang dapat memberikan dampak baik.hingga karakteristik itu tidak hilang. setuju dengan pernyataan gina, sejujurnya saya tidak paham betul apa alasan mengapa baduy dalam mengisolasi diri dari dunia luar, dik novi.

  3. November 2, 2011 at 11:15 pm

    Sebenarnya handphone disini lebih merupakan salah satu contoh produk yang lahir di era kemoderenan. Memang bukan berarti budaya baduy luar telah berubah sepenuhnya, ada hal-hal yang tetap mereka jaga dan tidak terpengaruh oleh kemajuan jaman yang terjadi sekarang ini. Kalau menurut saya, alat tenun yang digunakan oleh suku baduy luar justru mungkin merupakan hasil pengaruh dari budaya luar, karena hampir semua jenis alat tenun memiliki prinsip kerja yang sama. Terdapat unsur teknologi di dalamnya. Artinya, Baduy Luar bisa dikatakan lebih maju dibandingkan Baduy Dalam, karena pada Baduy Dalam alat tenun justru tdak ada.
    Memang agak sulit jika menyimpulkan devinisi modern dan tradisional jika dilihat dalam konteks yang lebih luas. Karena akan ada hal-hal yang tadinya dikatanan modern pada zamannya justru dimasa mendatang hal tersebut dikatakan telah tertinggal atau mungkin dianggap tradisional.
    Alat tenun juga bisa dijadikan sebuah contoh. Jika melihat di zaman ketika manusia belum mengenal teknologi, alat tenun bisa dibilang sesuatu benda yang modern, namun sekarang jika dibandingkan dengan peralatan untuk membuat kain yang ada, alat tenun dianggap telah tertinggal, sering kita beranggapan bahwa alat tenun merupakan alat tradisional.


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: